Situ Asrama Mahasiswa Papua

SITU ASRAMA MAHASISWA PAPUA
Misteri Kabar Situ Aspa, Ternyata Baru di Perlihatkan Tuan Tanah.  (Bogor, 02 Juni 2020)
Pinggir Situ Aspa. 2020

       Siang yang kian panas dan sebentar lagi akan mendung, hanya pergerakan kupu-kupu yang sibuk membantu menyerbukan pada kembang-kembang tanaman ketua Asrama (Hein Rogi)

       ASRAMA MAHASISWA PAPUA (aspa), warga sekitar dan kami semua mengenalnya di Jalan Situ Leutik kelurahan Babakan Madang Bogor Jawa Barat. Lingkungan aspa gongong-menggonggong anjing sayup-sayup kami mendengarnya dan di kenal warga sekitar.

       Perasaan baru bangun pagi, pada hal sudah siang hari yang hampir mendung pukul 12.26 wib. Dan ikut canda tawa sambil masak deng kaka-kaka.

        Singkat cerita sedang makan di gubuk aspa,. Di temani canda tawa yang memang kawan yang baik kalo sudah sama-sama. Bukan hanya canda dan tawa saja! Pergerakan kupu-kupu yang sibuk melakukan penyerbukan pada tanaman “kembang warna-warni” milik ketua aspa pun menjadi objek yang estetik serta tak kalah gong-gongan anjing-anjing memang risih kalau mereka mengganggu warga yang lalu-lalang.

       Sehabis makan saya menahan diri sbentar, pada hal sudah berencana akan menuju ke tempat cuci piring. Karena saya lihat ada seorang kakak perempuan (teteh), entah dia warga tetangga, waktu yang bersamaan sedang si teteh lewat dan ada suku (kakak laki-laki) satu masuk (dari luar ke aspa) dan membuka pagar.

      Entah mengapa kaki sa menjadi berat untuk lari keluar tutup pintu pagar, malah perhatikan si kakak perempuan yang sedang lewat. Pintas saja sa lihat memang kakak perempuan yang sedang berjalan depan aspa itu sepertinya bukan orang pendatang atau aslih sundah. Bedah seklai “baru lihat kakak perempuan itu punya energi menarik perhatian sa siang yang sementara awan semakin mendung”

     Sementara suku de masuk, beberapa anjing lari keluar dan saya manjat pagar (besi) sepangkal di gubuk aspa memperhatikan. Kaka perempuan itu spontan saja, langsung potong jalan kebun milik warga samping aspa sampai ke arah sungai Situ Leutik (di bambu-bambu), pada hal tak satu pun anjing yang mengejar dia. Sa kebingungan dan spontan lompat pagar itu, dorong pagar (gerbang) dan susul kakak perempuan itu ke sungai dekat bambu-bambu, “kalau memang karena anjing, yah saya berusaha bantu de karena anjing tong punya”

       Dengan jelas sekali sa lihat de pake celana karet panjang berwarna dominan hijau (banyak gambar kembang bunga) dan baju yang ada kerak berwarna orange polos. Sandalnya ketinggalan sebelah di selokan pinggir jalan, pergerakan dau-daun talas di kebun masih bergerak sapuan angin ia melewatinya, jejak pada tanah (baru saja di cangkul babe masih terlihat jelas)  ia melewatinya dan sa mengikuti  hendek mengejarnya.

     Untung hampir saja, sa lihat sandal sebelah kanannya ternyata mesih terapung di atas air, sa pikir hanya sungai biasa yang sering sa lihat (sungai coklat kehitaman). Sa kebingungan dengan sendirinya sandal itu ke arah kiri sa dan mengelilingi sa, sa ikuti arah sandal, namun  posisi sa di pulau, tak ada lagi yang lain dengan situ berwarna hijau gelap yang sama warnanya dengan warna dedaunan serta pepohonan di sekitarnya sejuk dan segar bahaya.

       Sa sejenak mengedipkan mata, tiba-tiba ada yang memegang pundak sa dengan tangan yang lembut skali dari blakang, lalu dia bilang “sa mo cerita, tapi jangan di sini, berbahaya ketong ke pinggir saja” katanya. Sa hanya mengiyahkan dengan senyum malu sambil menggaruk kepala, namun sambil pikir “tuang tanah  sejarak begini gimana jalannya? Kaka perempuan itu tau apa yang sa pikir sambil senyum dan menarik tangan sa, de bilang bagian sini air tra dalam, asal jangan ko melebarkan kaki dua kali lebar bahu ke arah kiri dan kanan” de masih memegang sandal sebelahnnya dan kami memulai berjalan memotong separuh dari Situ.

