Repacking Your Back

Sampul Buku. Koleksi buku 
di perpustakaan kota Bogor
Semangat yang terus menerus, untuk mengasa.

Beberapa hari yang lalu, gagal paham interaksi dengan sodara jau di Negri Jirand,. Saya pikir panjang hampir seharian tidak ketemu penyebabnya, akhirnya karena iseng saja mampir Ke "Cinta Baca" sehabis "ngampus".

Tulisan yang terpampang di tembok salah satu perpustakaan umum yang ada di kota Bogor, (Cinta Baca) "CERDAS DAN BERBUDI LUHUR", saya mengartikan kalimat/empat kata itu, berarti "generasi yang cinta baca/membaca adalah sesuatu yang wajib oleh setiap kita" menurut saya. Tapi yang menariknya lagi dengan kata "Berbudi Luhur" berarti seperti para leluhur kita "Ir Soekarno, BJ Habibe, Kartini dkk" mereka adalah orang-orang cerdas di zaman mereka, kecerdasan secara emosional maupun intelektual, serta kepemimpinan (Leadership) yang mampu mempengaruhi  dari segi ilmuawan, Palahwan, dan Kepemimpinan di Dunia. Tentu belajar yang keras dan rutin apa lagi masih zaman penjajahan Belanda "disipliner" yang tinggi,. Lingkungan juga faktor yang mempengaruhi perkembangan. Kata "cinta Baca dan Berbudi Luhur" entah dari kapan dan kata siapa, tapi yang pastinya itu kata yang fisioner untuk abad 21, menurut saya. Karena budaya baca sudah mulai krisis semua atau sebagian kita lebih banyak baca di handphone, parahnya lagi kalau tidak membaca lagi bacaan dari buku "secara fisik". Karena dalam buku ada warisan leluhur "warisan pengetahuan".

Akhirnya menemukan buku berkulit "cover" buku yang menarik perhatian dan saya segra hampiri buku itu dan memulai bacah,. Akhirnya menemukan jawaban dalam buku "Repacking Your Bags"  Tulisan (Richard J. Leider & David A, Shapiro).

Ternyata karena gaya komunikasi setiap daerah (komunikasi lintas budaya) itu berbeda, sekalipun sama dalam satu bahasa Nasional/Internasional bisa menafsirkannya berbeda, tergantung daya tangkap dan faktor lingkungan serta logat kedaeraan. "Saya logat Melanesia dan dia logat Melayu".

Dunia petualangan apa lagi para pendaki, tidak asing manajemen isi tas, tentu sesuai kebutuha tidak perlu kekurangan atau kelebihan mungkin boleh,. Tapi sesuatu yang berlebihan "over all" itu tidak baik. Seperti di jelaskan dalam buku (Repacking Your Bags). Bongkar isi tas dan perlu susun sesuai keperluan. 

What...?
Suapaya tidak mengganggu atau menghambat perjalanan gara-gara barang-barang yang tidak perlu, (tidak guna). Saya rasa kalau sudah sadar dalam kondisi tertekan apa lagi dalam zona yang nyaman, tapi sadar akan hal itu perlu ada tindakan kongkritnya, tindakan kongrit adalah tindakan yang serius tidak asal karena tau akan resikonya di sini perlu ketegasan dan tidak toleransi apa pun alasannya. Ternyata hal itu yang buat gagal paham dengan sodara saya ternyata,. Karena merasa nyaman dengan zona sendiri, tanpa sadari dengan siapa dan lingkungan dimana terjadi komunikasi lintas budaya yang sedang berlangsung.

Jadi sama saja, kalo petualang di planet bumi yang kadang kita tidak tau di mana ujungnya (umur akhir). Susuatu yang menghambat perjalanan, sepertinya perlu minimalis toh juga tidak ada yang kekal, semuanya barang fanah kecuali pembahasan secara rohani (beda cerita). Jadi komunikasi lintas budaya perlu, seperti Menez isi tas perjalanan bawa yang perlu, tinggalkan yang tidak perlu. Bahasa dan sifat lokal ditinggal sementara dan perlu sombong dengan gaya bahasa yang lain, biar tidak gagal paham. Berlogat bisa saja,  tapi tidak paham maksud, buat apa ada interaksi?

Terpaksa perbaiki cara pembawaan saat interaksi dengan berbeda budaya, walaupun enak jago di kandang hanya orang tidak bernyali yang bisa bermain di tandang.
🤣🤣🤣

Bogor 03/02/20
#ayomenulis

Post a Comment for "Repacking Your Back"