Musim Salju, di Kampus Baranang Siang Institut Pertanian Bogor (BS IPB)

   
Kapas dari pohon Kapuk 2019, di kampus bs ipb
 
     Baranang Siang merupakan nama tempat di Kota Bogor, bagian Timur, yang letaknya dekat Kebun Raya Bogor (KRB) Bogor Botanical Garden. Pokoknya pinggir jalan bangat sebelah kiri, dekat tugu kujang bersampingan dengan (Mal Botani Square). 

   Asal nama dari Baranang Siang, dari bahasa Sunda ada dua kata yaitu; Baranang dan Siang. “Baranang artinya Terang Benderang sementara Siang artinya Siang Hari” karena dulu hutan lebat bangat Vegetasi/berkanopi rapat sehingga hujan tropis sering dan sampai sekarang dikenal dengan julukan nama kota hujan!, dan sedikit pesan dari orang-orang dulu perna bilang, suatu saat nanti tempat ini akan jadi terang seperti siang, dari gedung-gedung, lampu-lampu, kendaraan, dan seterusnya! Kata-kata yang visioner tersebut sudah terbukti dengan kenyataan seperti kondisi saat sekarang ini!

  Sejak abad ke 20, sudah berdiri lembaga penelitiaan pertanian dan biologi sejak zaman Belanda, tepatnya tahun 1941, dan masih dalam manajemen atau fakultas dari Universitas Indonesia (UI). Pada tanggal 27 April 1952 ternyata tempat pertama peletakan batu pertama sebagai kampus petanian oleh Presiden Repuplik Indonesia Ir Soekarno, dan hari itu Bung Karno berpidato; Pangan Rakyat: SOAL HIDUP ATAU MATI), Tahun 1953 kemudian diubah menjadi Institut Pertanian Bogor (IPB) sampai sekarang ini (ipb univesity) sejak tanggal 1 September Tahun 1963. Dan tempat itu yang mendominasi dengan gedung-gedung tua dan megah itu ternyata sedang musim salju,di sana!

    Siang kemarin ada janjian sama teman, dan saya mau menunggu disekitaran kampus dari kelas menuju  lurus pokoknya diantara taman (sekitar taman kol) karena saking dekat dan lurus, melewati parkiran mobil-mobil para dosen/mahasiswa, ada tangga sekitar 2-3 anak tangga melewati taman/tapak dan sombar sekali karena banyak pepohonan besar seperti Jati (Tectona grandis) Kenari (Canarium ovatum) dan banyak lagi tapi beragam jenisnya.

    Banyak sekali para mahasiswa dan dosen yang menendu di bawah pohon-pohon rindang itu, yang ditata sedemikian rupa dengan fasilitas serta sarana/prasarana yang lengkap, warung/kantin pun ada tapi agak pojokan taman kol namanya bahkan tempat duduk juga banyak sekali, beberapa tempat sampa yang terbuat dari beton tapi tertutup/berlumuran hijau gelap sehingga terlihat alami (Natural) sirkulasi juga teratur (jalan setapak), sehingga mengarahkan para pegunjung taman yang beraktivitas seperti nongrongan, mengobrol, dan beragam aktivitas lainnya, para (cleaning service campus) konsisten dalam merawat taman sepangkal itu, karena sebagian besar lapangan terbuka arah utara dari pintu utama atau pintu masuk ke kampus.

  Pohon kapuk (Ceiba petandra) satu dari antara pepohonan di taman itu, dan pohon paling besar batang tua berwarna abu-abu tua keputihan dan berduri besar-besar tapi tumpul durinya, kokoh sekali menyulang tinggi dengan berdiameter kira-kira 4-7 meter dan tingginya kira-kira 60-70 meter bahkan cabang/ranting yang lebat sekali. Intinya pohon paling besar dari semua pohon yang ada di taman sekitar kampus Baranang Siang (BS)

      Pohon Kapuk (Ceiba Petandra) salah satu dari jenis pohon tropis yang tergolong ordo Malvales dan Famili Malvaceae (sebelumnya dikelompokan ke dalam famili terpisah Bombacaceae). Pohon Kapuk ini asalnya dari Amerika Selatan bagian Utara, Amerika Tenga dan Karibia. (By Dino Saputra, June 11, 2015). 

     Saya percaya saja kalau mungkin pohon kapuk itu bijinya terbawa entah dari angin atau laut dari bumi benuai Amerika sampai akhirnya nyasar di benua Asia, karena pohon kapuk di sana daerah asalnya. Tapi tidak percaya kalau saya yang lagi mimpi siang hari itu.  

     Kebetulan tidak menyadari asik bercerita dengan  seorang berkulit sawo matang keturunan jawa bagian barat (kulon) alumni fahutan IPB, dan lulusan dari jurusan pariwisata Budayana di Bali dan bahkan sampai menyelesaikan S3 di Prancis, ternyata dia seorang dosen kepala program studi dari jurusan saya “ekowisata/ecotourism”!, tapi dia stilenya lebih keren dengan gaya anak muda/masiswa sekarang, intinya seperti mahasiswa di luar negri bangat aslinya  mampir sbentar sambil menunggu asik bercerita dengan beberapa teman lain bareng dosen, keren parah, saya merasa bukan mahasiswa atau ditantang dengan penampilannya, namun tidak tak perlu memaksalah!. Bercerita di bawa Pohon Kapuk yang paling besar itu kebetulan Pohon Kapuk menggugurkan daunnya selama musim kemarau (Mei-Oktober) di daerah tropis.

