 |
| Sumber Gambar; Internet |
Sekan yang sebelumnya merupakan sekan untuk menyalakan api, tetapi sekan yang ini untuk gelang di tangan. Kebetulan ke dua benda ini sama yahkni bernama sekan.
Sekan "gelang tangan" biasanya di pakai di tangan yang mana berbedah ukuran "diameter" yang akan di gunakan oleh pemakai, pada umumnya dikenal dengan nama gelang yang terbuat dari "Rotan pipi/Anggrek air) di Lembah Baliem Papua Suku Dani, sudah lama menggunakannya dan melekat akan melekat selama manusia hidup, smogah masih akan ada jika tidak tertelan oleh kemajuan teknologi dan zaman "Invasi oleh perubahan dan kemajuan zaman",. Karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi selain "tempat tumbuh, cara mengambil, proses tahap 1 dan tahap 2, serta siap gunakan" dan beberapa faktor kemungkinan akan kepunahan akibat "pembangunan jalan, perumahan, imigran, teknologi, gayah hidup, dan regenerasi"
A. Tikil/Resam (Dicranopteris linearis)
1. Jenis Tanaman
Tanaman yang biasanya di gunakan sekan adalah jenis tanaman paku-pakuan, kalau suku Dani di Lemba Baliem menyebut tanaman ini
Tikil, tanaman Tikil atau jenis tumbuhan paku-pakuan lebih dari 125 jenis yang merupakan tumbuh sekitar
2.000-3.000. Meter Di Atas Permukaan Laut (mdpl) pada hujan tropis yang tinggi, Resam (
Dicranopteris linearis) satu dari 125 jenis tumbuhan paku-pakuan yang merupakan tanaman menjalar (
Tigmotropisme) akan tetapi tidak seperti labu siam, markisa dan sejenisnya karena jenis tanaman Tikil tergantung tempat ia tumbuh, jika bertumbuh pada dataran tropis rendah atau non tropis apa lagi ia tumbuh pada ketinggian > 3.000 mdpl. Karena ketinggian di atas tiga ribuh berpengaruh terhadap iklim dan suhu, sehingga jenis tanaman semakin berkurang, bahkan tak ada tumbuhan justru, selain padang gurun, salju, dan bebatuan. Tanaman tikil juga bisa di budidayakan untuk keperluan " (hias) taman kota, dekor, halaman rumah dan sebagainya", karena ia tumbuh namun berukuran pendek dan kecil 30-40 cm. Sedangkan kalau tumbuh di dalam hutan yang lebat "tinggi curah hujan" maka akan panjang sekali hamir 20-40 meter biasanya mencari atau merebut cahaya sambil berdampingan pepohonan. Hanya saja tanaman tikil tidak bersulur (benang halus yang biasanya tumbuh pada batang tanaman menjalar) dari batang, melainkan pucuk atau tunas muda seperti tanaman pakis yang tidak membutuhkan untuk membelit pada benda atau objek lain. Cara berkembang biak dengan bertunas, karena tanaman tikil mempunya batang akar utama dalam tanah "
stolon akar" yang akan menumbuhkan tunas. Tanaman tikil ada dua jenis yahkni berwarna hitam dan puti kekuningan, kelihatan dari warna batang yang mudah dan tua "hitam sekali".
2 Cara panen
Sekali pun tanaman ini tumbuh liar, namun ada cara dan persiapan tertentu di antaranya tenaga dan pisau atau golok,. Karena tanaman sebelumnya sudah tumbuh, berjalar sesukanya (tak seperti bambu), bisa hampir 20-40 m. Tumbu berdampingan bahkan batangnya membelit dengan tanaman lainya, sesuai ia tumbu. Tanaman tikil yang berbatang berongga ini dan batang berruas, dalam ruasnya menyimpan isi tikil yang akan membuat gelang, terbungkus dengan daging tali posisi terapit antara batang dan isinya berwarna putih. Batang dan isinya berserat mempermudah saat mengambi. Cara ambilnya mudah sekali; Potong bagiang bawa menggunakan pisau/golok, tarik ujungnya, saat menarik biasanya rumit, karena dari setiap penanda sekitar 60-80 cm, dan bekas Tumbu daun dan si tulang daunnya yang biasanya suka atau saling ikat sama ranting dan dedaunan yang lain, sehingga gunakan tenaga untuk menarik sampai ujung, pastikan tak ada yang patah. Jika sudah sambil bereskan tulang daun dari batangnya dan di belah batangnya menggunakan tangan dan mengambil isinya, kalau sudah semua pastikan tidak ada yang tersisah kemudian menggulung serta bawa pulang.
3. Persiapan sebelum anyam
Selanjutnya setelah bawa dari hutan, jemurkan pada panas matahari beberapa hari, jika sudah dibelah-belah (tipis) sesuai ukuran yang diinginkan, pastikan sama ukurannya jika tak sama, samakan menggunakan pisau atau batu tajam sambil rapihkan agar teksturnya lembut "pengganti amplas). Jika sudah gulung kembali dan simpan dalam keadaan terbungkus dan simpan pada tempat yang kering tanpa lembab dan panas yang berlebihan. Jika hendak anyam bisa kapan saja.
