Cerita Perjalanan ke Gunung Ciremai 3.078 Mdpl


Dock Pribadi, 2019
     Pada 14 Juni 2019 pada pukul 21:14 awalnya memang niat berangkat dan bawa semua peralatan seperti yang para pendaki, cuman bedahnya saya sederhana saja, tidak memakai Carier, pakaian bermerek lainnya, isi tas yang covernya bertulisan TRACKER (tas bersejarah pemberiang (warisan) dari kaka Chritian Hans Rumbeckwan (P3 angkatan 50 diploma ipb) yah isinya “Hemoq, sleeping back, tali rafia, hetlem 1, senter besar 1, kamerah Nikon 1, kompas bidik 1, kertas bekas 2, pulpen 1, taper wear 2, ponco kelelawar 1, spatu gunung 1, topi hangat 1, dan pakain ganti 1 pasang” smuanya barang pinjaman kecuali sleeping back dan satu taper wear serta pakaian. Saya pikir memang manusia takpunya nyali diriku ini! (jadinya menguji nyali) `Cuman modal niat doang, dan berangkat dari UP Grafika SMK Negeri 1 Kuningan menuju ke Palutungan, ternyata sampai disana banyak pendaki yang beragam dari dewasa sampai bocha SMP kelas VII paling kecil.

Kesel juga sampai di Palutungan, ternyata petugasnya sudah pada pulang, terkunci loket pembelian tiketnya (kata penjaga warung) biasa besok buka jam 6 lagi,. Pengen kembali tidak jadi, karena lirikan sinis setiap insan yang ada pada tertuju dan sayalah sasarannya, sayah tau mengapa mereka bertingkah aneh, yah ellah karena sayalah yang memancing kali, mana tidak peduli lirikan mereka sama penampilan pendaki pemula dikirahnya. Ahh  begoh lah saya bukan PENDAKI, tapi saya PETUALANG , itupun hanya terjadi komunikasi interpersonal sudah hampir 10 menit berlalu mondar-mandir kesana-kemari cari parkiran yang sudah penuh dan cari petugas, barangkali mereka nongkrong di warung sebelah saya pikirnye.

Akhirnya didatangi saya seorang priah yang baru lulus Sekolah Menegah Pertama (SMA) dia dan kawannya mereka dua ini yang paling tua di kelompok pendaki dan sisahnya kelas XII kebawah sampai anak SMP kelas VII. Kelompok pendaki ini ternyata dari Ciamis. Yah obrolan yang ditemani sejuknya angin  palutungan yang jadi saksi nyata, singkat cerita karena memakan waktu, akhirnya spontan saja, saya bilang “punten kang, abdi lain pendaki, tapi petualang” Artinye maaf bang, saya bukan pendaki, tapi petualang, akhirnya jadi asik berbagi cerita petualangan dari “gunung, hutan, perkotaan, sungai, pantai, sampai dalam goa’’ sbenarnya menjawab pertanyaan yang berkaitan petualang dan bercerita “singkat, padat, dan jelas” dengan menyesuaikan gaya bahasa anak-anak kich zaman now.

Akhirnya mereka menawarkan meroko, minum kopi, ngemi wadauww, namun saya menolak dengan cara yang hangat, karena dari siang ada acara hajatan kaka senior pramuka dan main sama kaka pramuka yang lain main kerumah dan ketemu teman peramuka lagi wadauww ngantuk parah, langsung saya izin keluar forum dari acara nongrong langsung menuju ke tempat selther penghinapan pendaki yang tidak jau letaknya dari kantin/warung. Langsung tutup korden selaput terlelap kebawa mimpi di kejar petugas tanpa ketahui pelanggaran di kawasan Taman Nasional Gung Ciremai (TNGC) eeh terbahngun dan tidak tidur lagi emang sudah pagi jam empat. Yah sudah langsung lari keliling lapangan bolah voli yang di samping hampir jam 5, dan didatangi lagi pendaki yang lain dan banyak lagi, jam 6 kurang 15 menit saya sudah siap di pinggir.

