Cerita Perjalanan ke Gunung Ciremai 3.078 Mdpl
| Dock Pribadi, 2019 |
Kesel
juga sampai di Palutungan, ternyata petugasnya sudah pada pulang, terkunci
loket pembelian tiketnya (kata penjaga warung) biasa besok buka jam 6 lagi,.
Pengen kembali tidak jadi, karena lirikan sinis setiap insan yang ada pada
tertuju dan sayalah sasarannya, sayah tau mengapa mereka bertingkah aneh, yah
ellah karena sayalah yang memancing kali, mana tidak peduli lirikan mereka sama
penampilan pendaki pemula dikirahnya. Ahh
begoh lah saya bukan PENDAKI, tapi saya PETUALANG , itupun hanya terjadi
komunikasi interpersonal sudah hampir 10 menit berlalu mondar-mandir
kesana-kemari cari parkiran yang sudah penuh dan cari petugas, barangkali
mereka nongkrong di warung sebelah saya pikirnye.
Akhirnya
didatangi saya seorang priah yang baru lulus Sekolah Menegah Pertama (SMA) dia
dan kawannya mereka dua ini yang paling tua di kelompok pendaki dan sisahnya
kelas XII kebawah sampai anak SMP kelas VII. Kelompok pendaki ini ternyata dari
Ciamis. Yah obrolan yang ditemani sejuknya angin palutungan yang jadi saksi nyata, singkat
cerita karena memakan waktu, akhirnya spontan saja, saya bilang “punten kang,
abdi lain pendaki, tapi petualang” Artinye maaf bang, saya bukan pendaki, tapi
petualang, akhirnya jadi asik berbagi cerita petualangan dari “gunung, hutan,
perkotaan, sungai, pantai, sampai dalam goa’’ sbenarnya menjawab pertanyaan
yang berkaitan petualang dan bercerita “singkat, padat, dan jelas” dengan
menyesuaikan gaya bahasa anak-anak kich zaman now.
Akhirnya
mereka menawarkan meroko, minum kopi, ngemi wadauww, namun saya menolak dengan
cara yang hangat, karena dari siang ada acara hajatan kaka senior pramuka dan
main sama kaka pramuka yang lain main kerumah dan ketemu teman peramuka lagi
wadauww ngantuk parah, langsung saya izin keluar forum dari acara nongrong
langsung menuju ke tempat selther penghinapan pendaki yang tidak jau letaknya
dari kantin/warung. Langsung tutup korden selaput terlelap kebawa mimpi di
kejar petugas tanpa ketahui pelanggaran di kawasan Taman Nasional Gung Ciremai
(TNGC) eeh terbahngun dan tidak tidur lagi emang sudah pagi jam empat. Yah
sudah langsung lari keliling lapangan bolah voli yang di samping hampir jam 5,
dan didatangi lagi pendaki yang lain dan banyak lagi, jam 6 kurang 15 menit
saya sudah siap di pinggir.
