Cerita Kecil di Desa
![]() |
| Sumber Gambar; Internet |
Bentuk komunikasi yang berbeda, tidak hanya sebatas lintas budaya, atau yang lainnya seperti (Lokal, Nasional, Regional, dan Internasional). Karena komunikasi secara umum, alat yang menjembatani manusia untuk berhubung sama manusia lain, entah dalam lisan mau pun tulisan serta perantara lainnya. Sampai sebanyak itu bentuk komunikas yang terjalin di antara Kita, "Manusia dengan manusia, serta manusia dengan Lingkungan" tentunya, jadinya saya tertarik untuk menulis kembali.
Semua makhluk hidup,pasti berkomunikasi seperti komunikasi Flora atau Anatomi Tubuh (Cel Communication), antara hewan (Animal Communication), bahkan komunikasi antara benda. Abiotik pun bisa saja, contohnya pasang surut air akibat sapuan angin laut/darat, erosi geseran air terhadap daratan/tanah, dll. Mungkin banyak lagi yang lain dua contoh ini menurut saya, komunikasi abiotik karena bersentuhan secara fisik, bisa terjadi dan menyebabkan terjadinya perubahan kontur tanah "misal" yang ada, medianya adalah komunikasi berupa Komensalisme, karena sama-sama abiotik yang memanfaatkan (bersentuhan fisik) secara langsung dengan satu media berupa akibatnya yang disebabkan. Dan penyebab nya tersebut adalah yang langsung kita lihat dengan mata, atau rasakan dengan Indra yang lain.
Tidak ada satu makhluk hidup di permukaan bumi (planet bumi), yang tidak berkomunikasi. Semua berkomunikasi termasuk kita (insani) juga berkomunikasi (Human Communication). Banyak media yang sering kita gunakan sebagai media komunikasi, termasuk dari komunikasi yang berdasarkan tipe dan sudut pandang masing-masing, seperti menurut para pakar Kelompok Sarjana Amerika. Buku (Human Communication 1980) antar lain;
1. Komunikasi antar pribadi (Interpersonal Communication). Sperti bercerita dua orang.
2. Komunikasi kelompok kecil (Small Group Communication) seperti diskusi kecil dengan beberapa orang.
3. Komunikasi Organisasi (Organizational Communication), seperti kelompok Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) saat rapat berkomunikasi sesuai jalur kordinasi dan perintah, atau formal mau pun non formal yang dipimpin oleh satu orang dalam topik tertentu.
4. Komunikasi Massa (Massa Communication), seperti pembina upacar 17 Agustus, di TV/Radio, Koran/surat kabar dll.
5. Komunikasi Publik (Public Communication), seperti pidato, komunikasi dengan teknik tertentu untuk mempengaruhi klahyak (audiens), komunikasi tanpa respon atau tanggapan secara langsung.
6. Komunikasi pribadi atau satu orang (Intarpersonel Communication) seperti komunikasi dengan sendirinya"hayal, merenung dll"
Komunikasi bisa hidup kalau ada interaksi atau respon balik dari penerima pesan kepada pengirim pesan, melalui enam tipe di atas, secara umum. Kalau pembahasan komunikasi lintas budaya sama menggunakan enam tipe tersebut, hanya saja bisa jadi ada tambahan yaitu atribut sebagai alat. Salah satu komunikasi Lintas koteka suku Dani di Lembah Baliem, Papua. (cerita kecil di desa).
Koteka adalah jenis tanaman merambat yang menjadikan suku Dani sebagai pakaian adat bagi pria, tidak hanya koteka yang berasal dari tanaman yang di budidayakan ini, tapi ada beberapa jenis yang berasal dari bahan-bahan organik mau pun an organik, seperti "panah dan busur dari kayu, bulu burung-burung tertentu di kepala, bulu anjing di sikut lengan, taring babi di lubang hidung, bulu Kaswari di tangan biasanya, noken dan banyak lagi yang lain adalah contoh dari bahan organik. Sementara yang an organik adalah "sedotan anyam seperti jembatan di dahi, tanah liat/timah dari bahan kimia (batu baterai) yang dioleskan di wajah dan dadah dll" itu khususnya yang pria, yang wanita sama dan ada beberapa yang bedah seperti ukuran noken, alat pemburuan wanita itu buat cari hasil pertanian sementara pria buat berburu satwa/hewan.