Ketika petugas datang masuk pintu masuklewat belakang, langsung saya mampir pintu depan, setelah registrasi selesai pamit sama para pendaki lain yang antri di belakang sampai parkiran/jalur pendaki. Lewat perumahan sambung ke lahan pertanian di desa Cisantana dan ketemu ibu-ibu yang bergotong royong urusin soal pangan di lahan mereka, dan ketika saya pamitan “punten/permisi) mereka pun spontan saja “mau kemana, naik?” iyah ibu kata saya dan mereka  bilang hati-hati yah, sampai perbatasan masuk kawasan Zona Pemanfaatan gerbang masuk pendakian, langsung keluarkan kertas dan kompas ikat dengan tali karmantel kecil, yang biasa orang bilang prusik mulai membidik azimut/navigasi darat, melewati zona pemanfaatan masuk di kawasan zona rimbah, dan sampai di zona inti, di jalan nemu kotoran Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) pada kordinat 320°BD, KM 56 pada jarak sebenarnya arah barat daya di compas saya, nengok ke kiri ada flang bertulisan habitat Lutung Jawa pada pohon pinus (Pinus merkusii sp) di Zona Inti (10), teringat filem survival (Castaway On The Moon) pas seorang pria yang lagi bertahan hidup dan menemukan buah/pohon dari kotoran burung di atap selther bebek dayung, pinggir pantai, eeh malah ini di hutan yah baru sadar menghayal rata-rata mata kaki wkwk. Cuman mikir lagi kan disini tidak ada pohon kaliandra merah (Calliandra callothyrsus) atau pun kaliandra putih (Zapoteca tetragona) soalnya sudah hampir zona Rimba dan zona inti.  Pohon kaliandra mera/puti kan sudah saya lewati di kawasan perbatasan zona pemanfaatan, karena biji pohon kalianda salah satu pakan lutung jawa, perna baca skripsi orang, ternyata lutung jawa tidak makan biji kaliandra doang, aahk saya yang tolil lanjut lagi sudah keatas. Cuman selain itu fungsi pohon kaliandra itu juga sebagai sekat bakar, arang untuk bakar-bakar ikan, dan sebagai pembatas dari zona pemanfaatan dan zona rimba, sengaja ditanam karena kulit dari pohon kaliandra lembab dan lebat pula, fungsi pencegahan penyebaran api bila terjadi kebakaran hutan biar api tidak menyebar atau sebrang kawasan.

Ternyata sudah hampir dekat Cigowong, sudah kehausan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Pinggir jalan kiri dan kanan di kawasan vegetasi yang tidak begitu rapat pada pucuk dedaunan/semak pun masih tersimpan bening-bening kaca laut  ukuran kacang hejo, lumayan jika di kumpulin bisa stengah liter kalau mau dan memang tidak punya persediaan air. Karena masih punya dua taper ware, langsung berdiri sejenak sambil tarik napas dalam-dalam kemudian hembusin perlahan. Berdoa bersyukur sama sang pemberi , duduk dan arahkan ujung daun ke lidah, pejamkan mata sejenak menikmati kesegarannya dengan rasa syukur yang paling dalam-dalam. Rasanya segar sekali dan kelelahan terbayar dengan kesegaran hasil alam yang masih segar pula,  walau sendiri saya tetap curhat sama diri sendiri sama alam dengan komunikasih (interpersonal) kalau komunikasi sama alam lebih banyak gunakan indera (penglihatan, pendengaran, dan perasaan) banyak ilmu di alam mana pun termasuk kawasan tngc, karena berjalan sendiri tetap fokus dan waspada segalah resiko dari diri dan lingkungan.