Ketika
petugas datang masuk pintu masuklewat belakang, langsung saya mampir pintu
depan, setelah registrasi selesai pamit sama para pendaki lain yang antri di
belakang sampai parkiran/jalur pendaki. Lewat perumahan sambung ke lahan
pertanian di desa Cisantana dan ketemu ibu-ibu yang bergotong royong urusin
soal pangan di lahan mereka, dan ketika saya pamitan “punten/permisi) mereka
pun spontan saja “mau kemana, naik?” iyah ibu kata saya dan mereka bilang hati-hati yah, sampai perbatasan masuk
kawasan Zona Pemanfaatan gerbang masuk pendakian, langsung keluarkan kertas dan
kompas ikat dengan tali karmantel kecil, yang biasa orang bilang prusik mulai
membidik azimut/navigasi darat, melewati zona pemanfaatan masuk di kawasan zona
rimbah, dan sampai di zona inti, di jalan nemu kotoran Lutung Jawa
(Trachypithecus auratus) pada kordinat 320°BD, KM 56 pada jarak sebenarnya arah
barat daya di compas saya, nengok ke kiri ada flang bertulisan habitat Lutung
Jawa pada pohon pinus (Pinus merkusii sp) di
Zona Inti (10), teringat filem survival (Castaway
On The Moon) pas seorang pria yang lagi bertahan hidup dan menemukan buah/pohon
dari kotoran burung di atap selther bebek dayung, pinggir pantai, eeh malah ini
di hutan yah baru sadar menghayal rata-rata mata kaki wkwk. Cuman mikir
lagi kan disini tidak ada pohon kaliandra merah (Calliandra callothyrsus) atau
pun kaliandra putih (Zapoteca tetragona) soalnya sudah hampir zona Rimba dan
zona inti. Pohon kaliandra mera/puti kan
sudah saya lewati di kawasan perbatasan zona pemanfaatan, karena biji pohon
kalianda salah satu pakan lutung jawa, perna baca skripsi orang, ternyata
lutung jawa tidak makan biji kaliandra doang, aahk saya yang tolil lanjut lagi
sudah keatas. Cuman selain itu fungsi pohon kaliandra itu juga sebagai sekat
bakar, arang untuk bakar-bakar ikan, dan sebagai pembatas dari zona pemanfaatan
dan zona rimba, sengaja ditanam karena kulit dari pohon kaliandra lembab dan
lebat pula, fungsi pencegahan penyebaran api bila terjadi kebakaran hutan biar
api tidak menyebar atau sebrang kawasan.
Ternyata
sudah hampir dekat Cigowong, sudah kehausan yang belum pernah saya rasakan
sebelumnya. Pinggir jalan kiri dan kanan di kawasan vegetasi yang tidak begitu
rapat pada pucuk dedaunan/semak pun masih tersimpan bening-bening kaca laut ukuran kacang hejo, lumayan jika di kumpulin
bisa stengah liter kalau mau dan memang tidak punya persediaan air. Karena
masih punya dua taper ware, langsung berdiri sejenak sambil tarik napas
dalam-dalam kemudian hembusin perlahan. Berdoa bersyukur sama sang pemberi , duduk
dan arahkan ujung daun ke lidah, pejamkan mata sejenak menikmati kesegarannya dengan
rasa syukur yang paling dalam-dalam. Rasanya segar sekali dan kelelahan
terbayar dengan kesegaran hasil alam yang masih segar pula, walau sendiri saya tetap curhat sama diri
sendiri sama alam dengan komunikasih (interpersonal) kalau komunikasi sama alam
lebih banyak gunakan indera (penglihatan, pendengaran, dan perasaan) banyak
ilmu di alam mana pun termasuk kawasan tngc, karena berjalan sendiri tetap
fokus dan waspada segalah resiko dari diri dan lingkungan.
