Dear Mama
Teruntuk kamu, wanita yang ku sebut sebagai Malaikat hidupku.Sosok yang selalu menjagaku, ketika aku didalam rahim hingga melihat indanya dunia. Aku masih mengenang itu, merdu nyanyianmu menenangkan segenap gelisahku. Noken bebi agiya* menjadi tempat rebahan sempura yang perna ku tempati dulu. tiap pagi, aku merasakan nikmatnya Ubi yang di bakar mama untuk-ku.
Usiaku beranjak sempurna namun masih saja kasih sayangnya terus menyapaku. Raut wajahnya mulai keriput, putih rambutmu mulai menumbuh, noken berisi ubi tetap terpangku di keningmu.Tiap kali aku menanyakan kabar, “ selalu baik-baik saja nak, kalo deng Tuhan” jawabnya sembari senyuman menyimpan luka sesungguhnya.
Teruntuk kamu, kekasih jiwaku yang masih melekat dekapannya. Mentari yang selau terbit menyinariku, mama paling tahu sekali, apa yang sa inginkan selain buah markisa kesukaanku. Semestaku tentang kebahagian, langitku seperti senyum.
Gelisa!, bimbang!, apapun itu resikonya, segenap cinta dan kasih sayangnya membelaiku saat sa pejamkan mata sembari menyadarkan kepala-ku kepada bantal paling empuk, paha mama. Keteduhan yang sesungguhnya adalah bersamamu selamanya.
Kejutan paling be the best yang merekam jelas di memoriku. Kala itu, tepat usiaku bertambah, 11 tahun. Mama merangkul bahu-ku dan berkata “Happy brithday my honey.” Aku sontak kaget dengan kejutan yang sa anggap paling Terindah. Kue ulang tahun, Foto aku, ayah dan ibu, sebuah Alkitab kecil, dan puisi “Anakku berbakhtilah”, mama yang tulis.
Pesan yang paling indah adalah telandan mama. Motivasi paling bijak adalah teguran mama. I love you mom.
I much you, mom. Hari ini, hari dimana aku memandang dunia bagaikan sandiwara. Tidak adil adanya, seakan ketidakadilan memihakku kali ini. Aku berjalan dalam hampahnya semesta, mengapa ini bisa terjadi Tuhan?, saat kebahagian belum sepenuhnya ku rasakan, saat dimana belum sempat sa berikan kejutan pada hari tuanya nanti. Mengapa Tuhan?.
Ku tatap pusara yang berdiam sunyi, delapan tahun di sudut gubuk tua penuh kenangan itu. kasih sayang sayangmu masih ku rasa dalam lembutan angin yang menyapa, tapi pelukanmu masih mengibas kulit perasaanku berkali. manjamu hilang dari hadapanku.
Wahai bidadari yang masih ku sebut mama, telapak tangan yang kita genggami secara bersama kini retak perlahan. Nama mu masih ku sebut tapi wajahmu belum bisa ku rebut dari bayang.
Mama….ma…ma…mama, anakmu memanggil bersua rindu, ingin bersama-sama memecahkan kesepian ini seperti dulu lagi. Sa gelisah tra bisa tidur ma!, please sekali saja ma,sa cuma mo dengar mama nyanyi sa pu lagu kesukakaan!. Tolong rebut dan buang gelisah dari bayangku. karena kepergian ibarat : luka yang masih segar daranya, kepergianmu ibarat: luka yang baru terobek.
Sa tau ma pu kejutan adalah doa. Terimakasih banyak atas semua karya terindahmu bagi anakmu yang selalu bandel, kapala batu, dan mo menang sendiri. kepergianmu adalah patah hati sesungguhnya yang telah ada.
Teruntuk kamu, wanita nomor satu yang masih ada dalam bayangku. Apa kabarmu hari ini?, sedang lagi apa?. Aku tahu, walau kamu takkan mau menyanyikan lagu itu, please datanglah dalam mimpiku tiap hari, dan nyanyikan itu dengan senandung kasih sayang yang perna ku nikmati duluh.
Jayapura, 07 April 2020
Oleh :Mikael Tebai

Post a Comment for "Dear Mama"