Akhirnya tibah di Cigowong, 1.450 m.dpl- km 5,6. Niatnya meminta trac back sama pengelolah yang ada di Cogowong, sayangnya tidak ada orang disana, karena lupa bawa buat pungkut sampa-sampa para pendaki, (tidak semua pendaki, keknya pendaki pemula yang masi transisi kebiasaan rumah). Baru pertama lihat para pendaki yang habis camps, lagi sibuk pulah masak, ngobrol, nyuci dls, eeeh ada tengki besar bergambar burung penguin hitem (Chinstrap penguin) color black and bacround orange yang baru yeah dulu ndak ada”  simpen  tas minum air  basahin teggorokan (Faring) sedikit saja, walau su dekat sumber air yang melimpah, “tapi itu bukan prinsip seorang JUNGLE SURVIVAL. Karena melakukan kegiatan survival (survive) bukan masalah makan dan minum, tapi bagaimana cara bertahan hidup, dalam kondisi keterbatas sumberdaya dan terancam dalam kondisi tertentu, dari berbagai hambatan dan rintangan apa lagi ancaman. Jadi tinggal nambah air yang kosong dan teruskan perjalanan (Travel). Mereka juga tidak segan, bartanya lagi mau naik? Sendiri saja? Kabut bang mending kembali/istirahat dulu! “manusia lemah, yang terlahir masih zaman krisis semangat” (kata batin saya). Saya pun mengiyahkan, “ tapi maaf saya bukan pendaki kek kalian, “harus ngekem, berhari-hari, robongan, terus lengkap lagi” saya datang kemari lagi belajar sama alam dan menambah pengalaman”  agar jadi bahan cerita yang memacu jiwa “ OTODIDAK, PETUALANG & SURVIVOL”

Fokuskan bidikan tertajam, langkah-langkah dinamis, tapi perlahan sembari lemparkan suara pamit menuju ke arah 80,5° KM 15 JS, Pas di kamar kecil Cigowong baju jacket saya lepa karena panas, dan di badan tinggal dua baju lagi, yang bagian tenga/keduanya pakaian dinas lapangan (pdl) pramuka yang baru di kasih kak Nana Karno unit protokoler angkatan dua (UP2) dan mantan ketua dewan kerja kwartir cabang Kuningan, Gerakan Pramuka (purna dkc) tahun 2013-2017). Di baju bertulisan (SCOUT for Leader) di cover tas bertulisan Tracker, komersil yeah “batin” tapi biar mereka dan pendaki seterusnya biar tidak aneh menilai saya seperti pendaki sebelumnya. Mungkin mereka anggap anak pramuka atribut, gelouw atribut pramuka saya tidak perna belih? Semua diperoleh dengan perjuangan dan termasuk baju juga pemberian, yah sudah.

Sebelum nanjak sebrang sungai cigowong, kerahk baju basahin buat persediaan minum di jalan (pembasa mulut) eehk ketemu dua orang lain lagi, tapi kek ada yang aneh. Karena dua orang pria tersebut tanpa membawa apapun barang selain kaos tangan di tangan, harusnya saya kagum sama dua pria tersebut karena bisa saja saya sangka siapa tau mereka adalah survivor. Tapi kan tatapan saya itu lebih tajam dan lebih fokus lagi dari kompas, jeng jeng jeng. Tanpa basa-basi, kalian berdua nyasar bukan? Dari mana bang? (sambil ajak salam) Kata mereka dari Majalengka “iyah bang dengan rombongan, tapi rombongan tinggalin kami dan kami kejar tapi ternyata nyasar. Apakah pos satu (Cigowong) masih jau? Tenang aje tatapan selouw saya dengan bahasa tubuh yang mengikuti, dengan tujuan mengurangi rasa panik mereka! Terus saya bertanya sama yang depan, tapi pandangan fokus yang di belakang kek kamerah Nikon ajeee (fotografi fotografer profesional) malah yang jawab pertanyaan tetap yang di depan, huhu nyasar pula dirinya dengan pandangan tanjam saya, katanye iyah bang smua barang bawaan kami di pos lima, karena ngekem disana, haaaa bushheheheet buangat, tidak kembali kalian sampai sejau ini? Sudah tau nyasar mala menyusahkan kawan mereka dengan barang bawaan dua manusia ini? Akhirnya mereka sambari nunjukan sungai kecil /air (Tirta) Cigowong) minum saja dulu kang, setelah tenang saya beritahu, ini pos satu kang, ini namanya sungai Cigowong, Nanti habis ini lurus ikuti saja papan-papan interpretasi di sepanjang jalan. Smoga tidak nyasar lagi. Selamat pagi...