Akhirnya
tibah di Cigowong, 1.450 m.dpl- km 5,6. Niatnya meminta trac back sama
pengelolah yang ada di Cogowong, sayangnya tidak ada orang disana, karena lupa
bawa buat pungkut sampa-sampa para pendaki, (tidak semua pendaki, keknya
pendaki pemula yang masi transisi kebiasaan rumah). Baru pertama lihat para
pendaki yang habis camps, lagi sibuk pulah masak, ngobrol, nyuci dls, eeeh ada
tengki besar bergambar burung penguin hitem (Chinstrap penguin) color black and
bacround orange yang baru yeah dulu ndak
ada” simpen tas minum air basahin teggorokan (Faring) sedikit saja,
walau su dekat sumber air yang melimpah, “tapi itu bukan prinsip seorang JUNGLE
SURVIVAL. Karena melakukan kegiatan survival (survive) bukan masalah makan dan
minum, tapi bagaimana cara bertahan hidup, dalam kondisi keterbatas sumberdaya
dan terancam dalam kondisi tertentu, dari berbagai hambatan dan rintangan apa
lagi ancaman. Jadi tinggal nambah air yang kosong dan teruskan perjalanan (Travel). Mereka juga tidak segan, bartanya lagi
mau naik? Sendiri saja? Kabut bang mending kembali/istirahat dulu! “manusia
lemah, yang terlahir masih zaman krisis semangat” (kata batin saya). Saya pun
mengiyahkan, “ tapi maaf saya bukan pendaki kek kalian, “harus ngekem,
berhari-hari, robongan, terus lengkap lagi” saya datang kemari lagi belajar
sama alam dan menambah pengalaman” agar
jadi bahan cerita yang memacu jiwa “ OTODIDAK, PETUALANG & SURVIVOL”
Fokuskan
bidikan tertajam, langkah-langkah dinamis, tapi perlahan sembari lemparkan
suara pamit menuju ke arah 80,5° KM 15 JS, Pas di kamar kecil Cigowong baju
jacket saya lepa karena panas, dan di badan tinggal dua baju lagi, yang bagian
tenga/keduanya pakaian dinas lapangan (pdl) pramuka yang baru di kasih kak Nana
Karno unit protokoler angkatan dua (UP2) dan mantan ketua dewan kerja kwartir
cabang Kuningan, Gerakan Pramuka (purna dkc) tahun 2013-2017). Di baju
bertulisan (SCOUT for Leader) di cover tas bertulisan Tracker, komersil yeah
“batin” tapi biar mereka dan pendaki seterusnya biar tidak aneh menilai saya
seperti pendaki sebelumnya. Mungkin mereka anggap anak pramuka atribut, gelouw
atribut pramuka saya tidak perna belih? Semua diperoleh dengan perjuangan dan
termasuk baju juga pemberian, yah sudah.
Sebelum
nanjak sebrang sungai cigowong, kerahk baju basahin buat persediaan minum di
jalan (pembasa mulut) eehk ketemu dua orang lain lagi, tapi kek ada yang aneh.
Karena dua orang pria tersebut tanpa membawa apapun barang selain kaos tangan
di tangan, harusnya saya kagum sama dua pria tersebut karena bisa saja saya
sangka siapa tau mereka adalah survivor. Tapi kan tatapan saya itu lebih tajam
dan lebih fokus lagi dari kompas, jeng jeng jeng. Tanpa basa-basi, kalian
berdua nyasar bukan? Dari mana bang? (sambil ajak salam) Kata mereka dari
Majalengka “iyah bang dengan rombongan, tapi rombongan tinggalin kami dan kami
kejar tapi ternyata nyasar. Apakah pos satu (Cigowong) masih jau? Tenang aje
tatapan selouw saya dengan bahasa tubuh yang mengikuti, dengan tujuan
mengurangi rasa panik mereka! Terus saya bertanya sama yang depan, tapi
pandangan fokus yang di belakang kek kamerah Nikon ajeee (fotografi fotografer
profesional) malah yang jawab pertanyaan tetap yang di depan, huhu nyasar pula
dirinya dengan pandangan tanjam saya, katanye iyah bang smua barang bawaan kami
di pos lima, karena ngekem disana, haaaa bushheheheet buangat, tidak kembali
kalian sampai sejau ini? Sudah tau nyasar mala menyusahkan kawan mereka dengan
barang bawaan dua manusia ini? Akhirnya mereka sambari nunjukan sungai kecil
/air (Tirta) Cigowong) minum saja dulu kang, setelah tenang saya beritahu, ini
pos satu kang, ini namanya sungai Cigowong, Nanti habis ini lurus ikuti saja
papan-papan interpretasi di sepanjang jalan. Smoga tidak nyasar lagi. Selamat
pagi...