4. Anyaman menjadi gelang
Alat yang digunakan saat menganyam adalah jarum, kalau dulunya Suku Dani menggunakan jarum organik, yahkni; tulang hewan yang di tajamkan mau pun kayu kering yang sudah ditajamkan pula. Skarang mulai menggunakan jarum besi seperti almunium (jarum jahit dan sejenisnya),
Menggunakan jarum akan menjahit seperti tenun Nusa Tenggara Timur satu persatu awalnya memulai dengan tiga sampai sesuai kebutuhan, tali berbentuk lingkaran dan saling lilit silang satu sama lain satu sampai tiga kali, kalau sudah sampai awal lagi, sekarang menggunakan jarum (jika semakin menyempit) gunakan jarum untuk memberi lubang/cela menusuk bagian selah setiap baris secara bertahap, jika menggunakan dua warna (hitam dan putih), maka bahan yang digunakan jiq-jag atau selang-seling kedua warna tersebut secara horizontal (ke arah anyam) dan jika sudah terannyam akan berbentuk vertikal ketinggian dari gelang yang sudah terannyam.
Semakin padat anyaman semakin kuat tanpa "melebar,meninggi atau pun menambah diameternya), karena anyaman mengikuti polah sebelumnya. Dan sikan atau gelang siap di gunakan.
B. Faktor Kemungkinan Kepunahan
1. Pembangunan jalan/buka lahan
Pembangunan sih tak salah, cuman apa kah sebelum melakukan pembangunan (jalan trans Papua) mau pun buka lahan untuk pertanian (kelapa sawit), kemudian perlahan menjadi industri. Secara tidak langsung fungsi hutan perlahan peralihan fungsi Yang lain. Karena tikil merupakan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), selama pepohonan masih ada tikil akan ada dan terus bertahan, namun jika buka jalan di tengah hutan penebangan pun akan bersamaan dengan tikil sebagai HHBK yang punya nilai dalam kebudayaan yang sudah melekat sejak dulu.
Kawasan Hutan Negara it's namun Papua terkenal hutan adat, pemerintah berdalil atas nama izin ke kepala suku atau perwakilan, harusnya Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL), dulu bukan izin dulu. Dalam hal ini nilai budaya diluncurkan oleh kebijakan pemimpin adat mau pun negara sendiri.
2. Imigrasi
Kalau sudah buka lahan menjadi jalan raya, yang melalui atau keluar masuk jalan raya siapa? Yang pasti imigran. Dampak dari imigran ke nilai budaya apa? Masyarakat adat yang sudah bergantung dengan alam/hutan, sekarang hutan di jadikan perumahan, jalan, industri "yang lebih berbahaya" mengakibatkan masyarakat harus hidup seperti imigran segalah sesuatu bernilai uang, pada hal sebelumnya gratis mengambil di hutan. Bahkan jumlah imigrang dari Tahun ke Tahun meningkat, berbanding lurus dengan angka kematian pribumi semakin meningkat pula perlahan oap serba susah di atas tanah sendiri.
3. Teknologi dan Perubahan zaman
Adanya imigran berjualan gelang plastik, lalu masyarakat apa lagi anak mudah yang baru lahir, mereka berpikir gelang plastik yang keren dari pada ribet masuk lagi dalam hutan semakin dalam mencari rotan jenis tikil ini, lebih baik belih yang karet, perlahan nilai budaya ini menjadi punah, bahkan orang tua mulai menggunakan benang menggantikan sikan.
4. Regenerasi
Manusia yang hidup turun-temurun (regenerasi) di mana pun selama masih hidup dan budaya akan hidup berdampingan, dan budaya itu akan mengalir seperti air dari hulu ke hilir, ",dari leluhur sampai ke cucu-cicitnya". Sementara tempat (sumber) pendukung HHBK terus di garap, imigran mengajarkan hidup seperti mereka kecuali belajar gayah hidup pendatang tanpa melupakan polah hidup sebelumnya "asimilasi", yang menjadi masalah justru sebaliknya. Mana ada orang lain yang mau perduli dengan budaya orang lain selain ekploitasi dan menginvasi dari berbagai segi "ekonomi, politik dak khususnya sosial budaya" serta perlahan memusnakan cecara tidak langsung.
Teknologi dan informasi zaman sekarang, kalau penggunaanya tanpa ilmu yah justru generasi sekarang menjadi diperbudak oleh digital seperti Handphone yang mereka gunakan untuk pornografi, tik-tok, status serta kenakalan remaja yang mengangkat citra orang dan budaya yang negatif.
Generasi mudah bahkan tinggalkan kampung ke perkotaan karena melalui hp serba instan dan berbondong-bondong mengikuti gaya dunia barat, tanpa perduli dengan budayanya sendiri, bayangkan orang tua saja tidak menggunakan koteka lagi, tidak menggunakan panah lagi untuk berburu, pakainya senapan angin. Hal ini membuktikan orang tua saja yang bisa menasehati anaknya saja sudah gunakan produk luar bukan lokal, apa lagi anak mudah yang labil pemikirannya.
Bogor, 27 Mei 2020
Post a Comment for "Gelang Papua"