Dari Cigowong pos 1, 1.450 m.dpl sampai Goa Walet pos 6, 2.945 m.dpl. terlihat dan lihat saja banyak jalur yang berubah dan masih bagus jalannya, pada hal info yang saya tau dari tempat loket hampir 500 pendaki/minggu dan tak perlu menyalahi siapapun. Karena jalur akan terlihat bedah mau itu pengunjung dengan jumlah banyak atau sedikitnya. Kalau lihat dari musim di bumi katulistiwa ini kan cuman dua musim saja, musim hujan dan musim kemarau, bedah dengan negri minyak (Arap Saudi) atau bumi bagian kutub utara pada umumnya yang punya beragam musimnya. Contohnye tergantung dari musim, toh juga negri Zamrud Khatulistiwa (indONEsia) kan dua musim saja, dari April hingga september masih musim kemarau, dan sisahnya musim hujan. kok pagi-pagi smua pendaki pada bilang bang hati-hati kabut yah, emang hujan juga kok aneh yeah. Lebih aneh lagi saya temui mereka para pendaki badan masi terbungkus dengan poco/jas hujan dan cepat-cepat langka mereka apa lagi menurun, sementara kontra dengan titik kordinat yang saya cari di peta antara 108° BT dan 7° LS.

Yah mungkin karena saya tidak jalan saja seperti mere yang berkelompok dan banyak menggunakan indra mulut (suara), sementara saya fokus dengan indra (mata,rasa dan telinga) cobah ente bayangkeun dari pos 3, Pangguyangan Badak 1.500 m.dpl km 4,5 sampai ke Pasanggrahan dua pos 5/6 2.450 m.dpl, km 1,6 apa lagi tanjakan asoy mampslah saya. Di sanah terjadilah kesalahan biasa dianggap remeh tapi fatal dan mungkin bagi orang awam saja tidak munkin melakukan hal yang konyol tersebut meurut mereka. Sekalipun mereka hidup berdasarkan hukum tradisi atau bergantung pada alam. Dan ini bukan masalah pelit atau apa tapi itu adalah etika yang falit bagi pendaki, yah dari pada so tau intinya, saya melihat dua bocha yang kehabisan logistik minum dari puncak, nah di sana saya main indra belas kasiahan buka provesional, akhirnya yah sudah ini air saya dua botol, satu buat kalian the sama satu tanggo tak apa, pada hal itu posisinya pertengahan pos 3 ke pos dua, kan toh juga dekat hampir pos 1. Tapi juga namanya pake indra perasa kalau di perkotaan mereka bilang bawa perasaan (baper) tapi bedah baper di kota sama di hutan, aslihnya lagi kontra dengan batin 96% saya harus provesional, tapi orang barang saya punya, saya masih punya satu lagi dan saya masih bisa cari apa lagi terlihat dua bocha SMA, duanya wanita pula! Mungkin entah penghuni tngc yang menghantui saya siang terang itu. Saya  juga tidak punya kuasa untuk menahan diri sayanya. Namun menemukan bahan belajar, bagaimana harus cepat ambil keputusan. Tanpa harus pikir panjang sama saja menunggu orang biarkan sementara terancam dengan kondisi survaiveinya. Perdebatan perang batin dengan provesionalisme dan belas kasihan saya simpan sementara mereka masih didepan saya! Karena waktu tidak menunggu.