Dari
Cigowong pos 1, 1.450 m.dpl sampai Goa Walet pos 6, 2.945 m.dpl. terlihat dan
lihat saja banyak jalur yang berubah dan masih bagus jalannya, pada hal info
yang saya tau dari tempat loket hampir 500 pendaki/minggu dan tak perlu
menyalahi siapapun. Karena jalur akan terlihat bedah mau itu pengunjung dengan
jumlah banyak atau sedikitnya. Kalau lihat dari musim di bumi katulistiwa ini
kan cuman dua musim saja, musim hujan dan musim kemarau, bedah dengan negri
minyak (Arap Saudi) atau bumi bagian kutub utara pada umumnya yang punya
beragam musimnya. Contohnye tergantung dari musim, toh juga negri Zamrud Khatulistiwa (indONEsia) kan dua musim saja, dari
April hingga september masih musim kemarau, dan sisahnya musim hujan. kok
pagi-pagi smua pendaki pada bilang bang hati-hati kabut yah, emang hujan juga
kok aneh yeah. Lebih aneh lagi saya temui mereka para pendaki badan masi
terbungkus dengan poco/jas hujan dan cepat-cepat langka mereka apa lagi
menurun, sementara kontra dengan titik kordinat yang saya cari di peta antara
108° BT dan 7° LS.
Yah mungkin karena saya tidak jalan saja seperti mere yang
berkelompok dan banyak menggunakan indra mulut (suara), sementara saya fokus
dengan indra (mata,rasa dan telinga) cobah ente bayangkeun dari pos 3,
Pangguyangan Badak 1.500 m.dpl km 4,5 sampai ke Pasanggrahan dua pos 5/6 2.450
m.dpl, km 1,6 apa lagi tanjakan asoy mampslah saya. Di sanah terjadilah
kesalahan biasa dianggap remeh tapi fatal dan mungkin bagi orang awam saja
tidak munkin melakukan hal yang konyol tersebut meurut mereka. Sekalipun mereka
hidup berdasarkan hukum tradisi atau bergantung pada alam. Dan ini bukan
masalah pelit atau apa tapi itu adalah etika yang falit bagi pendaki, yah dari
pada so tau intinya, saya melihat dua bocha yang kehabisan logistik minum dari
puncak, nah di sana saya main indra belas kasiahan buka provesional, akhirnya
yah sudah ini air saya dua botol, satu buat kalian the sama satu tanggo tak
apa, pada hal itu posisinya pertengahan pos 3 ke pos dua, kan toh juga dekat
hampir pos 1. Tapi juga namanya pake indra perasa kalau di perkotaan mereka
bilang bawa perasaan (baper) tapi bedah baper di kota sama di hutan, aslihnya
lagi kontra dengan batin 96% saya harus provesional, tapi orang barang saya
punya, saya masih punya satu lagi dan saya masih bisa cari apa lagi terlihat
dua bocha SMA, duanya wanita pula! Mungkin entah penghuni tngc yang menghantui
saya siang terang itu. Saya juga tidak
punya kuasa untuk menahan diri sayanya. Namun menemukan bahan belajar,
bagaimana harus cepat ambil keputusan. Tanpa harus pikir panjang sama saja
menunggu orang biarkan sementara terancam dengan kondisi survaiveinya.
Perdebatan perang batin dengan provesionalisme dan belas kasihan saya simpan sementara
mereka masih didepan saya! Karena waktu tidak menunggu.
