Bakar Mayat (Etu Nikema)

Tubruk Art. 14 04 23

Pada hakekatnya semua yang hidup akan lenyap termasuk manusia, di negeri ini memang banyak budaya yang masing-masing unik. 

Jadi langsung intinya saja, salah satu budaya Suku Dani, di Lembah Baliem khususnya daerah-daera yang belum campur dengan etnis lain, setiap pribadi yang meninggal atau mayatnya dibakar menggunakan apai. 

Kenapa harus dibakar? Yah namanya juga budaya atau kebiasaan turun-temurun dari leluhur, selain itu ada hal lain juga yang menjadi indikator adalah, suku Dani yang menghuni bagian pegunungan tenga (Jayawijaya) dan sekitarnya, karena kondisi geografis daratannya berada sampai empat ribuan, dan hampir 90% merupakan kawasan hutan tropis, sehingga api atau peranannya menjadi penting untuk memenuhi berbagai kebutuhan, antara lain;

Membakar lahan yang akan digarap; Memasak bahan makanan baik skala besar mau pun skala kecil; Penghangat  tubuh, tanda komunikasi dan masih banyak lagi termasuk membakar mayat. 

Berbagai macam peran api tersebut, dan satu lagi paling penting adalah ketika setiap bayi yang lahir secara tradisional prosesnya, maka bekas lahiran dan pasca lahir dari bayi juga dibakar, maka kenapa kalau sebagian dari daerah pegunungan itu semua aktivitasnya selalu ada hubungan dengan api, karena sejak lahir sudah berhubungan dengan api dari pada yang lain seperti tanah, air atau sungai dan sebagainya, jadi ada dua paham yang paling penting dari peran api itu sendiri, berikut; 

1. Grafika

Api itu seperti grafika, apa itu grafika? Jika yang lahir di rumah sakit mau pun di rumah bahkan secara administrasi data kependudukan, kita semua perlu grafika itu, jadi grafika ini kegiatan yang berhubungan dengan percetakan secara umum, dan khususnya adalah dalam cetak indor menggunakan printer atau mesin ofshet, jadi pertama kita lahir tentu dibuatkan akta lahir, data-data penting lainnya beriringnya waktu juga perlu kertas cetak seperti ijaza, buku nikah, sampai kalau teman-teman beragama Muslim, akhir dari hidup pasti dengan buku yasin yang merupakan bagian dari proses cetak (grafika). Mungkin abad sekarang tidak terlalu perlu, karena serba digital dan bisa jadi grafika akan tidak ada lagi. 

2. Jembatan

Api itu jalan pulang, maksudnya jalan pulang adalah, menurut paham secara adat dan agama (animisme/dinamisme), namun musti kitabsepakat bahwa manusia memang diciptakan dari tanah, maka melalui prosesi bakar tersebut manusia menjadi debu dan kembali ke tanah itu sendiri. Maka peran api sebagai jalan menuju atau mengantarkan ke tanah. 

Tatacara pembakaran mayat berikut;

1. Tanah

Sebelum almarhum/ma akan dibakar, tanah atau tempat yang digunakan untuk bakar digali terlebih dahulu, ukuran tanah digali pada umumnya persegi panjang, namun ukuran panjang dan lebar sesuai ukuran yang ibakar (bahan), sedangkan tingginya maksima 4-5 deck (tingkat) dari atas permukaan tanah yang sudah digali. Kenapa tanah musti digali? Agar sisa bakaran baik kayu, tubuh manusia mau pun bendah lain yang ikut terbakar sisah dari kebakarannya tidak  berhamburan pada permukaan secara datar, melainkan menjadi lebih rendah dari permukaan sekitarnya, hal tersebut juga mengantisipasi kecelakaan karena selama proses tersebut berlangsung, semua yang masih hidup bakal mengantarkan atau menyaksikan pada lokasi pembakaran mayat tersebut. Dan penyusunan atau miniatur juga ada aturannya sendiri, tidak sama dengan bakar-bakar biasa atau untuk bakar batu, nanti jelaskan selanjutnya. 

2. Kayu Bakar

Kayu yang digunakan adalah yang kering, ukuran panjang pendek menyesuaikan. Paling bawah panjang dan semakin keatas sedikit pendek (kerucut). Kayu tersebut ditebang dan dibela-bela menggunakan kampak, jadi dalam bentuk potongan besar dari tempat sebelumnya dan diangkut terlebih dahulu ke lokasi di mana mayat akat dibakar dan dibela-bela lagi. 

3. Miniatur 

Penyusunan miniatur untuk membakar mayat, sedikit berbedah dari miniatur bakar batu (untuk memasak makanan). Miniatur ini lebih tinggi 3-4 deck dan kasih penyangga pada 4 sisi atau penyuru mata angin. Gunanya penyangga tersebut untukencegah bekas bakar tidak berhamburan. 

4. Prosesi Pembakaran 

Jika membakar batu biasanya pematik dari samping atau pinggir, hal ini karena bagian atasnya sudah tertutup batu dan diatas batu ditutup pula pakai daun, hal tersebut guna proses pematangan batu dari atas dan dari bawah. Sedangkan bakar mayat berbedah, caranya pematik dan memasang api justru paling atas, setelah dinyalakan beberapa menit kemudian, api sudah dewasa nyalanya dan memastikan ketika menaru mayat di atasnya api tidak mati. Jika nyala apinya besar, mayat akan dibawa keluar dari dalam rumah (kediaman) digotong oleh semua atau beberapa personil yang terlibat dalam proses tersebut dan mengiring dengan berbagai nada dan nyanyian tangkis sampai almarhum/ma terbakar habis oleh api. Proses pasca pembakaran mayat ini masih ada, namanya wakum (Bahasa Dani) nanti di tulisan lain. 


Bogor 14 April, 2023.


Post a Comment for "Bakar Mayat (Etu Nikema) "