Gerakan Hijau


Penanaman sekitar kampus SV IPB. 2019

Berbagai kerusakan yang terjadi di jagat raya telah memaksa masyarakat dunia untuk memberikan perhatian yang lebih pada alam. Manusia sangat takut bilah alam tidak bersahabat lagi dengan mereka. Bencana alam yang datang sili berganti di muka bumi semakin membuat manusia takut akan murkanya alam. Sebagian manusia merasa sangat bersalah karena telah menzalimi alam sehingga mereka membuat program-program penyelamatan alam. Tetapi sebagian manusia lainnya tetap merasa tidak peduli terhadap alam. Mereka terus mengekploitasi dan merusak alam demi mendapatkan keuntungan ekonomi. Kepentingan ekonomi memang menjadi penyebab utama perusakan alam. Lalu manusia macam apa yang peduli dengan alam, Kader lingkungan? Pecintah alam? IUCN?

Manusia terlalu serakah untuk mendapatkan uang dari alam sehingga mereka terus-menerus menzalimi alam. Akibatnya, kesimbangan alam terganggu. Hutan semakin sempit akibat digantikan perkebunan. Sungai semakin tercemar akibat pembuangan limba industri. Efek rumah kaca juga semakin memperparah keseimbangan iklim di dunia. Namun isu lingkungan sementara “saat ini” di lupakan dan isu Virus Corona yang membuming!

Akibat semakin parahnya kerusakan alam, manusia pun menyadari perlunya menjaga alam. Keselamatan hidup manusia semakin terancam akibat murka alam. Manusia sangat takut, bilah alam tidak lagi bersahabat dengan mereka. Ancaman global warning telah membuat manusia sibuk merumuskan berbagai cara agar alam lebih bersahabat dengan mereka. Fenomena perubahan iklim membuktikan bahwa alam sudah tidak teratur lagi. Kondisi ini tentu saja mengganggu pola kehidupan manusia. Jika kondisi seperti sekarang ini, dan kedepannya kalau terjadi krisi ketahanan pangan, Apa kita di rumah saja? “sekarang masih bisa makan, besok bertatapan saja karena di larang kerumunan, dan lusanya meninggal karena kelaparan”. Pada hal lingkungan yang asri bisa memberi kehidupan jika kita memperlakukannya dengan baik bukan.

Rasa ketakutan manusia teramat mendalam terhadap alam. Alam menjadi fokus persoalan hidup manusia moderen. Akibatnya berbagai aspek kehidupan manusia dikaitkan dengan alam. Semangat untuk menjaga alam itu disampaikan dengan gagasan green. Kata green atau hijau diasumsikan sebagai kondisi alam yang ideal. Kata hijau merupakan symbol untuk menujukkan alam yang terjaga sehingga memberikan Susana damai, sejuk, aman, ramah, dan bersahabat. Kata hijau pun kemudian disandingkan dengan kata lain, misalnya go green, green campus, green school, green journalism, green economic, green industry, green politic, dan green literature.

Gerakan go green merupakan manifestasi dari kesadaran manusia terhadap pentingnya menjaga alam. Gerakan green campus dan green school mengharapkan kampus sebagai pusat penyedia kaum terpelajar dapat menghasilakan orang-orang pintar yang peduli terhadap alam. Ilmu dan teknologi yang diperoleh di kampus atau di sekolah diarahkan untuk menjaga alam. Ilmu dan teknologi jangan lagi merusak alam. Green journalism membantu kita untuk lebih mengetahui segalah sesuatu yang berkaitan dengan alam. Fungsi edukatif dan informatif media masa dapat meningkatkan kepedulian manusia terhadap alam. Media masa juga dapat berperan dalam mempromosikan kesadaran untuk mencintai. Green economic dan green industry mengajak masyarakat dunia untuk tidak hanya sekedar mendapatkan keuntungan materi tetapi harus memperhatikan keseimbangan dalam mengekploitasi alam. Segalah sesuatu yang dimanfaatkan dari alam harus dilakukan secara harmoni. Sedangkan green politic mengharapkan kebijakan, peraturan dan undang-undang yang dihasilkan dari proses politik dapat mendukung program penyelamatan lingkungan. Jangan sampai keputusan yang dibuat pemerintah memberikan kemudahan bagi kelompok-kelompok tertentu untuk menghancurkan hutan. Selanjutnya, green literature atau sastra hijau berkaitan dengan aktivitas sastra yang diarahkan untuk penyelamatan lingkungan. Sastra dipandang dapat meberikan kontribusi dalam penyampaian gagasan penyelamatan alam.