Teruskan berjalan melintasi medan yang menantang tanpa melupakan bidik dan catat tanpa gauli onak dan duri sahabat terbaik saya, karena melintasi jalur yang sudah tidak jau bedah dengan jalan tol mungkin rasanya kek jalan tol di Pan Amerika km 48.000, yang naik kendaraan sementara saya berjalan kira-kira km 21,8 (dari data yang di setiap pos/papan iterpretasi) berjalan sambil mencari yang tidak terlalu penting menurut wisatawan. Dan sebelum pos 5 ke 6, Pasangrahan km 1,3. Ketemu burung pas dulu diajak anak smkn1 waktu itu sebelum naik perna dengar cerita mistis. Katanye ada burung pembawa jalan, orang yang pertama naik pasti dia akan menuju puncak dan harus ikutin, tapi dulu saya perna nyasar entah dimana burung itu tidak muncul pas turun dari puncah kehujanan dan malam pula maklum burung itu mungkin lagi disarang entah dimana. Namun setelah nyasar berjalan sekitar km 200, saya melakukan teknik (“sating, thinking, observation, and planning”STOP) syukur the selamat juga tidak terlalu nyasar apa pagi dulu pertama naik jadi leader buka jalan sementara yang lain ada yang swibar ditengah dan ada juga maidel pas terakhir bangat biar komunikasi antar kelompok bisa efektif apa lagi jika nyasar karena komunikasi tiga orang ini saling handel jika kejadian kecepatan jalan atau ada yang ketinggalan smua di komunikasihkan. Dan benar burung itu perna lihat dan tidak asing lagi ketemu burung itu lagi, cuman bedahnya dulu dia terbang doang hinggap di pinngir pohon yang bawa dan menunggu sampai hampir dekat dan dia lanjut terbang lagi, serta dia jaga jarak kalau pas lagi kabut tidak kelihatan tapi bedahnya kali ini dia burungnya sudah berubah perilaku tentu saja karena ulah kita ataupun karena saking rame dan jadi terbiasa jinak pula burungnya. Pada hal dipohon terlihat flang “mohon jangan memberi satwa makan” buktinya? Yah mungkin burung pungut makanan sisa-sisa manusi, bisa jadi bukan? Sekalipun sedih juga tapi. Sambil tetap bidik ikuti langka dan sayap burung tersebut ketika dia cari makan berupa cacing dan semut saya tungguin dan sesudah jika ia terbang lagi atau jalan saya ikuti hampir km 15 pada jarak sebenarnya. Dan ketemu sekelompok pendaki lagi dan pas dekat camp pendakian dan burung tersebut terbang menuju ke kanan dan saya mengikuti. Eeh disana ada wortel limah buah, garam satu bungkus, tras back enam buah dan sepasang kaos tangan yang bedah warna, (warna hitam polos sama bergaris puti-ungu bacround/dominan ungu) Terkecut dengan burung membawa saya sampai barang yang memang saya butuh benaran, melihat benda-bendah itu taru tas duduk ambil napas dalam-dala dibawa mata kaki burung tersebut dan berdoa berterimah kasih sama Tuhan, burung itu ke pinggir pada ranting pohon dan memperhatikan gerak-gerik saya, ambil kamerah dan mengkopi gambar dirinya dia tenang-tenang saya, dan saya lanjutkan perjalanan lagi burung itu tetap tinggal disitu. Syukur akhirnya taru tas makan makan makanan rumah sebagian dan kantongi makanan tadi. Dah akhirnya sampai goa walet 2.945 m.dpl duduk sambil packinb basa dan penuhi stok air minum dan kembali lagi bekasnya tampung lagi buat yang lain.