       Tiba-tiba sekitar 30 detik, sejenak posisi tengah-tengah bahaya dari pusat tengah ke pinggir, de menatap sa tapi de mata sperti laut kaca bening skali dan dari matanya sa bisa lihat muka sendiri/bersermin dan bacround luas separuh dari situ terlihat jelas, sa berusaha tenang namun dalam hati spontan “tuang tanah lagi” karena masih kebawa kebiasaan bilang tuang tanah dalam asrama. De bilang “Jo please, jangan ko bilang TUAN TANAH lagi”. Sa semakin bingung di tengah air yang dalamnya sepinggang, namun keringan berguyuran. Sa tra mengerti apa yang de bilang sepanjang perjalanan cuman ingat pas de tegur soal tuang tanah dan ingat tiga huruf “GWC” serta Landhuis. Akhirnya barulah kami di pinggir dan menuju ke arah barat di atas batu yang terbungkus lumut hijau, di bawah pephonan rindang dan belantara. Yang tidak jauh letaknya. De kental skali dialek Sunda seperti “teh, mah, dan kitu”, awalnya namun, sampa di pinggir sepanjang percakapan ternyata de bisa logat Papua “yang buat sa semakin akrap saat percakapan dengannya” Sambil duduk de cerita. Percakapannya begini;

De: “Jo,? Siang-malam sa sering  melewati kam pu asrama itu, oh iyah kaka Ono di mana skarang? Sa su lama tra lihat de lagi!
 
Sa: iyo kah kaks, baru kaka siapa? di rumah kaka di mana?, kaka Ono de su balik Papua kaks!
 
De: Sa pu nama Angel Silva Dewi. Kurang lebih 4 tahun yang lalu (2017), terakhir lihat Ono. Sa tinggal di kampus IPB (Landhuis).
 
Sa: Baru tadi kaka mo ke mana?
 
De: Sa sengaja ke mari ajak ko, mo kastau sesuatu sesuatu, ini penting skali
 
Sa: Apa itu kak? (sa serius fokus)
De: Yang pertama, Jangan sampai bunuh anjing lagi; Ke dua. Beberapa waktu ke depan ini, akan ada masalah yang sumbernya dari anjing-anjing di aspa! “namun bisa di atasi, kalau bisa kenapa tidak” tra perlu ke dukung “sambil senyum/canda”
 
Sa: Kemarin kaka Omo su pukul satu kak!
 
De: Cukup satu saja, karena tanpa anjing di aspa itu rawan skali pencuri mau pun penjahat. Karena mereka kesal gara-gara anjing pula.
 
Sa: “diam-diam saja berusaha ingat yang su bilang takut lupa”
 
De: satu lagi ini yang paling penting skali! Cobah kemari ini ko lihat dulu “de sambil menujukan sesuatu dari kedua tangan membulat seperti kikir atau love sambil tempelkan ke sa mata. Sa lihat jelas kalo tangan de bergerak berlawan arah gambar akan zoom, dan searah akan zoom out dan auto focuss. Sa Lihat Aspa berada paling tengah-tengah danau yang berwarna hijau serta sejuk sekali namun. Tak ada jalan menuju kesana (mungkin pake perahu memang, tapi de bilang kalo ko ke sanah, air bisa menjadi ruput/darat sesuai ko pu mau). Lalu perlahan tenggelam dan tak ada lagi gedung aspa yang letaknya tengah-tengah situ “seperti istanah”, semua hanya air saja.
 
Sa: Sa gementar melihat itu dan de “menutup kembali lepas tangan dari mata sa”. 
 
De: “ko kas tanda sesuatu tempat yang tadi kolihat”. Sudah ko pulang sudah nanti yang lainnya sa kastau lagi, kalau hari ini cukup dulu e? 

       Tong jalan sama-sama dari Situ tadi menuju ke jalan dan sa ambilkan sandal sebelah yang di selokan,dekat  tikungan kasih de,. De bilang “makasih Jo” lalu tong dua pamitan depan pagar, dua kata terakir dia “Jangan Lupa sambil senyum” lalu de lanjutkan ke arah kampus dan lambaian tangannya masih terlihat sama sa, sambil tarik pagar langsung sa jalan mundur, namun tak terlihat lagi terhalang pagar akan dirinya.