Teruskan berjalan melintasi medan yang menantang tanpa melupakan
bidik dan catat tanpa gauli onak dan duri sahabat terbaik saya, karena
melintasi jalur yang sudah tidak jau bedah dengan jalan tol mungkin rasanya kek
jalan tol di Pan Amerika km 48.000, yang naik kendaraan sementara saya berjalan
kira-kira km 21,8 (dari data yang di setiap pos/papan iterpretasi) berjalan
sambil mencari yang tidak terlalu penting menurut wisatawan. Dan sebelum pos 5
ke 6, Pasangrahan km 1,3. Ketemu burung pas dulu diajak anak smkn1 waktu itu
sebelum naik perna dengar cerita mistis. Katanye ada burung pembawa jalan,
orang yang pertama naik pasti dia akan menuju puncak dan harus ikutin, tapi
dulu saya perna nyasar entah dimana burung itu tidak muncul pas turun dari
puncah kehujanan dan malam pula maklum burung itu mungkin lagi disarang entah
dimana. Namun setelah nyasar berjalan sekitar km 200, saya melakukan teknik
(“sating, thinking, observation, and planning”STOP) syukur the selamat juga
tidak terlalu nyasar apa pagi dulu pertama naik jadi leader buka jalan
sementara yang lain ada yang swibar ditengah dan ada juga maidel pas terakhir
bangat biar komunikasi antar kelompok bisa efektif apa lagi jika nyasar karena
komunikasi tiga orang ini saling handel jika kejadian kecepatan jalan atau ada
yang ketinggalan smua di komunikasihkan. Dan benar burung itu perna lihat dan
tidak asing lagi ketemu burung itu lagi, cuman bedahnya dulu dia terbang doang
hinggap di pinngir pohon yang bawa dan menunggu sampai hampir dekat dan dia
lanjut terbang lagi, serta dia jaga jarak kalau pas lagi kabut tidak kelihatan tapi
bedahnya kali ini dia burungnya sudah berubah perilaku tentu saja karena ulah
kita ataupun karena saking rame dan jadi terbiasa jinak pula burungnya. Pada
hal dipohon terlihat flang “mohon jangan memberi satwa makan” buktinya? Yah
mungkin burung pungut makanan sisa-sisa manusi, bisa jadi bukan? Sekalipun
sedih juga tapi. Sambil tetap bidik ikuti langka dan sayap burung tersebut
ketika dia cari makan berupa cacing dan semut saya tungguin dan sesudah jika ia
terbang lagi atau jalan saya ikuti hampir km 15 pada jarak sebenarnya. Dan
ketemu sekelompok pendaki lagi dan pas dekat camp pendakian dan burung tersebut
terbang menuju ke kanan dan saya mengikuti. Eeh disana ada wortel limah buah,
garam satu bungkus, tras back enam buah dan sepasang kaos tangan yang bedah
warna, (warna hitam polos sama bergaris puti-ungu bacround/dominan ungu) Terkecut
dengan burung membawa saya sampai barang yang memang saya butuh benaran,
melihat benda-bendah itu taru tas duduk ambil napas dalam-dala dibawa mata kaki
burung tersebut dan berdoa berterimah kasih sama Tuhan, burung itu ke pinggir
pada ranting pohon dan memperhatikan gerak-gerik saya, ambil kamerah dan
mengkopi gambar dirinya dia tenang-tenang saya, dan saya lanjutkan perjalanan
lagi burung itu tetap tinggal disitu. Syukur akhirnya taru tas makan makan
makanan rumah sebagian dan kantongi makanan tadi. Dah akhirnya sampai goa walet
2.945 m.dpl duduk sambil packinb basa dan penuhi stok air minum dan kembali
lagi bekasnya tampung lagi buat yang lain.
Terus keatas lagi ketemu kelompok pendaki paling terakhir ada 5
orang dari bogor kata mereka, dan saya pun bilang dari Bogor, mereka lebih
parah lagi dari dua wanita sebelumnya, sudah lima orang tapi tak punya
persediaan air yang cukup buat mereka. Dan saya sudah banyak belajar dari
pengalaman sebelumnya saya membantu orang burung menujukan barang yang saya
butukan toh makan wortel juga banyak mengandung air, dan saya tidak lagi
mikirin diri tapi mikir mereka dan tanpa pikir yang panjang lagi, kabut sudah
dari arah utara menuju ke selatan bahkan kabut mengguling-guling kebawa kawa
dan naik lagi, mungkin mereka ketakutan mereka bilang tidak ada siapapun diatas
dan tawarin untuk turun lagi/? Aei mama sayang sudah dekat sekitar satu menit
lagi puncak enak bangat omongan mereka wkwkw. Akhirnya saya bilang santai
abang-abang saya bukan pendaki tapi petualang, jika kejadian seperti itu diatas
bagi saya adalaha tantangan yang harus lewati bukan meninggalkan. Karena
matahari akan muncul setelah dibalik kabut itu, dan itu yang saya kejarrr.
