Semangat
![]() |
| Filosofi Teras. |
Satu kata (semangat) menunjukan suasana hati seperti energik/gembira, faktor penyababnya banyak, entah dari luar dan dari dalam diri kita.
Agar rasa semangat terus ada pada diri kita, ada tiga hal yang perlu kita cegah.
Yang pertama, hal-hal dari luar kita, kita merasa semangat lagi ketika kita bercerita "misal" Atau berpergian ke tempat-tempat baru, yang dimana hal-hal baru yang kita konsumsi dari berbaga indera yang biasanya mendorong kita untuk menindaklanjuti hal-hal terkait, dlm artian akan kolaboratif dgn informasi dlm diri kita yang sebelum nya.
Yang kedua adalah, hal yang hakiki. Motivasi ini biasanya akan tumbuh kuat kalo kita sering merawat dan hal tersebut akan mendara daging, atau tertanam dlm alam bawa sadar kita. Sehingga kita susah untuk "misalnya sehari tanpa rokok" bagi perokok.
Yang ketiga merupakan emosi, bagaimana emosi menyeimbangi kedua hal tersebut dengan istilah kendali. Bagaimana peran emosi terhadap kedua hal ini dgn adil. Dalam artian sebagai pengingat bahwa, hal-hal pengganggu anggap saja nafsu untuk merespon informasi dari dua hal itu, maka tugas emosi ini mengendalikan yang bisa dlm kendali dari dalam diri kita dan tidak bisa dikendalikan dari luar diri kita. Sehingga tugas emosi akan berperan agar bagaimana kita bersikap terhadap kondisi untuk (kendali). Contoh, saya ngajar anak Pramuka, dgn kemampuan saya, artinya dlm kendali saya, sementara hal tersebut berhubungan dgn bagaimana anak-anak Pramuka dalam memahami penjelasan saya. Maka hal itu tidak bisa saya paksa, melainkan bersikap. Seperti ubah metode, jam, tempat dll yang mempengaruhi.
Jadi kenapa semangat kita sehari-hari bisa berbedah? biasanya bagi kita yang kerja, mendominasi kita bagaiman bersikap. Karena waktu kita, kita bayarkan untuk bersangkutan dgn kerjaan dan biarpun kita kerjakan dgn porsi kita, sementara yang kita kerjakan akan bersangkutan dengan pihak lain (luar kita). Anggap saja, penilaian kerjaan kita adalah atasan kita, yang memang tidak bisa kita ganggu lagi. Karena bukan tugas kita lagi.
Hal lain yang menyeimbangi selain emosi adalah yang bersangkutan dengan religius. Hal ini lebih ke tenang (bukan diam) dan tidak ada hubungan sama sekali dengan ketiga hal tadi, karena menyingkapi atau bersikap terhadap sesuatu, emang perlu tenang, tapi tenang karena bawaan lahir orangnya, tenang karena pendiam. Namun tenang karena berhubungan dengan religius sangat-sangat berbedah. Ketenangan ini akan memberikan sinyal atau putusan tanpa pertimbangan dan tidak banyak debat seperti cara nalar yang banyak pertimbangan. Tapi ada "tapi" Nya ini, kembali lagi ke sikap, dasar sikap kita berasal dari kedekatan kita dengan siapa. Misalnya kedekatan kita dgn religius, tentu kita pekah dan tajam dalam merespon, begitu juga kepekaan kita ke seharian dgn yang lainnya.
Ada lagi, menurut yang lain? 🤗

Post a Comment for "Semangat"