Alat Tulis
Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.”
__ Seno Gumira Ajidarma.
Tokoh terkenal. Introvert (1990)
"Dia merasa kreatif saat sedang sendirian"
__ JK. Rowling contohnya (Barack Obama, merasa produktif)
"Kalo saya merasa fokus saat sedang semdirian"
__ Travel Notes 2019 (Jojo)
Hanya menulis dan menulis, tapi mencobah untuk belajar dari bagaimana cara saya menulis. Saya menulis hanya dengan dua benda ini, "pensil dan buku" dan tambahan bendah lainnya jika mencorat-coret yang terkadang tak beraturan.
Lembaran Kosong
Setiap rasa atau kejadian biasa saya coret di lembaran yang baru, lembaran baru ini begitu mengiklaskan tubuhnya dikotori, dicoret, dibolak-balik, bahkan disobek, atau pun ditatap atau pun dengan perasaan "tajam,sinis,haru,gelisah,marah,senang". Dll di waktu-waktu tertentu.
Yang saya amati, dia hanya diam. Tidak pernah melawan dengan cara apa pun. Tapi kapan pun dia akan selalu terbuka untuk menatapnya atau membukanya lagi kembali. Semua yang dicoret dia selalu jaga tanpa mengubah satu huruf pun. Betapa jujur dan polosnya setiap lembaran.
Pencil
Setiap lembaran menggunakan pencil. Saat isi penci (mekanik) habis. Saya biasa menajamkan kembali gunakan cutter/pisau lipat "kalau pas berjalan di rimba raya) biar serba guna atau minimalis. Masalahnya si pencil ini pun tak perna membantah saat dirinya diiris-iris perlahan. Dirinya merelahkan guna sebuah perbaikan, yang dimana pengorbanan nya akan di kenang berupa huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, bait demi bait, bahkan paragraf. Cobah saja pencil menutup dirinya untuk tidak digunakan saat-saat menulis. Atau pun jika kertas dan pensil berbicara, mereka akan bilang. "Hey kawan kita bersaudara, karena sama-sama dari pohon (satu darah), Manusia mengadudombahkan kita, ayo kita bersatu dan lawan itu para manusia". Hanya saja mereka tetap sabar dan menyatu. Adanya dua bendah ini. Buat manusia bisa belajar menjadi jujur seperti mereka, bahkan sebaliknya.
Penghapus
Tulisan di atas lembaran, kalau salah kalau tidak dicoret cara lainnya adalah harus dihapus. Bagaimana rasa sakitnya? Rasahnya tidak jauh bedah dengan saat kita buat tato di badan, tapi pake cara yang manual. Kulit anggap saja lembaran, duri/jarum anggap saja pencil, dan arang atau tanah adalah penghapusnya. Belum tahu kan bagaimana rasahnya? Sihlakan cobah itu cara tradisional di kampung saya. "Yang dimana, kulit ditandai atau dibentuk dengan bahan kimia (isi batu baterai ABC), kemudian di tusuk-tusuk menggunakan jarum atau duri, mesti berdarah. Jika gagal segra hapus atau cuci menggunakan tanah liat, jika kering agar tidak terlihat nanti. Yang saya tahu rasa sakitnya itu, seperti digigit semut merah atau pun digigit tawon rasahnya.
Bahkan si badan si penghapus sendiri pun, perlahan menipis akibat dari gesekan dan tekanan.
Terkadang saya merasa, cara ini tidak jau bedah dengan menjadi oknum atau orang ketiga, menyuru si penghapus untuk menghilangkan atau memusnakan karya sang pencil di atas kertas.
Cobah si penghapus cerdas seperti nabi Yunus, pasti kontra (berlawanan) dengan perintah. Penghapus akan melawan atas perintah manusia untuk menghapus (sakiti bahkan musnakan hitam di atas Puti).
Cutter
Cutter atau pisau lipat yang digunakan untuk menajamkan pencil. Selain dirinya akan menjadi tumpul bahkan telah menyakiti si pencil. Apa boleh buat? Yang ada pencil menerima nasip sebagai pencil dan cutter dijalankan tugasnya sebagai pemotong, pengiris, pembelah. Entah cutter tau tugasnya, hanya saja dalam pelaksanan tugasnya. Dia tidak perna sadar sebab dan akibatnya. Atau pun tahu hal itu, karena saya belum mempelajari bahasa dan rasa di lingkungan mereka!
Dalam menulis, tidak bisa mewakilkan satu kata menjadi satu huruf, satu kalimat menjadi satu kata, bahkan satu paragraf menjadi satu kalimat. Apa lagi satu buku menjadi satu kertas! Kecuali rangkuman. Penulis hanya perlu kesabaran dalam menulis setiap huruf dari "A-Z dan angka dari 0-9". Menulis dengan mencatat "manual" di buku mau pun mengetik "otomatis" di keyboard tidak begitu jau bedah. Contoh "tidak bisa menulis/mengetik dua huruf dalam satu tombol, kecuali simbol atau logo" semuanya satu persatu.
Ketika menggunakan empat benda di atas perlu kesabaran dalam menulis satu per satu huruf bahkan membetuk pola gambar atau huruf dengan sedemikian rupa adanya. Sehingga menjadi sebuah karya yang estetik, bahkan menjadi seperti definis tulisan menurut "Seno Gumira Ajidarma" di awal. Mungkin ini adalah seni yang menggunakan empat bendah ini dalam menulis.
Semua yang telah ditulis pun, tidak terlepas dari beberapa Indra atau pun semua Indra yang di miliki manusia untuk mengungkap. Menggunakan empat benda tersebut jika menyampaikan dalam tulisan.
Lalu bagaimana dengan saya, yang sebagai pengguna (empat benda ini?). Belajar menjadi penyabar "menerima nasip/kenyataan". Atau kah Belajar tahu perasaan dari "empat bendah ini"?
______________
Bogor, 28 Februari 2020
#ayomenulis
📷. 👤
📝. 👤

Post a Comment for "Alat Tulis"