Sunyi Bersama Tembok Tua
![]() |
| Dok Pribadi, 20 |
Memutuskan ke Bogor Baru melanjutkan pembacaan buku yang berjudul “My Life As WRITER” tulisan Haqi Acmad dan Ribka Anastasia yang menjelaskan membahas tuntas teknik tulisan, jenis tulisan, dan pengalaman dari 5 (lima) penulis hebat dan ispiratif para! Setelah beres menuju ke Pondok Citra mengunjungi sodara-sodara disana.
Sampailah di dalam pagar (tak bergembok) itu dan mengangkat kepalah memandangi dari kamar ajung sampai ke ujung barisan lantai dua, hanya bocha-bocha dari tetangga yang sedang bermain layang-layang di koridor, skedar lemparkan senyum spontan sperti biasanya, teruskan pandangan ke lantai bawa dari ujung sampai ke ujung hanya satu pintu yang terbuka, namun penghuni baru sekeluarga dari warga sekitar.
Melanjutkan melangkahkan kaki semaki ragu dan perlahan menuju ke sisi yang lain dari gedung bertembok tua itu dan memandangi semua kamar yang rapat terkunci sampai ke ujung yang lain.
Semua pintu rapat dan terkunci dari luar, lalu menuju arah barat gedung tua yang lain, hanya satu kamar yang terbuka pintunya. Tapi bukan orang itu yang saya cari... bakan tidak kelihatan orangnya hanya pintu kamar yang terbuka!
Hanya ada tembok-tembok tua yang berderet, serta plot pebatas antar kamar dan sayapun ikut membisu di situ, dari cela-celah beton terlihat pucuk-pucuk hijau bermunculan bertanda TIDAK ADA KEHIDUPAN. Rasanya jantug ada mau lepas dari tubuh jatu ke tanah... Jika punya kesempatan yang sama untuk mencari ilmu, adalah Panggilan, berarti bertahan (survival) adalah keputusan! Untuk bertanggungjawab dengan panggilan itu “hayalan”
Sejenak merenung, dimana nyanyian timur? Di mana canda logat/dialeq Papua, tra ada suara gitar sperti biasanya, nyanyian daerapun tra ada, bergegas sembari balas senyuman tembok-tembok tua itu yang di bangun, sekitar 60 tahun yang lalu kata Namboru “ibu Kost”. Senyuman tulus dibalas kembali senyum-senyum tembok, meng ajak kaki pamit dan melangka maju kembali menuju entah kemana....
Mungkin tong smua (kita semua) datang seperti angin skedar memberi rasa sejuk lalu pergi enta kemana tanpa pamit!
Bogor 11 Oktober 2019
#ayomenulis

Post a Comment for "Sunyi Bersama Tembok Tua"