Landhuis/Wisma Tamu IPB


(Landhuis/Wisma Tamu IPB. 2020)

PERJUMPAAN TANTA dengan ANGEL di LANDHUIS IPB
    Kali ini tepati permintaan dari kak Angel Silva Dewi pada pertemuan kedua (03 Juni 2020), di pinggir Situ Asrama Mahasiswa Papua (Situ Aspa) Bogor Jawa Barat. Karena kak Angel dengan memohon agar saya ajak Tanta (anjing paling kecil di Aspa) yang memang masih misterius asal-usul si Tanta kami sebutnya!

     Si Tanta ini, pada suatu hari menyelang sore, ternyata ia mampir ke Aspa dan langsung menuju ke kamar bang Eto, kebetulan saya ada sama-sama bang Eto. Kami kebingungan dengan kedatangannya karena ini tamu baru ‘spesial menurut saya, karena memang lingkungan yang banyak anjing sebagai penjaga’ sampai bang Eto sendiri mengatakan “dari mana ini anjing, di sini masih banyak anjing terus masih bawa lagi kemari” waktu itu kondisi si Tanta masih kecil, kotor dan rambut atau bulu keseluruannya sangat berantakan serta matanya dipenuhi denggan kotoran matanya sendiri, lalu percaya diri saja ia langsung mampir ke kamar Bang Eto memang dengan sopan ia, sebelum masuk dari pintu waktu itu ia lemparkan keluguhan wajah yang sopan sambil menyapa kami dengan wajah tanpa curiga, percaya diri, berharap di sambut, sambil goyangkan ekornya so kenal ia berdiri depan kamar, saya sambut dengan senyum tanda mempersihlakan ia masuk, sementara bang Eto sempat bilang “buang akan sudah anjing ini, dan saya yang merendam omongan itu dengan mengataan, bang tapi kasihan juga kalau kita buang dia, dia sudah datang baru masa buang lagi, sembari cari botol potong bagian bawah dan beri ia minum depan/samping pintu’ kasihan (anjing kecil tersebut), akhirnya kebingungan untuk panggilan/sapaannya, jadinya panggilan buat si anjing kecil spontan saja Tanta sudah, kata Bang Eto, dan penghuni Aspa panggilnya Tanta” karena semua anjing-anjing di Aspa punya nama masing-masing setiap kepala.

     satu hari dari permintaan kak Angel, yang katanya “Nanti kalau main ke rumah ajak si Tanta yah” Karena saya mengiyakan permintaanya, satu hari kemudian ajak si Tanta akan ke Kampus IPB (Landhuis/Wisma Tamu IPB). Karena di kampus banyak tempat dan objek yang bisa mengabadikan, maka setelah saya mandikan si Tanta dan semprot dengan parfum juga, sementara ia berjemuran saya mandi juga rapi-rapi dan sms ade Markus Kocu (Markus), untuk antar treephoto yang ia pinjam.

    Kami akan berangkat menuju ke kampus, dan ade Markus hendak ikut, menambatkan ujung tambang pramuka pada kalung Tanta dengan simpul menyesuaikan halangan (adjustable hitch) pada besi yang ada pada lehernya. Karena keramaian sepanjang jalan sampai di kampus ajak jalan ia tak mau, yang ada gementaran dan diam-diam di tempat, akhirnya saya gendong saja dan sampai depan gedung rektorat Andi Hakim Nasutioen (AHN), pertigaan depan gerbang utama (dari dalam kampus) saya lepaskan saja si Tanta, naluri berburunya muncul ternyata si Tanta dan mengikuti dari pingir jalan, sepanjang perjalanan saya menceritakan kejadian aneh namun nyata itu (dua kali pertemuan sama kak Angel) sama adik Markus, sampai di Bivak belum beres ceritanya dan sambil duduk saya masih cerita di depan Bivak.

    Berahirnya cerita ternyata banyak Rimbawan sampai Senior Rimpala (SR) pada datang dan saya memutuskan untuk kunjungan antar Tanta pada esok hari ke Landhuis, pada sabtu 06 Juni 2020. 