Akhirnya mereka yang putusin pamit duluan kebawah saya lanjut sampai puncak terlihat
mendung kira-kira dua jam lagi upacara sunrisenya mulai, naik berdoa sejenak
rasa-rasa haru karena bisa sampai di puncak Puji Tuhan, tinggal bka baju kedua
dan baju pertama/paling dalam kaos puti bekas baju Pertiwana Nasional IV,
dengan tulisan dibelakang “pra pue 2019, 3.078 m.dpl” setelahnya yah sudah
sambil fotoh-fotoh keliling kawa selama dua jam dan ketika hampir upacara
sunrisenya kamera mati sudah bateraynya, mungkin keindahan alam yang alami di
lihat dan menikmati juga harus alami dengan mata bukan jebretttt terus jadikan
komersil di media soasial yang memang lagi treennya seperti zaman sekarang, yah
sudah hamburkan garam diatas diantara batu batu di kawa bagian LS colik-colok
wortel sama garam kek ngerujak beneren, terus packing lagi dan kembali ke titik
semulah karena dari sana bisa terlihat dengan jelas beberapa orang kelompok
pendaki lain smuanya pada bocha anak SMA kelas XI dan XII 6 orang cowo dan 1
orang cewe, saya lewat mereka tidak terlalu perhatiin ketika saya lewatin
mereka dan buka baju jacket dan sepatu serta kaos tangan, taru diatas batu
sandarin tas di sampingnya, tiduran lihatin matahari masuk sampai gelap.
Matahari sudah masuk sampai gelap di susuli bulan terang dan
sekitar kawa tidak ada lagi kabut disana, astagaaaaa tidak habis pikir hanya
diam walau semua badan jadi keram kedinginan, tapi meyakini diri, selama
hembusan nafas tetap hangat berarti saya masih kuat dan terlihat lampu-lampu
perumahan, jalanan di Kuningan, Ciamis, Majalengka, dan Cirebon terlihat indah
pula. Bangun dan bersiap turun kenakan semua perlengkapan keluarin haet lamp taru
di kepalah hanya saja tidak saya nyalakan, karena persediaan penerangan dari
sang pencipta (bulan) masih terang dan prinsip Jungle Survival, tatap melekat
selama masih bisa dengan kata lain selagi masih bisa andalin mata, bulan,
bahkan vegetasi jalur terbuka jelas, jadi saya tidak perlu andalin senter dan
susuli 7 orang bocha, karena saya pulang pergi keluarin tres back satu mulau
pungut sampah-sampah pendaki yang terlihat di mata saya di sepanjang
perjalanan, saya melaju dari jakur sebelah karena malam itu juga harus ke
Bogor, ternyata mereka menahan dan memohon untuk turun bareng tuntun mereka, dan
alasan klasik mereka adalah takut nyasarrr parahnya lagi mereka hanya andalin
senter hp, akhirnya salaman sama mereka sembari kenalan dan saya buatkan
pembagian tracknya, senter besar saya pinjemkan yang cewe dan tempatkan dia
sebagai leader, agar para cowo ikutin langkanya, dan satu cowo dari mereka taru
sebagai maidel dan satu lagu sebagai swibber dibelakang dan jelasin funsinya,
dan saya berjalan sambil tetap pungut sampa di belakang swibber.
