Salah Melihat Punggung
5× zoom, demi punggung yang kurindukan.
Nyatanya waktu kejam, setiap detik yang hentakannya tak pernah ada ampun dan tak perduli dia, siapa yang tergesa-gesa mengejarnya...
Tapi hentakan jantungku dan nafas berirama, unjuk rasa dan perasaan sopan dengan ku.
Karena aku beremosi...
Karena mereka bernaung dalam badanku..
Persimpangan jalan setelah ku lewati, sambil melirik jalan lain, di sanah ada dua orang wanita seusia gadis. Mereka begitu akrap sambil bercanda,. Pikirku mereka hendak ke rumah BTN atas, taunya mereka ke kios hendak membeli cemilan...
Tapi aku mengenal punggung, terakhir 11 tahun lalu ketika kami di Sekolah Lentera Harapan di Kamp Harapan.
Demi itu, aku berbalik dan kembali mengambil jalur diluar rencanaku, ingin ketemu punggung itu!
Ingin sekali melihat dari dekat punggung itu, dan berharap ingin merangkul walau tidak asing karena jarak waktu yang memisahkan kami.
Tidak lain, dia adalah Debby Silva Pariaribo dan seorang lagi adalah Clarita adenya atau sepupunya yang teringat karena mereka tentu serumah.
Semakin dekat, aku berharap itu punggung DSP, tapi tak ada bahan dibenakku ini, bila emang benar itu adalah sosok yang aku kira, aku hanya merindukan pundak itu, dibalik pundaknya cara jalannya dan senyumnya yang ingin ku lihat kali ini, tak perduli seberapa detik pun waktunya.
Biar sudah dekat, aku merasa seperti sedang ngobrol dengan dirinya, di hati ini sejuk semerbak seperti ada dalam pelukan kali bak yang ku tuju sesungguhnya.
Langkah ku lambat Laun rasanya menghentikan lajuhnya yang bernama waktu...
Dibalik mentari sekitar pukul 14.30 panasnya masih ganas, dan aku hiraukan nya karena dorongan batin kali ini sanggup melunakkan segalah macam intimidasi dikendalikan...
Aku merasa seperti meditasi, aku begitu fokus, lupa dengan bisikan dunia semua energi ku mengarah hanya kepada punggung itu.
Tetangga kios yang dua gadis membelanjakan tepatnya btn gang satu, mereka sementara nyaring memanggil penjual "beli...., beli...,.
Sebrang nya ada anjing beranak, berwarna cokelat dan yang terlihat hanya dua ekor, kurang lebih 3 mingguan setelah beranak , pantas saja ia bersemangat" sementara induknya begitu agresit menggonggongiku.
Namun ketika aku melihat wajah kedua gadis, ternyata bukan wajah dua gadis yang dibenakku. Aku merasa kaget seperti terbangun dari tidur, mulai sadar ada anjing yang tadinya sempat sa anggap hanya angin yang berlalu. Beberapa anak-anak yang hendak melewati gang btn yang sedang aku lewati ada yang berdiri ada yang menunggu melihat induk anjing yang mungkin saja mencurigai dengan persoalan tadi. Soalnya hanya aku yang diginggingi, yang lain tidak...
Pikiranku lenyap seperti bayangan depan mata sendiri dan aku terhanyut, sudah tak ingat lagi.
Kurang dan lebih 3 langkah lagi, kaki ini akan menginjaki jalan lurus (fertikal) yang hendak ke arah kuburan dan kali bak, telingaku menerima bisikkan motor yang asing, namun gerak spontanku menengok ke kanan arah sumber suara tadi...
Tidak terlalu perhatikan motor, tapi yang pegang setir motor adalah sesosok dirinya, yah Debby Silva Pariaribo, langkah terhenti sejenak tapi merasa nafas dan waktu ikut berhenti saat itu. Hanya menyaksikan motor yang berlalu kira-kira 30km/jam.
Baju pink muda membonceng seseorang gadis tapi aku tak fokus perhatikan dia, mataku tak berkedip sedikitpun, dari membulat semakin dia jau semakin menyipit mataku tertuju sampai motornya terlenyap dari persimpangan jalan... mulutku tanpa dipinta, telingaku terdengar suara sedikit kaku namun bersemangat "Daa Debbyiiii...." Sembari dada terangkat terasa suara itu sambil menahan nafas terucapkannya.
Telingaku kembali mendengar, suarah yang dinantikan "youuu"
Kaki yang lain mulai melangkah, beriringan batin terucap, "dibalik membalas nyapamu tadi, dia tidak terlalu perhatikan mu, hanya mendengar suaramu, dia tidak mengenal suaramu"
Aku membalas bisikan itu, dengan senyuman manisnya begitu mempersonah, aku meratapi sembari berada dalam dekapannya, hembusan nafasnya bersayu membanjiri mukaku dan tercium aromah nafas usai kunya pinang "nafas segar"
Tas orange merek "subway" dipundakku ingatkan bibalik baju yang berguguran keringat, bahwa Debby tak melihatmu, tapi penasaran dengan suaramu, tenanglah kau ada dalam bayangnya, walau sekeping saja ....
Akan rapi tersimpan di hatinya
Akan jadi perdebatan yang berujung rindu, suara yang ingin dia dengar namanya dipanggil, seperti matamu merindukan pundaknya, walau salah pundak "tadinya" bisa saja telinganya salah dengar namanya dipanggil!
Post a Comment for "Salah Melihat Punggung"