Pertemuan Kedua di Situ Aspa
PERTEMUAN KE DUA di SITU ASPA
Jumpa pagi yang cerah, di tepian Situ Aspa, Bogor 04 Juni 2020
![]() |
| Pepohonan dari sebrang Situ Aspa. (Photo Hein A Rogi. Juni 2020) |
Bangun pagi tepat pukul, 06.33 wib. Setelah bangun memang kepikiran untuk mengambil gambar pinggir situ, untuk design sebua papan nama yang bertulisan “SITU ASPA”, namun saya lupa bawa handphone (hp), yang saya bawa hanya ember!
Sembari membuka pagaar dari pintu samping aspa tiba-tiba, ingat dua hari sebelumnya kaka Hein sembari tunjukan photo pucuk-pucuk pepohonan tinggi dan menyatu sama langit, "photo samping Situ Aspa"lalu kaka dia bilang “Jo ko bisa buat puisi dengan melihat gambar ini?”. Waktu itu saya hanya bilang bisa, namun tidak membuatnya dan hari ini, saat buka pintu si Tanta (Anjing paling kecil di Aspa) memang sudah menyambut saya depan pintu.
Balas Tanta dengan senyuman, sambil ules-ules kepalanya. Lalau dari tengah-tengah hutan depan saya menembus cahaya mata hari yang sedang terbit. Dengan sinar yang terang “seperti senter pada malam hari dalam hutan”, saya spontan berbicara sama Cahaya & Hutan itu dari pinggir Situ Aspa;
Cahaya & Hutan
“Di Pepohonan burung-burung belajar berterbangan dengan sayapnya mengejar butiran sinar di balik dedaunan.
Tapi saya tak mengerti!
Di Situ Aspa ikan-ikan belajar berterbangan ke sanah-ke mari dengan siripnya terlihat di balik cahaya,
Namun saya tak menegrti pula,
Aku hanya hutan kecil yang di tanam, lalu dimusnakannya lagi!
Kali ini kakak perempuan (Angel Silva Dewi) muncul dari dalam hutan dan menyambung puisi yang tadinya saya akhiri sementara sesaat “karena sepertinya akan turun hujan yang besar di tengah sinarnya”.
Cahaya kebutuhan dasar isi hutan yang tertidas,
tapi aku tak paham dengan jamur!
Hutan tanpa burung-burung, lebah, kupu-kupu dan seterusnya,
Aku semakin tak mengerti pula.
“Lalau kami berdua mengakhiri puisi itu (sama-sama)”
Kembang-kembang di aspa mendatangkan kupu-kupu,
namun hanya sebentar!
Dan kita paham bahwa umur kembang memang singkat!
Hutan kecil penyambung hidup ini akan musna karena kertas (uang),
Hanya karena kita tak paham dengan,…
Pentingnya Hutan!
Lalu kaka Angel bilang, “saya merindukan Bogor yang dulu, yang sekarang tergantikan gedung, jalan, persawahan, ini hutan sepangkal yang kau lihat adalah yang misterinya tersembunyi di balik Situ Aspa” saya hanya diam dan sedih mendengarnya, beberapa detik kami diam-diam saja kemudian saya izin untuk berpuisi depan kakak dalam hutan di temani kicauan burung-burung serta cahaya mulai tak bercahaya lagi. Berikut puisinya “Hutan Segalahnya Bagi Manusia”
Hutan Segalahnya Bagi Manusia
Wahai putra-putri Indonesia
Engkau generasi penerus bangsa
Untuk melindungi hutan Indonesia
Agar hutan tak rusak, di telan
Si angkasa murka
Hutan adalah paru-paru dunia
Hutan tempat penghasil ok,.,.si,.,.gen
Hutan tempat penghasil air
Hutan tempat tinggal satwa-satwa dan
Hutan segalahnya bagi manusia
Gunung-gunung yang besar mendekam
Bukit-bukit berbaris memanjang
Sungai-sungai, airnya mengalir bersih
Hamparan hijau yang membentang
Telaga kecil, yang menanti di tempat ini
Di alam yang indah ini
Siang yang panas…
Menyengat tubuhku!
Aku berlari,.. kebawah pohon yang rindang
Syukurlah, pohon-pohon itu masih kokoh berdiri
Tuhanku …
Atas karinia dan ridho-Mu
Aku bisa sampai di sini
Untuk menikmati rezeki-Mu
Keindahan alam yang nyata
Bukan hanya dalam mimpi
Sunggu, menakdjubkan keaggungan-Mu
Yah Allah!
Setelah saya mengakhiri puisi ini, kepala kak Angel masih bersandar di pundak saya, dan tangan kirinya memeluk tangan kanan saya, sementara tangan kirinya sambil celupkan ke dalam air, ternyata membasahi tangan untuk hapuskan air matanya,.,.
Akhirnya saya akan berdiri menimbah air, akan tetapi kaka Angel lemas dan panas tiba-tiba, “saya panik, bantu berdiri dan rangkul pelan-pelan tiga langka mundur ke belakang dari tepian Situ” sandarkan pada batu dan hendak mengambil air menggunakan ember yang tadi, dan nanti pake baju saya hendak basahi dan tempelkan di dahinya, situ yang tadi tak ada lagi; saya angkat muka memandangi sekitar tak ada lagi hutannya; hanya gersang yang saya lihat, saya balik negok ke arah yang tadinnya menduduki kaka Angel hanya ada beton;
Tinggalkan emer dan baju ke asrama hendak mengambil hp, mengambil gambar (photo) beton buatkan nama situ di beton yang tadi. Kembali ke kamar dan saya buat papan namanya di CorelDRAW. Design lagi proses tukang las nanti akan membuat tugu di batu itu dengan semen sebagai penanda.
Bogor, 04 Juni 2020
Jojo Elopere

Post a Comment for "Pertemuan Kedua di Situ Aspa"