       Sa pulang dorong pagar dan masuk ke aspa. Beberapa kaka-kaka masih duduk dan sa langsung diam-diam mo ambil HP yang sedang chas di kamar, pergi mo photo situ yang tadi. Namun sa pu hati bilang, seperti de ada bilang ke telinga sa, “ko tulis saja dulu kejadian tadi. Nanti lupa soal tanda dan photo bisa kapan saja”. Sa di kamar mo tulis namun, sebelum tulis cabut hp yang sedang chas menuju ke samping pintu kaka ketua asrama, “numpang wifi (KEDAI AIR) sharcing, terkait beberapa kata kunci yang sa ingat” ada (CWG/Van Motman, Tuan Tanah, & Landhuis). Sa sandar di jendelah su hampir 7 menit mencari di Google tentang kata kunci sebelum lupa. 

       Ternyata CWG adalah nama orang Gerrit Willem Casimir (Van Motman) Siapakah ia? GWC adalah pemudah Belanda yang merantau ke Hindia (Batavia). Selama 2 tahun dia menjadi klerek rendahan VOC, sebelum menjadi administrator gudang baja di Batavia. Selain itu ia mengurusi gudang kopi di Bogor.
 
       Pada awal abad 19 (tiga abad silam) ia sudah menjadi wali kota. Setelah VOC bangkrut karena korupsi kronis, GWC pun menjadi Tuan Tanah di Bogor. Waktu itu luas lahan di Bogor mencapai 117 ribu hektar, yang resebar luas ke dalam 14 daerah. Salah satunya Dramaga.

       Setelah GWC pada tanggal 25 Mei 1821, tanah di Dramaga dan Jasinga dibariskan kepada anak tunggal, Jcob Gerrit Theodore. Ia dikubur di makam keluarga yang disebutnya Museum Van Motman. Komplek pemakaman yang berada di Leuwiliang ini untuk desainya Basilica Santo Petrus di Romah, Italia.

         Sedangkan Landhuis atau Groot Darmaga, merupakan Rumah Tuan Tanah. Menurut sejarah ada tiga rumah tuan tanah (landhuis) milik keluarga Van Motman. Di Dramaga saat ini menjadi Wisma Tamu IPB di Jalan Tanjung No. 4, Kampus IPB Dramaga, di Jasinga yang fotonya konon juga di Museum Belanda, dan di daerah jambu yang hingga kini tidak lagi jejak kenangannya.

       Landhuis yang berada di Daramaga memiliki Slavenbel atau tempat, yang pada zamannya untuk mengumpulkan para pekerja kebun. Slavenbel (lonceng/bel) ini dulu berada di belakang Landhuis. Namun pada Tahun 1980 lonceng itu pindah ke halaman depan.

       Kalau untuk saat ini, Landhuis atau Groot Dramaga, telah menjadi milik Indonesia, pernah ditinggali Presiden Soekarno. Hingga akhirnya, bersama pendirian kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 1960 menjadi asrama mahasiswa IPB. Sampai beberapa tahun berubah fungsi dari gedung ini, dan kini mejadi wisma tamu. 
Sumber; Sporttourism

       Setelah sa ketemu dengan asal-usul beberapa nama yang tadi sa dengar dari kakak perempuan itu sa langsung menulis dan setelahnya akan pergi bawa hp mo photo situ yang tadi sa lihat. Masih juga belum beres/hampir beres sa nulis kaka Linda bilang “dong ada kuras air di sumur. Sa turun ke bawah dan masuk/turun dalam bak di balik beton itu sambil kuras air deng sa teman “Jhon” sa ingat yang di kasih tau kaka perempuan (Keturunan Tuan tanah) tadi, soal tanda. Sambil kuras sa pake sikat menandai huruf (S) pada pinggir (tepian) bak. HURUF ES (S), HURUF ITU MAKSUDNYA SITU ASPA. Jadi kalo kaka-kaka dan teman-teman bisa lihat tanda itu, yang memang misterus, hanya penghuni aspa yang bisa lihat; bisa pake air itu; dan skarang namnya situ Aspa!


Bogor 02 Juni 2020
(Jojo Elopere)

Post a Comment for "Situ Asrama Mahasiswa Papua"