Kalau Tidak Bisa Memberikan Hati untuk Semua Orang, Mencobah Meluangkan Waktu untuk seseorang

         

Kenapa kalau kita masih punya alasan untuk mengatakan, kalau ibu adalah segalahnya?. “Ibu itu seperti pohon, jika pohon menggugurkan daunnya dan akan menjadi pupuk kembali buat tunas yang lain dan juga regenerasi pertumbuhan dahan-dahan akan menjadi semakin rimbun. Berbedah dengan seorang ibu, jika anak yang ia kasihi sudah tiada lagi, semangat yang ia miliki bagai daun yang gugur namun tak lagi tumbuh. Bagaikan pohon di musim semi yang tak ada cadangan air di akar dan laju. Karena semangat dan kekuatan seorang ibu adalah anak-anak, bahkan dengan melihat anak-anak bahagiah dan sukses sekali pun seorang ibu tak perna memintah imbalan sepeser pun dari anak-anak” (Ibu Iis).

Lalu bagaimana anak-anak rantau, bagaimana sosialisasi dengan lingkungan di tempat kota studi?, jangankan anak rumah saja di pantau setiap gerak-geriknya! ini adalah salah satu hal yang menjadi pegumulan seorang ibu! Bahkan seorang ibu punya hubungan emosional yang begitu kuat dibanding seorang ayah.  Agar anaknya selalu sehat. Bisa saja bagi kita yang dipisahkan jarak dan waktu menjadi alasan yang mutlak bagi seorang ibu dan ia hanya beradu bergumul dalam doa dan air mata dengan Sang Maha Penyayang.

Ketidak sengajaan yang terjadi, karena ada seorang ibu yang mau bercerita, ia bagaikan pohon yang rindang “hatinya terbuka untuk mau bercerita”, dan di bawah pohon yang teduh itu terbuka agar siapa pun bisa bertedu dari panas, burung-burung pun bebas datang dan pergi, bersarang pun boleh bangat termasuk saya. Dalam waktu yang singkat saya mendengarkan cerita perjuangan seorang ibu yang mempunyai anak satu-satunya, namun karenah musibah yang tak diinginkan. Seorang ibu tersebut merasa anaknya baru saja dipeluk kemarin. Namun hari ini tiada. Begitu cepat rasanya sebuah seni kehidupan ini” katanya.

Tadinya ibu itu hanya mau ngomong-ngomong bahasa Sunda, karena setelah ibu tersebut tahu kalau saya bisa berbahasa Sunda, dan kami janjian untnk ngbrol. Katanya ia merasa di rumah walau pun lahir dan besar di tanah Papua namun masih bisa berbahasa Sundah. Pertemuan kedua tersebut bukannya ngobrol atau bercerita bahasa Sunda, malah ibu ini bercerita perjuangan kisa yang mengharuhkan!, saya tidak merasa itu adalah pelampiasan karena mungkin juga anaknya seumuran dengan saya. Tapi berusaha waktu yang saya punya, saya luangkan untuk mendengarkan dari awal sampai akhir cerita, “walau pun tak berkuasa menahan butiran di pipih yang harusnya tak terlihat oleh ibu ini” perjuangannya dari tanah Papua sampai ke Jawa hanya bermodalkan kartu tanda penduduk (KTP), mencari orang Papua di Jakarta sampai ke Asrama untuk berlindung sebentar, ikut antrean masuk  aiciu saja harus 14 hari, bahkan dua jam ia habiskan jalan kaki pulang pergi mencari obat ke apotek. Walau pun tak menjamin anaknya akan sembuh, sedangkan di akhir-akhir perjalanannya ia tidak menyadar kalau ada ambulance yang lewat adalah anaknya yang tak tertolong, namun sampai ia jatuh di selohkan. Hanya satu harapan agar anaknya sembuh. Seorang ibu ini dengan memasang badan di hadapan anak satu-satunya itu, ia berkata nak mama capek, tapi apa boleh buat nak? Mama iklas nak, dan depan ibu anaknya tersenyum namun sambil meneteskan air mata di pipih yang di mana sebelah ibunya berdiri. Anaknya menarik napas pelan, menutup mata lalu hembuskan napas terakhirnya.

Perjuangan seorang ibu tak sampai di situ, ia urus sampai mayatnya bawa pulang kembali lagi ke tanah Papua. Dan ibu ini tak ketinggalan perkembangan zaman seperti sekarang. Ia mempunyai cahnel youtobe yang isinya adalah aktivitas-aktivitas ibu-ibu, di  chanel yang ia punya meng update aneka masakan gado-gadoan dan lain-lain. Katanya yah mau ngapain lagi kalau begini terus, jadi ini kerjaan iseng saja katanya. Berikut nama chanel youtobe kalau mau kunjungi. Jika tidak keberatan bisa kasih like, comen dan susbribe juga boleh bangat memambantu perkembangan usaha ibu ini. Satu like kita sangat berarti buat ibu yang mau bercerita memawakili hati ibu-ibu yang melahirkan kita.

Umur panjang ibu-ibu hebat!

                                                                                  Manokwari, 5 Desember 2020


2 comments for "Kalau Tidak Bisa Memberikan Hati untuk Semua Orang, Mencobah Meluangkan Waktu untuk seseorang"