Atribut sebagian diatas adalah senih (Culture) yang ada saya lihat sejak lahir di kampung, dan itu membedakan dengan suku-suku tetangga yang bedah bahasa, dengan atribut yang dikenakan setiap daerah sebagai media, mempermudah komunikasi/menyesuaikan bahasa dengan suku lain. Bisa saja hal itu yang orang-orang pada umumnya menyinggung dengan istilah "budaya dan bahasa, sama seperti satu koin bedah gambar dengan tulisan", sebagai ungkapan jati diri dan kepatriotisme. Contoh kalau saya sering pake noken ke kampus, atau orang-orang berkomunikasi masa di (Facebook, Twitter dll) pake bahasa daerah! Itu semua bentuk komunikasi yang kita lakukan!
Saking bedahnya komunikasi lintas Koteka/Lintas budaya (inter Culture Communication) yang beberapa suku Dani di lemba Baliem, Kalau komunikasi di kota (masyarakat moderen/menetap) mengirimkan pesan dan penerima pesan melihat isi pesannya. Bedah dengan (Masyarakat Nomaden atau belum mengikuti tingkatan perkembangan, dari nomaden langsung moderen tanpa alami masa pertengahannya gara-gara adudombah bangsa barat karena kepentingan dari penjelajahan mereka.
Penggolongan kelembagaan sosial (Koetjaraningrat 1079) yang terjadi di lembah Baliem adalah karena kekerabatan domestik, sebatas upacara pernikahan antar suku yang berbeda, yang ditandai dengan astribut yang dikenakan sebagai pembawa pesan, dan penerima pesan akan melihat atributnya bukan isi pesan yang tersampaikan. Atau pun karena perekonomian seperti jalinan kerja sama (buka lahan perkebunan di perbatasan). Cara pembawa pesan pun, hanya sambil teriak melewati kampung dan wajib lewat/melewati halaman rumah dari Honai (tempat menyimpan peralatan kuno dan sekaligus tempat tidur para pria) yang letaknya paling tenga dari rumah-rumah biasa yang lain atau mudah terjangkau.
Secara tidak langsung atribut yang digunakan, melibatkan emosi dan berpengaru, terhadap kebudayaan dan sebagai aktivitas sosial, karena sifat manusia yang selalu berusaha untuk berhubungan dengan sesamanya. Sala satu suku di lemba Baliem, cara berkomunikasi seperti itu, melalui atribut yang di gunakan sebagai media berkomunikasi.
Honai atau rumah adat yang terbuat dari bahan organik semua dari bahan-bahan nya, dan bentuk nya bulat serta bertingkat satu (berloteng) dan kerucut bagian atasnya (seperti jamur) dalam Honai ini sama seperti salah satu suku yang ada di Afrika, zaman Baden Powel pria kelahiran Kota London, Inggris, 22 Februari (1857) bertugas sebagai kepanduan, di sana seorang pria di anggap laki-laki, selama satu bulan dibekali sebua golok dan dilepas di hutan, dan tidak boleh kembali sebelum waktunya, ia hidup dengan cara bertahan (survival) sampai ia kembali dalam waktu yang ditentukan, dan dirayakan/dijamu riah serta dianggap pria sejak saat itu. Sama di lemba Baliem juga yang bisa tindur dalam Honai, adalah remaja laki-laki yang bisa bekerja pekerjaan pria, seperti (menyangkul, membuat rumah/honai, berkebun dan sudah bisa pakai koteka dll) baru anggap pria.
Bogor 09/02/20
#ayomenulis

Post a Comment for "Cerita Kecil di Desa"