Navigator
Benih dosa itu ibarat kembang, semakin besar dan semakin bagus bahkan aromahnya tajam serta bagaikan pematik, serangga sampai bangkai merebutnya. dan satu titik saja dianggap remeh seperti kembang, dengan mudah dan cepat ia akan berkembang atau menyeret ke dalamnya seperti bunga kantong semar. Didalamnya itu sangat bauh-bauh busuk dan di sana akan kehilangan arah,
mencari jejak yang tak kunjung temui,
yang ada hanya gelap;
tak ada ruang,
tak ada waktu
yang ada hanya gelap;
tak ada ruang,
tak ada waktu
tak ada jalan
tak ada cahaya
bahkan tak ada harapan lagi.
yang ada di sana
hanya dingin
hanya takut
hanya sesak
hanya tuduhan
hanya intimidasi
ingin bunuh diri namun, tra bisa
harapan pun tak ada lagi. Dan berujung maut
Ku rentangkan sayap buatan terbang ke sana ke mari dalam ruang yang gelap itu, namun tak dapat terbang, hanya merayap bagaikan kasuari pincang kaki sebelanya sementara tak ada pijakan untuk diinjak lagi
Dalam kantong saku ternyata;
masih ada pulpen
masih ada buku catatan kecil
masih ada kompas
masih ada carmantel
masih ada niat
masih ada semangat
masih ada ...
walu pun bukan mimpi, namun,
(bersambung).
Post a Comment for "Navigator "