  Melihat pohon kapuk selain indah dengan pemandangan, rindang dan sejuk serta besar juga, bunganya sering mekar sebelum daunnya muncul lagi pas bangat hampir-hampir menuju/memasuki musim hujan, kelopak bunga merah muda, putih/kuning jika terlihat saat malam hari dan mengalami pemekaran yang inda bahkan, baunya menarik perhatian terhadap kelelawar saking tajamnya, dan Kelelawar akan membantu penyerbukan serta menyebarkan biji. Buah dari kapuk kalau sudah tua nanti akan kering berwarna coklat, dan panjang ukuran buahnya sekitar 30-40 cm paling panjang dan berdiameter antara 10-20 cm. 

    Ternyata pohon kapuk juga mempunyai kelebihan tertentu dalam kehidupan manusia, seperti “obat asam, komoditi, bantal kursi/sejenisnya, tidak beracun dan bebas bahan kimia, seratnya juga bisa dikomersil, dan banyak sekali manfaat lainnya seperti dampak ekologi dst.

    Jadi buah kapuk kecoklatan bergantungan diantara ranting-ranting itu akan picah sendiri maupun bantuan dari kelelawar di malam hari, dalamnya seperti koteka ada dagingnya (kapas berwarna putih) yang membungkus biji seperti biji kacang kecil. Sekarang ini di BS lagi musim panen, biasanya terlihat hijau (tanaman gaja) yang membungkus permukaan tanah, di bawah pepohonan dan sekitar taman tersebut tapi skarang. Taman hijau itu terbungkus sama busa-busa dari pohon kapuk berwarna puti yang sudah picah dari pohonnya, di antara taman pepohonan sampai tempat duduk smua seperti musim salju di bumi benuai bagian utara di sana, bahkan saya yang sedang duduk, tangan saya tidak berhenti bergerak bahkan mulut terus meniup percikan/gumpalan kapas-kapas dari pohon kapuk yang sedang berterbangan terbawa angina yang tak jekas arahnya. Agak nyesal tapi kalau pakaian bahan kemudian si kapas-kapas ini menempel tapi mata juga terus siaga dari berbagai arah yang datang perantara angin siang itu. Pokoknya kalau kamu mau lihat, segra datang yah sebelum habis.

    Kalau saya mampir sehabis kuliah, bahkan datang lebih awal hanya untuk nongkrong, baca, dan ajak ngobrol teman-teman saya. Bukan sekedar bertedu; bukan pulah sekedar berkelahi dengan salju apa lagi mengambil gambar karena memang indah sekali, namun itulah dampak posisitf lingkungan yang berikan buat saya adalah kebutuhan dasar “basic needs” buat saya. Sehingga selalu punya waktu luang “leisure time’’ walau pun hanya sebentar tetapi selalu saya dengan rasa syukur menikmatinya, karena sering dengar cerita orang-orang tua tentang kondisi Bogor beberapa tahun lalu, namun masih ada sedikit gambaran buat kami yang lahir di generasi pemusna ini, sebagai bahan renungan.

    Terkadang tak habis saya pikir kalau nongrong di bawah pepohon rindang ini. Pada hal sudah akhir tahun 2019, saya ikut dalam seminar semarak go green oleh BEM KM IPB. Dan saya ajukan pertanyaan tentang "Go Green Kampus 2020", tidak memungkinkan untuk terealisasi menurut saya karena pembangunan di kampus semakin banyak yang dampaknya pepohonan harus di musnahkan, di luar dari (kebijakan seperti di beberapa midimarket yang tidak melayani belanjaan dengan kantong pelastik, namun pedagang lain justru banyak produksi bahan an organik, itu kan kontradiktif bangat dengan misi kampus. Bagaimana dengan kampus Vokasi IPB? Karena juga bagian dari IPB sendiri, kondisi kampus di pusat kota yang begitu strategis namun upaya seperti apa mendukung "Gren Kampus 2020!"  Melihat kondisi kampus seperti ini dan saya punya puisi berjudul "Go Green" pun belum selesai buat,. Kata pematerinya sih, "Go Green" tidak hanya tentang penghijauan, memulai dulu dengan "pemilahan sampah dari rumah, hemat penggunaan air atau listrik, kurangi penggunaan pelastik, bawa kantong saat berbelanja dan lain seterusnya) itu saja dulu katanya. 

     Saya memohon maaf sama hadirin, karena mereka sudah mewanti-wanti saya akan berpuisi tentang go green, karena awal pertanyaan saya bilang "saya punya puisi berjudul Go Green" namun tidak bisa baca saat itu karena memang belum buat saking bingung, dan karena memang melihat kondisi kampus seperti begitu rupanya.
 
Bogor, Mei 2019

Post a Comment for "Musim Salju, di Kampus Baranang Siang Institut Pertanian Bogor (BS IPB)"