Dasar utama dari berbagai gerakan hijau di atas sebenarnya adalah kebudayaan, sebab kebudayaan meliputi semua aktivitas kehidupan manusia dalam mempertahankan hidupnya di alam semesta ini. Dengan demikian, semua pola perilaku dan tindakan manusia terhadap  alam juga merupakan bagia kebudayaan. Oleh karena itu, green culture atau kebudayaan hijau perlu dikembangkan untuk menjaga keseimbangan alam. Bila kebudayaan manusia memberikan perhatian pada penjagaan lingkungan maka semua perilaku dan tindakan manusia akan mempertimbangkan alam. Kebudayaan adalah pusatnya sedangkan gerakan hijau lainnya bergerak akibat pemahaman kebudayaan.

Dalam sejarah peradaban manusia, hubungan manusia dan alam tidak bias dilepaskan. Bahkan dalam studi kebudayaan, ada pendekatan geographical determinism, yang melihat pengaruh lingkungan terhadap kebudayaan (Poerwanto: 2008:80). Dalam berbagai tradisi suku bangsa di dunia, sebenarnya terdapat konsep keselarasan hubungan antara manusia dengan alam. Dalam masyarakat Melayu misalkan ada hutan yang dilarang untuk ditebang. Larangan ini bertujuan untuk membangun equbilirium atau keseimbangan dalam hubungan manusia dan alam.

Sesunggunya green culture telah ada sejak zaman dulu lebih menghormati dan peduli terhadap pelestarian alam. Mereka lebih menyadari perlunya keselarasan hubungan antara manusia dan alam sehingga kebudayaan yang mereka lahirkan lebih bersahabat dengan alam. Kondisi ini berbeda dengan kebudayaan moderen yang cenderung materialistis dan mengabaikan keselarasan alam. Kebudayaan moderen  selalu dikaitkan determinisme ekonomi dan cenderung tak peduli dengan nilai-nilai penghormatan terhadap alam. Hubungan kebudayaan dan lingkungan sangat erat kebudayaan digunakan manusia untuk beradaptasi dengan alam dan lingkungan. Manusia dan kebudayaan adalah bagian penting dalam lingkungan (Sutton dan Andreson, 2010: 2). Manusia terus beradapasi dengan lingkungan tempat mereka hidup dan kebudayaan telah mengajarkan manusia untuk peduli terhadap keselamatan alam.

Karya sastra sebagai bagian dari kebudayaan telah digunakan untuk menyampaikan gagasan penyelamatan lingkungan dengan penyajian environmental ethics atau etika lingkungan. Dalam memanfaatkan lingkungan dan sumber daya alam, manusia seharusnya mengikuti etika lingkungan. Etika lingkungan dapat diartikan sekumpulan etika yang berlandaskan nilai-nilai moral yang digunakan untuk penyelamatan lingkungan (Junaidi, 2014). Lebih lanjut Rolston (2003) menegaskan pentingnya penerapan etika untuk penyelamatan lingkungan. Bourdeau (2003) menyatakan bahwa etika lingkungan sekumpulan etika yang digunakan untuk menyelamatkan lingkungan berdasarkan tanggung awab moral manusia untuk menyelamatkan lingkungan.


Sumber: Buku Sastra Ekologis oleh Dr. Yunaidi (Universitas Lancangkuning, Riau)

2 comments for "Gerakan Hijau"