Sampai pertigaan goa walet tiga orang mengambil air, yah lumayan
tiga botol yang sedang sementara tape ware saya kosong, tapi sellow masih punya
wortel dan Cigowong sedang menunggu, akhirnya sampai pertigaan Apuy berpisa
dengan mereka, bukannya pelit aslinya tetap saya pakai indra belas kasihan atas
keterbatasan penerangan sama mereka sayangnya kedua senter adalah barang
pinjaman, yah solusinya saya jujur sama mereka, tidak bisa saya pinjamin karena
alasan pinjaman, saya pinjam di pinjemkan bae-bae masa barang tidak kembali
lagi, lucu broo kepercayaan itu seperti mata uang yang berlaku dimana-mana.
Jadi indra belas kasihan mengalah atas kepropesionalisme, sementara mereka
menawarkan bang turun lewat apuy lah persediaan logistik masih banyak kok, cuman
sayangnya belum bisa karena motor pinjaman tidak bisa ditinggal pula, akhirnya
mereka memintah no hp, katanya mau ajak naik gede pangrango, akhirnya berpisah
dan terus pungut sampah sampai di 7 (sanghayang ropoh, ke tiga pos tersebut
terkumpul sampah tissue yang mendominasi hampir setengah dari tras back, itupun
yang terlihat sama mata saya dan yang di sepanjang kiri-kanan, belum saya
tengok lima langka ke dalam, pasti bekas wanita dari tissue basa sampai kering
banyak bauangat tha, dan ide cemerlang mulai muncul dan berharap masih pa Idin
yang masih kepala balai, eeh ternyata sudah ganti dan tidak ada lagi di
loketnya.
Mengapa berniat bertemu kepala balai? Karena mau memberikan
saran berdasarkan kesimpulan dari sampah tissue dan kaitakan dengan hutan dan
masalah konservasi. Karena isu global skarang itu kalau baca ngeri bangat tha,
tidak perlu jau-jau contoh saja gimana sih kalau hutan di tngc digundulin buat
produksi tissue? Dengan mengurangi sampah tissue di kawasan perlu penegasan
berupa (aturan, perlindungan dan kebijakan) yang trasparan agar lancar
pemasaran potensi wisata alam yang dengan ciri khas seperti bunga adeuweis dls,
sayangnya tidak ketemu kepala balai, penjaga loket tidak punya kontak kepala
balai pula, alasannya konyol benaran, pada hal awalnya beliau yang bertugas
malam mengira saya orang baru di Kuningan, eh tanya pa Idin, pa Marioto, pa
Lukman, dia bilang maaf saya orang baru disini wkwk, lebih gillelele lagi
alasan berikutnya. Yah percaya tidak percaya tapi inilah kenyataan pemasaran
potensi wisata tanpa berkemas baik, apa lagi wisata alam seperti tngc, yang ada
hanya kita yang mengambil manfaat tapi tidak melindungi, entah kekurangan
personel? Humm lebih tolol lagi alasaanya, namanya Taman Nasional itu termasuk
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masa tidak punya duit? Devisa negara dari tahun
ke tahun sejak 2004 dari sektor pariwisata selalu meningkat statistiknya.
Pemudah masih banyak yang pengangguran. Tidak perlulah berurusan dengan barang
yang dianggap reme karena sudah tradisi atau dalam zona nyaman, yoouweiss
banyak cara membelah suarah rakyat kecil itu tidak harus dengan selalu beradu
argumen, apa lagi demo sama pemerintah. Bersyukurnya saya masih mudah masih
punya waktu entah kapan bisa ketemu pa Idin dkk, masalah pengelolaan kawannya
terapin ilmu kampus mimpi hidup rupanya karena khayalan di sepanjang perjalanan
dengan penuh kesalan memikul sampa tissue!
ketemu pendaki yang lagi anjak ada yang ngekem sampai pertengaha
pos 2 kuta ke pos 1 cigowong, pas pertigaan jalan jalan lama yang jadi jalur
evakuasi, terlihat pohon pisang, yang segar skali banyak pulah airnya, cuman
pas naik bekas jalur lama tak ada pisang kok aneh bisa ada pohon pisang tadi
tidak terlihat yah, (batin) lanjut lagi kebawah dan kehausan parah akhirnya terbaring di tengah
jalan, lampus senter matikan mengheningkan diri, sekitar dua menit, buka kaos
tangan biar tangan kenah angin danrasakan kesegaran anginnya cukup menyembuhkan
rasa haus, syukur tha akhirnya lanjut lagi perjalanan.
