Jangan tanya pada ku "Di Mana Rimbanya"

   
Bogor Station. 2019
 Bocha yang tra segan berdiri, meski ujungnya akan jatu juga, smangat itu yang buat sa berkelana mencari sodara yang lama Tak jumpa alias Otang Romasya, meski sa tau siapa yang paling bahagia hari ini. Tapi karena, sa rasakan, ketika didatangi sodara/i, gimana bahagiahnya. Bahagia sa tra banding perbuatan konyol "berkelana"  sampai nyasar juga ujunya, tapi ketimbang bersyukur. Karna Cara sa bersyukur dgn gayah yang sederhana adalah langkah bahkan unik dan berbagi rasa syukur ke sodara.

    Sa perna didatangi dua kakak perempuan jauh-jauh lagi waktu itu (pertengahan 2019), kondisi lagi libur semua sunyi dan dua orang kaka perempuan itu menemani dua hari satu malam. Ditemani sebuah bivak panggung (yang biasanya sering menjadi sarang nyamuk) bahkan parahnya lagi nyamuk juga seperti biasanya tak berat menemani rebahan spanjang malam. Banyak aktivitas edukatif melalui sharing, masak-masak dst. Bahkan sekian orang yang selama ini sa repotin, tra satu persatu sa sebutkan

    Waktu itu, sa hanya diam Tak kuasa tahan butiran-butitan bening yang spontan dipipih, yang ujung nya mau report sendiri mereka. Kadang so keras dan idealis yang keras kepala kata orang, tapi sekeras-kerasnya setiap orang pasti ada titik lemahnya. Termasuk saya.

     Bisa jadi orang-orang traveler, seperi "Gol A Gong, Claudia Kaunang, Trinity dst"  mereka akan lebih cinta ke negri "Bumi Khatulistiwa" ini saat mereka sudah diluar, sama halnya Saya hari ini, "belajar bersyukur, saat bertualang" dan asiknya lagi ketika mencari saudara sebanyaknya tanpa pandang bulu, itu rasahnya seluas samudera

    Banyak kisah dan kejadian yang buat sa antara nagis tapi terharu karena lihat kepedulian mereka ke sa, sa tra perna tanpa pamri ke siapa pun, untuk bantu mau pun merepotkan malahhan, ternyata justru bukan mereka lagi. Tapi ada orang lain yang Tuhan siapkan saat dimana, buat sa bersyukur.

     Skarang bukan zamannya lagi buat mengkalkulasihkan sebuah Kasi, skarang juga bukan lagi saatnya harus menahan gerakan hati dgn alasan karena membedakan "rasis". Skarang sudah saatnya tanpa pamri dlm menerima. Karena tra Ada alasan buat benci org, kecuali torang dilahirkan untuk itu [Nelson R Mandela]

     Sa bahagia hari ini, karena melihat sodara saya, yang bahagiah, "tra seberapa" Intinya jangan butu sodara saat perlunya, habis itu saat tra perlu lupakan. Tetap jaga silaturahmi melalui  komunikasih saja. Tra berat toh skarang zaman canggi.

Mohon dimaafkan, sa tra bermaksud mebggurui, atau apa di medsos, cuman personal ato lisan dgn tertutup yah sama saja. Berarti toh sama juga sa pilih kasih, disini berbagi rasa saja. Smoga ada yang bermanfaat. 🙏
     
16 November 2019
#ayomenulis

Post a Comment for "Jangan tanya pada ku "Di Mana Rimbanya""