Expetation in Borneo

Gubuk kecil, jauh dari keheningan rimba dan kebisingan kota, mereka sebagian insan hidup ramah dengan lingkungan. Seorang yatim yang tak kenal nampak wajah ayah nya selain hanya cerita (dongeng) pengantar tidur dari lbunya yang sudah menjadi janda abadi. Di telinganya jauh dari kata Ayah/Bapa bahkan seperti apa nampaknya.
Kesederhanaan hidup mereka banyak pertanyaan tanpa jawaban dari sekedar harmoni bersosial. Dalil bapaknya memang seorang pemberani dan pembela illegal loging atas hutan terakhir yang mereka miliki, yang kemudian kala malam purnama sedang tersenyum, pasukan bersenjata mendatangi dan di bawa. Namun tak perna kembali 17 tahun yang lalu. Seakan-akan hutan cari aman, berdiam diri dengan dingin nya, sementara dua insan yang sangat merindukan sosok yang mereka nantikan kedatangan nya.
Jika hati hanya sekedar halte
tempat persinggahan buss kota atau pelabuhan tampat kapal bermuara, tak ada jaminan kalo terwujud sebua mimpi, ya... ngin akhiri saja cara hidup bikin ngilu ini 'batin seorang ibu'
Bagaimana dengan pilihan hidup bocah peninggalan jiplakan seorang palahwan yang bikin bumi ini konglong merat buatnya tempat dosa atas ciptaan yang Muliah ini.
Seorang Ibu yang tak ingin anaknya terlantar dan terbawa tumbuh dengan kepribadian yang kolusi, korupsi dan nepotisme....
Singkat cerita, lelaki 17 tahun yang tumbuh dewasa dan kokoh motivasinya yang tumbuh bersama lingkungan yang membentuk karakternya, kepribadian seperti tebing juram yang memanjang terbungkusi hutan yang begitu lebat tapi tersisah karena penambangan terus menerus menggerus dan menunggu kapan akan habisnya "idealisme".
Suatu hari ia menemani (tour guide) rombongan sebuah konsultan yang bergerak pada hutan yang bersangkutan. Sepanjang perjalanan ia terlihat seorang yang professional dalam menginterpretasikan berbagai objek baik flora, fauna, biota dan juga keunikan budaya yang melindungi hutan adat serta ia menguasai beberapa bahasa lokal....
Pertanyaan demi pertanyaan, tidak ada kata lupa apa lagi belum tau bahkan tidak tau. Ia terlihat professional dan seorang edukator yang bijaksana....
Dua pertanyaan yang muncul di benakku adalah yang pertama sempat ku tanya, mengapa burung merak tidak bisa terbang, sedangkan Ia memiliki sayap? Ia menjawab karena kalo terbang, rusak bulunya kalo kena ranting!
Kemudian ku lontarkan pertanyaan berikutnya, mengapa kau mau menemani kami, dan dengan kesucian hatinya Ia menjawab "karena aku di bayar"
Lalu kepikiran akhirnya Saya ,...
Berarti ini awal perjalananku yang belum ku temui insan yang menjadikan hutan lebih penting dari pada uang atau hidup selaras dengan yang mereka miliki!
Batu Kajang, 19 Sep 2022
Post a Comment for "Expetation in Borneo"