Mountain Tras "Mountain Clean-up Action"
Kata² "sa akan lunas/kerjakan/selesaikan/berekan, tapi tidur dulu", mungkin ini kata² seorang pelarian yang sedang melarikan diri dari kenyataan. Tepatnya katakan saja menunda!
Menunda itu baiknya ngopi, dari pada lari ke alkohol, seks, roko dan judi. Dan ini penyakit laki-laki yang memang telah lama retak fondasinya. Bahkan ini terlihat menyenangkan, namun seperti tumpukkan sampah yang menggunung dan akan susah didaki, "susah taklukkan egonya" Dan gunung itu begitu kokoh dan semua bisa terlihat jelas dari lembah, dari pandangan siapa pun. Maksud sa dampaknya bisa merugikan banyak orang khusus nya keluarga dari ula pribadi.
Emang tak semua laki-laki, tapi setiap manusia punya zona teraman masingmasing dan tempat itu adalah tempat terbaik yang biasanya lari ke sana, setiap situasi darurat mau pun setelah gagal usahanya. Singkatnya punya jalan pintas, katakanlah jalur evakuasi diri pantasnya.
Dari rata² penyakit laki-laki "tadi" pada umumnya dan ada yang lebih spesifik, yah mungkin hobi atau ritual pribadi yang merupakan bagian dari zona amannya "berhala".
Menunda merupakan kesempatan emas iblis untuk menghancurkan rencana Allah. sederhana-kebiasaan kecil yang berdampak krusial.
Dan ngopi juga sebenarnya zona nyaman dari setiap orang yang ngaku penikmat kopi. Karena tidak ada cerita otak bisa kompromi dua hal dalam satu waktu, dia selalu mengutamakan skala prioritas (mana yang harus didahulukan) dan nyatanya ada yang harus didahulukan, tapi kita merasa ada yang dikorbankan!
yang kita korbankan itu jalan pintas, karena ego, sementara yang kita dahulukan, itu karena empati. Jadi perbedaannya antara aku dan kita.
Sa mungkin bisa bilang aku untuk sementara, tapi kata itu sa gunakan ketika kesunyian telah tiba, dan sa bisa memili apa pun. Sementara 4-dimensi aku yang tiga diantaranya tidak sa mengenali donrang, waktu itulah kata "aku" terucap lalu terjadilah...
Jadi kalau ladenin aku atau nuruti keinginan tadi, merupakan 1-dimensi dari 4-dimensi dan kita diperbudak oleh 1-dimensi ini... "dimensi tubu" yang banyak maunya karena dia berasa, melalui indera.
Lalu berikutnya 2-dimensi pikiran, karena semua hal keinginan tubuh akan diperdebatkan pikiran, di sini kita sering mengalah untuk mengambil keputusan secara prioritas, menggunakan pikiran (akal sehat) "berdasarkan kebutuhan kita" bukan berdasarkan kebutuhan aku. Kebutuhan kita, bukalah kebutuhan fisik, kebutuhan fisik adalah kebutuhan individu, kepuasan pribadi.
Kemudian yang 3-dimensi adalah kita yang menyaksikan pikiran-pikiran itu. Di titik ini kita menjadi saksi bisu, bisu karena keberanian membela kebutuhan kita sangatlah minim, karena semakin abstrak metafisik vs intuisi memerlukan ketajaman untuk bisa memisahkan antara hitam dan putih yang sangat tipis dan sangat kontras harusnya, namun sering mengabu/samar-samar.
Dan kita yang 4-dimensi adalah keheningan, saking heningnya "kausal" dimensi 1-3 lenyap, tanpa jejak,. Baru kita paksakan untuk gapai dimensi 4 berlawanan dengan manusia fana, manusia dunia dan manusia ego...
Tapi kabar baiknya, semua hal bisa dilatih .... Kita boleh menjadi manusia apa saja, yang terpenting adalah menjadi manusia visioner, yaitu mempersiapkan diri untuk menjadi manusia di kemudian hari, karena pada akhirnya dunia yang sekarang menuju kebinasaan termasuk "keinginan fisik, pikiran dan dengan kesaksiannya bakal lenyap, bukan menuju keheningan...
"Mungkin kita boleh mencoba, mencoba itu paling banyak satu kali, kalau mencobanya berkali-kali, itu namanya cacat fisik, cacat menimbang dengan akal sehat, cacat memutuskan" sungguhlah capek, tepatnya bebal!
,%20culik.webp.jpg)
Post a Comment for "Mountain Tras "Mountain Clean-up Action" "