Perjalanan

Back to Nature. Aqsa Riza (R XXI)
Perjalanan mana yang asik?
     Yang pasti jalur yang belum saya lalui, cerita tentang jalur! Di jagat raya ini, pasti ada rute atau Navigation. Rute penerbangan, rute pelayaran, rute di daratan, di sungai bahkan dalam goa pun ada jalur yang sudah di petahkan sebelumnya. Intinya namanya jalur adalah sudah dibuka sebelumnya dan posisi dalam jalur yang sudah ada yang terkikis oleh jejak atau aktivitas dari manusia.

     Sekali pun nyasar, pasti ada kepikiran pulang, minimal stop dulu sejenak (seathing, Thinking, Observation, and Planning). Sudah tauh nyasar, lalu masih ngotot melakukan perjalanan ada kah, tipe yang sesemangat itu? "Perjalanan bukan sekedar cepat atau lambat mengejar target, karena tak mulus perjalanan. Tetapi perhatikan keselamatan diri mau pun lingkungan dan selalu waspada"_ (Travel Notes _ Jojo. 2020). Ingat kalau hendak pulang mengikuti jejak sebelumnya, kecuali melalui jalur lain yang sudah pasti.

     Lalu ...
Apa yang terpenting, dari setiap perjalanan?
Apa kah tujuan perjalanan?
Bagaimana cerita dari perjalanan?
Bagaimana jalan pulangnya?

     Saya memilih jalan pulang dari 4 pertanyaan dibatas. Karena tujuang dari perjalan saya harus pulang dalam keadaan baik-baik saja! Karena pintu rumah selalu akan terbuka dan orang-orang yang saya kasihi menunggu pula.
Karena itu, jangan sampai lupa di setiap perjalanan membuat sesuatu pada setiap ruang dan waktu, seperti Orientasi Medan (ormed) pada tanda-tanda dan gejala-gejala yang ada, perhatikan prasarana yang di gunakan, dengan siapa kita berjalan, bagaimana kita bersikap dalam (memberi dan menerima) serta masih banyak lagi. Itu adalah beberapa tanda yang akan membawa pulang kembali.

     Selama perjalanan nyasar itu harga hidup; hilang arah itu akan ada; rintangan-rintangan dari luar kendali itu mutlak; Ketidak penerimaan kehadiran kita di tenga mereka itu soal biasa; setiap lirikan sinis dari pri bumi itu tak perlu baper; dan kebutuhan mendesak yang akan terjadi itu kawan perjalanan; namun hanya satu syarat yahkni; Meminta atau izin dengan baik-baik tanpa memaksa! Itu saja. Asal jangan sampai mengambil sesuatu tanpa informasi yang jelas

     Setiap permasalahan itu, bahkan masih banyak lagi. Perlu otak yang dingin, hati yang lembut juga perlu walau pun kelihatan tegar dari penampilan. Setegar-tegarnya pasti ada tegangnya juga, tegang itu perlu hati dan otak bersatu. Bukan otot, karena tujuan bertualang bukan perjalanan pertandingan fisik seperti karate dan sejenisnya, untuk merebut sebuah kemenangan. Dalam perjalanan tak ada pertandingan; tak ada kopentisi; tak ada menang-kala apa lagi! Bila perlu memberi bantuan setiap yang butuh, seperti hewan yang terluka "terluput dari mangsa" yah tak berat hati beri pertolongan dari kotak merah (P3K) kita!

     Emosi memang perlu apa lagi seperti saya yang berdara tinggi, perlu melibatkan otak dingin dan hati lembut untuk mengelolah emosi dari setiap sensasi yang menantang bahkan mengancam. Orang berdarah tinggi bisa mengendalikan diri, beruntung bangat efeknya seluas daratan; manfaatnya sebanyak langka; puncaknya setinggi langit; keidahaanya seperti pelangi;  rasa syukurnya sedalam samudra; dan terharu arenaya seperti butiran bening di pipi mengalir tanpa henti. Walau pun jarang, yang pasti setiap orang punya cara masing-masing,. apa lagi dalam kondisi yang memang perjalanan yang banyak rintangannya. Petualang mana yang tak punya cara untuk menjelaskan dirinya?

     Keterlibatan hati dan pikiran, selama perjalanan merupakan investasi untuk saat pulang mengakhiri perjalanan nanti. Tanpa melibatkan kedua benda tersebut, kita bisa pulang kembali atau tidak? Yah kita jawab sendiri bahkan sudah ada dari pengalaman perjalanan kita. Memang setiap yang melakukan perjalanan adalah yang tidak punya nyali, apa lagi perjalanan yang menantang "mungkin hanya saya/ada yang lain juga"

     Jang sampai lupa berpamitan kalau hendak kembali, kita sopan sama mereka, tentu saja mereka akan segan dengan kita. Harga dari perjalanan bukan rupiah namun, kesopanan dan niat yang tulus.

     Ada cerita kecil saya, seorang tete tua yang selalu menanyakan keberadaan saya, di balik Mountain Ciremai 3. 708 M dpl di sana. Saya hanya terima kabar dari orang-orang di sekitarnya. Intinya jejak kebaikan tanpa pamri pasti akan hidup selamanya bahkan berkembang biak dan terinspirasi ke setiap orang yang melihat, merasakan, bahkan hanya mendengarkan.

     Perjalanan kita pasti akan bersama tingkah kita di perjalannya, saya punya teman di status Facebook nya ia tulis "Teman yang baik adalah teman yang menemani selama perjalanan, bukan teman yang bertemu di puncak" setiap pahit-manis perjalanan yang ia hadapi bersama teman yang ia maksudkan.

     Kebanyakan dari kita, senang memberi hasil, ketimbang prosesnya. Sama saja seorang bayi yang kita suapi, berbuat baik itu gratis kalau saya. Saking gratis dan memang harus berbaik, maka dalam tulisan perjalanan saya beri tauh tentang proses perjalanan "khususnya petualangan", walau pun kita punya cara masing-masing, jika demikian mengapa saya menulis perjalanan? Karena perjalan tentang proses, di perjalanan itu sendiri, tak ada puncak/hasil yang bisa saya berbagi dari perjalanan.

     Mari menuliskan tentang proses, karena menulis hasil belum tentu ada manfaat bagi pembaca yang bisa mencobah dari hasil, selain hanya proses yang bisa untuk di cobah.
Smangats salam hormat penulis perjalanan bernyali

Bogor, 02 Juni 2020

Post a Comment for "Perjalanan"