"Perjumpaan Tanta dengan kak Angel Silva Dewi di Landhuis"

    Pagi pukul 07:05 wib, saya tidak kepikiran untuk antar Tanta ke Landhuis, saya pun diam-diam saja sekedar olaraga bawa treephoto mau photo pikir saya, karena akan ketemu kembang mata hari di Mesjid All Hurya nantinya, ternyata gerak-gerik saya ketahuan sama Tanta dan dia mengikuti saya. Kami jalan sambil menikmati kesejukaan dan kicauan burung-burung di kampus. Setelah asrama internasional  yang berdampingan dengan klinik ipb dan ada gedung samping polik klinik sedang di renovasi oleh sekelompok tukang. Dan akhirnya tanpa basah-basi saya belok kanan ke arah Gedung Wisma Tamu (Landhuis), dari jalan terlihat pintu gerbang memang terbuka dan ada motor Fario hitam parkir di samping pos jaga satpam, namun pintu pos jaga masih tertetup dan saya dan Tanta melanjutkan masuk areah.

    Pari jauh terlihat pintu tertutup rapat dari kaca,  dan kebetulan ada seorang mahasiswi dari Alhurya ke arah Asrama Putra yang arah pintu keluar ipb lewat jalan belakan bertretoar itu, dan Tanta menuju ke sana. Saya berpikir Tanta akan ganggu dia dan memanggil namanya “Tanta, dengan nada yang pelan”, kemudian pintu terbuka dari dalam kak Angel keluar sambil menyapa “selamat pagi, mari masuk dan gendong si Tanta sambil peluk dan menciumi serta ajak bicara (apa kabarmu di sana)” sambil salaman saya dan Tanta di persihlakan duduk di ruang tamu yang depan, kaka Angel ke belakang, beberapa saat kemudian kembali lagi terus katanya “mending kita ke belakang, sarapan ada teh di meja katanya”, saya tidak sadar si Tanta entah di manan, biasanya pasti si Tanta tungguin atau minta makan kalau lagi pergerakan seperti akan makan namun, kali ini tak ada si Tantanya.

     Setelah di ruang belakang, kamar yang berada di belakang saya, pintu masih terbuka akan tetapi saya tidak memerhatikan siapa yang ada di dalam, sesaat kemudian kak Angel ke belakang saya dan keluar kembali sambil mendorong kursi roda yang sedang di duduki seorang nenek urbanan, berkaca mata tebal. Berhenti samping saya dan ia ulurkan tangan menyalami, sambil lontarkan ucap selamat pagi Jo, kemudian lanjutkan dorong sama kak Angel tempatkan depan saya “berhadapan dengan saya di meja makana” dan kak Angel di sebelah kiri saya.

    Nenek itu biasa-biasa saja tampaknya sudah mengenal saya sebelumnya, kemudian kak Angel mempersihlakan untuk sarapan pagi, sambil mencicipi bubur dan susu hangat ke nenek itu, seusai nenek akan di antar dorong lagi ke kamar dan sambil bilang ke saya, Jojo kalau ke Asrama, titip salam yah buat teman-teman di sana, nenek andak bisa lama-lama duduk disini harus sambil baring, sudah tua “sambil naikin kaca mata yang merosok di hidung” saya balas dengan senyum saja kemudian kak Angel dorong kembali dengan kursi rodah ke kamar yang letaknya belakan saya, dan sih nenek ini sambil gosok-gosokkan tangannya ke arah pundak saya (tanda pamit) dari samping.

    Tak lama kemudian kak Angel keluar dan ajak saya ke depana sambil duduk kami santai dan saya mendengarkan cerita tentang asal-usul si Tanta; sementara saya sudah tak kepikiran di mana si Tantah berada.

    Kak Angel bilang, Saya akan bercerita sebentar saja, mengapa kemarin saya memesan kamu ajak Tanta ke mari, “sambil mempersihlakan saya duduk, Sentara kak Angel berdiri ke belakang saya entah ngapain kemudian duduk kembali di samping saya”, sementara akan memulai bercerita si Tanta perlahan muncul dari belakang dan sambil rebahan di bawah meja kaca yang berada depan kami dan rebahan manis mendengarkan kami bercerita pagi ini. Tak lama kemudian sih Tanta di gendong sama kak Angel dan duduk manis di pangku pada paha kak Angel!

