Potret Alami

     

JP, 18/11/21
     Selah gerimis, sedang kumpulan awan-awan di langit tanpa mendung. Mereka meriang mengiringi matahari mereka dalam damai. Dan umat-umat yang lain menjelang azan magrib berbondong-bondong menuju masjid. Seakan-akan terlihat sibuk sekali seperti saya yang sibuk berlaju terus berkaca mata kuda. 

     Mataku terus saja monoton arah cahaya yang sedang tenggelam sambil tersenyum. 

    Kaki terus mengayun sepada tua peninggalan keturunan bangsawan dari negeri Holland. 

   Gimana tidak lelucon? 

    Jalan berliku tanpa mata memandang keeksotisan jalan bebatuan yang ada! Entah siapa yang mengendalikan stir sepeda sampai menuju ke rumah panggung situ aspa yang separuhnya terbungkus kumpulan air berwarna  hijau lumut sedangkan sisi yang lainnya terbungkus hutan yang begitu terjaga keseimbangan ekosistem yang sangat seimbang sehingga keberadaan alam kaya akan keanekaragaman hayati itu seakan-akan  ingin memeluk. 

    Kedamaian hakiki yang baru saja dilewati, menyaksikan bagaimana matahari sedang pamit dan diiringi dari semua jagat raya ini dan juga mataku. Perasaan seperti membaca tanpa spasi, dari atraksi perpisahan itu memasuki keindahan kebumian yang katanya dalam buku ketuhanan pada awal penciptaan. Semua makhluk hidup rukun dan saling bersimbiosis mutualisme antar sesama mahkluk. Baik biotik dan abiotik pun begitu romantis. 

Rumah panggung yang kelihatan tua dan kokoh serta gagah berdiri (rumah panggung di atas air) di pinggir situ itu dan permukaan airnya ada ketinting (kapal motor kecil) sedanhg parkir dan talinya tertambat pada salah satu dari antara tiang dari rumah itu dan sampingnya ada tangga (beranak tangga tiga). Masing-masing dari anak tangga ada namanya yang tertulis dari bahasa asing, yang berukuran kecil sedangkan judulnya berukuran besar dalam bahasa asing juga yang artinya "Tri Tunggal Allah". Ujung samping dari kiri dan kanan dari setiap tangga ada obor yang terus menyalah (tidak pernah mati), obor-obor terebut tertanam dalam air, dan ketinggiannya sesuai tingginya anak tangga secara vertikal. 

     Dari kejauhan dengan jelas terlihat, ikan-ikan menari dan beterbangan dalam air sampai ada yang lompat ke permukaan namun tidak dipastikan entah itu adalah kawanan lumba-lumba. Lagi-lagi perjalan damai dan suka cita itu memanggil memori dari mulut para rasul di bait suci, khotbah pengantar orang yang mengakhiri kehidupan (meninggal) di bumi mau pun yang baru mengawali kehidupan yang baru (baptis). Katanya jika Ia orang benar, maka Bapak pemilik kepala ber urban di taman kesementaraan sebelum pimpinan malaikat Gabriel meniupkan seruling akan menyambut setiap pribadi dan saya berharap Ia membukakan pintu untuk ku dari dalam. 

Bersambung..... 

10 November, 2021

2 comments for "Potret Alami"