Akhirnya sampai di cigowong setengah tape ware terminum, karena
kondisi malam dari puncak sampai pos satu banyak bersentuhan badan, tangan dan
lainnya sama alam, dan energi ketarik sama alam dan kelelahan yang melelahkan,
belum baca entah teori siapa, tapi itu pengalaman saya, bisa sajalah karna
memang bedah pengalaman, kecuali kek tongkat jadi penuntun jalan dia akan
menyatuh dengan kita jadi tidak terlalu banyak menarik energi, bedah dengan
bersentuhan dengan barang/bendah yang tersentuh dan beragam pulah, masalahnya
bukan karena beragam, tapi semakin banyak bersentuhan ibarat kita cabut rumput
pasti capek karena namanya kerja kita keluarkan energi dan itu sudah
pasti/mutlak tidak bisa diganggugugat lagi, dan di alam atau prinsip seorang
survaivel benar-benar menghargai semua sumberdaya dan tidak perna punya niat
boros energi apapun jenisnya.
Banyak pendaki temui dijalan dari pos dua kebawa adalah yang
hendak mendaki, sementa dari pos enam adalah yang hendak pulang atau ngekem
lagi, sesampainya di kawasan zona pemanfaatan vegetasi pinus dan kaliadra
terbuka, sekalipun bulan yang tadi terlihat terang bangat di puncak sudah
terbungkus awan, namun mata saya masih bisa melihat jalur pendakiaanya dan
banyak pula pendaki yang naik,dan bukan iseng atau apa, tapi niat hemat senter
sekalipun sudah hampir tibah di palutungan. Cuman tetap prinsip survivor itu
berlaku dimana saja dan kapan saja. Astaga jadinya bikin pendaki yang jadi
ketakutan sekalipun mereka melihat dan yang lain diam, yang lain senterin, dan
yang lain lagi bilang apa senter anda mati? Selain itu juga memancing ada tidak
sih jiwa pendaki yang bisa membantu yang lain seperti saya di puncak, tanpa
memikirkan resiko, jika ada yang pekah bararti bagus mu ngkin saya chek lish
akan dia pendaki provesional dan dari sekian banyaknya ternyata yang saya jumpa
dalah pada bocha semua pendaki pemula, kick zaman now, kegunung hanya mau fotoh
doang cari spot fotoh yang bagus posting fotohnya di medsos itu doang tanpa
memperhatikan kebersihan lingkungan, buktinya lintasan 3 pos lebih banyak
sampah tissue, secara mental, fisik belum terbentuk hanya saya akui mereka
adalah yang tidak punya nyali seperti saya yang bikin kawan korban atau
sebaliknya.
Sampai gerbang pendakian ketemu pak Sutrisno salah satu satf pengelolah jasa traveler bagi wisatawan singkat cerita beliau kesanah kekebun bawan snaiper cari kelelawar di kebun yang habisin pisang, dikasih 3 buah seger bener dan lanjut menympan bawa barang bawaan menuju loket lapor kembali, dikasih dua kertas dikira semua tiket makan saya masih kenyang dengan buah, kertas tadi lipat-lipat taru dalam jok motor kecil didepan hehe, sampai sekolah mau buang di tempat masalah, eee ternyata kertas tadi adalah sebuah sertifikat pendakian.
Tamat.,.,.,.,.
Post a Comment for "Cerita Perjalanan ke Gunung Ciremai 3.078 Mdpl"