    Jadi mungkin kalian sempat bingung asal-susul si Tanta yah, sedikit saja kaka cerita yah jadi keluarga Van Motman “The Family Van Motman”  itu ada sudah 400 keturunan sejak abad ke 18/19 khusunya di Indonesia dari tahun 1600-2006. Lebih jelasnya lagi kalau kamu lihat di buku (The Familie Van Motman 1600-2006, banyak foto-foto yang beirisi riwayat keturunan Van Motman, dengan cerita yang panjang memang 400 tahun bukan tahun yang singkat. Ini semua berawal dari moyang kami Gerrit Wilem Casimir Van Motman, termasuk ini rumah (Landhuis atau Wisma Tamu) adalah satu dari tiga yang di bangun pas awal-awal sekali, kalau kamu mau cari tau lebih lanjut bisa cari  lain waktu,  nanti di bantu arahkan” lanjutkan pembicaraanya “ “dan moyang kami meninggal pada 25 Mei 1821 di makamkan makam milik keluarga Van Motman dan sampai Pieter Reiner van Motman 1850-1911 merupakan tuan tanah ke tiga wilayah Dramaga dalam catatan sejarah keluarga Van Motman.

    Semenjak keluarga kami mulai banyak yang meninggal, ada 33 tuguh yang ada di makam tidak temasuk sebagian keluarga sudah pergi ke Asutrali, ada yang ke Belanda karena sekitar 1940an Jepang mulai merebut dengan Belanda di negeri ini. Nah akibatnya Makam keluarga kami sejak 1970an mulai kerusakan dan tangan-tangan jahil yang merampasi semua termasuk jenaza GWC yang diawetkan pun di rampok, dan perhiasan lainnya termasuk mumi GWC Van Motman, jam tangan dan seterusnya, tulang-belulang nenek moyang yang lain di anggab sebagai batang singkong dan tak ada tempat lagi bagi mereka berlindung,karena makamnya sudah rusak sebelum ada renovasi oleh Kementrian Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor 2017 lalu,  makanya tulang-tulang itu ada yang menjadi serangga; ada yang menjadi pohon; ada yang menjadi kunang-kunang dan masih banyak lagi macamnya, agar bisa bertahan sampai nanti kalau sangkakalah Tuhan berbunyi memanggil. Memang bukan sengaja kalau ada yang berwujud kupu-kupu; ada yang burung gereja; ada yang berwujud lalat; dan termasuk si Tanta. Ini semua yang sering ada di sekitar asrama. “saya sedih mendengarnya dan menyesal, karena selama ini aganggap mereka hanya hewan, ternyata mereka punya cerita sendiri”, kemudian  lanjut lagi, ia cerita. Tanta sengaja titip di asrama karena si Kou (Anjing paling tua dan lama di Asrama) dia yang tau situasi di sana dan sudah lama kami berteman dengannya. Begitulah cerita yang kalian anggap misteri asal-usul si Tanta, terima kasih lagi, karena kalian mau menerima keluarga kami. Khan tak mungkin kalau berwujud manusia “sambil tepuk pundak saya”             
Sumber; Catatan Sejarah (Kompasiana)                    

     Waktunya berpamitan, setelah itu kami akan berpamitan, kelihatan kak Angel gelisah sepertinya menahan sesuatu yang ia mau sampaikan hanya karena ada si Tanta. Setelah di pintun Tanta duluan lari keluar dan tangan saya tadinya mau salaman akan pamit namun di genggam lama dan menantap saya dengan serius, lalu sambil menarik tangan saya ajak kembali ke dalam dan menuju ke kamar yang tadinya ada nenek tua itu, saya kaget karena nenek tadi tak ada!

    Itu sudah satu dari keluarga GWC, yang makamnya terbongkar dan dari antara tulang itu menyelma menjadi anjing (Tanta) di Aspa! Akhirnya sampai kembali ke pintu kemudian melepaskan tangan saya, saya sudah sampai hampir depan pagar tergesa-gesa memanggil dan mencari Tanta, kemudian saya di panggil kak Angel sambil memberikan Treephoto yang tadinya lupa di meja, ini barang kamu yang lupa katanya dan saya sambil bilang terima kasih kak serta meminta izin untuk photo-photo sekitar taman di halaman Landhuis. kemudian saya menyusul si Tanta sekitar halaman Landhuis, dan sambil jepret kembali ke Bivak Rimpala Fakultas Kehutanan. Nanti kalau ada waktu kedepannya mencari tahu ke makam Van Motman dan dua Landhuis lainnya.


Bogor, 06 Juni 2020
Jojo Elopere

Post a Comment for "Landhuis/Wisma Tamu IPB"