Terus keatas lagi ketemu kelompok pendaki paling terakhir ada 5 orang dari bogor kata mereka, dan saya pun bilang dari Bogor, mereka lebih parah lagi dari dua wanita sebelumnya, sudah lima orang tapi tak punya persediaan air yang cukup buat mereka. Dan saya sudah banyak belajar dari pengalaman sebelumnya saya membantu orang burung menujukan barang yang saya butukan toh makan wortel juga banyak mengandung air, dan saya tidak lagi mikirin diri tapi mikir mereka dan tanpa pikir yang panjang lagi, kabut sudah dari arah utara menuju ke selatan bahkan kabut mengguling-guling kebawa kawa dan naik lagi, mungkin mereka ketakutan mereka bilang tidak ada siapapun diatas dan tawarin untuk turun lagi/? Aei mama sayang sudah dekat sekitar satu menit lagi puncak enak bangat omongan mereka wkwkw. Akhirnya saya bilang santai abang-abang saya bukan pendaki tapi petualang, jika kejadian seperti itu diatas bagi saya adalaha tantangan yang harus lewati bukan meninggalkan. Karena matahari akan muncul setelah dibalik kabut itu, dan itu yang saya kejarrr. Akhirnya mereka yang putusin pamit duluan kebawah saya lanjut sampai puncak terlihat mendung kira-kira dua jam lagi upacara sunrisenya mulai, naik berdoa sejenak rasa-rasa haru karena bisa sampai di puncak Puji Tuhan, tinggal bka baju kedua dan baju pertama/paling dalam kaos puti bekas baju Pertiwana Nasional IV, dengan tulisan dibelakang “pra pue 2019, 3.078 m.dpl” setelahnya yah sudah sambil fotoh-fotoh keliling kawa selama dua jam dan ketika hampir upacara sunrisenya kamera mati sudah bateraynya, mungkin keindahan alam yang alami di lihat dan menikmati juga harus alami dengan mata bukan jebretttt terus jadikan komersil di media soasial yang memang lagi treennya seperti zaman sekarang, yah sudah hamburkan garam diatas diantara batu batu di kawa bagian LS colik-colok wortel sama garam kek ngerujak beneren, terus packing lagi dan kembali ke titik semulah karena dari sana bisa terlihat dengan jelas beberapa orang kelompok pendaki lain smuanya pada bocha anak SMA kelas XI dan XII 6 orang cowo dan 1 orang cewe, saya lewat mereka tidak terlalu perhatiin ketika saya lewatin mereka dan buka baju jacket dan sepatu serta kaos tangan, taru diatas batu sandarin tas di sampingnya, tiduran lihatin matahari masuk sampai gelap.

Matahari sudah masuk sampai gelap di susuli bulan terang dan sekitar kawa tidak ada lagi kabut disana, astagaaaaa tidak habis pikir hanya diam walau semua badan jadi keram kedinginan, tapi meyakini diri, selama hembusan nafas tetap hangat berarti saya masih kuat dan terlihat lampu-lampu perumahan, jalanan di Kuningan, Ciamis, Majalengka, dan Cirebon terlihat indah pula. Bangun dan bersiap turun kenakan semua perlengkapan keluarin haet lamp taru di kepalah hanya saja tidak saya nyalakan, karena persediaan penerangan dari sang pencipta (bulan) masih terang dan prinsip Jungle Survival, tatap melekat selama masih bisa dengan kata lain selagi masih bisa andalin mata, bulan, bahkan vegetasi jalur terbuka jelas, jadi saya tidak perlu andalin senter dan susuli 7 orang bocha, karena saya pulang pergi keluarin tres back satu mulau pungut sampah-sampah pendaki yang terlihat di mata saya di sepanjang perjalanan, saya melaju dari jakur sebelah karena malam itu juga harus ke Bogor, ternyata mereka menahan dan memohon untuk turun bareng tuntun mereka, dan alasan klasik mereka adalah takut nyasarrr parahnya lagi mereka hanya andalin senter hp, akhirnya salaman sama mereka sembari kenalan dan saya buatkan pembagian tracknya, senter besar saya pinjemkan yang cewe dan tempatkan dia sebagai leader, agar para cowo ikutin langkanya, dan satu cowo dari mereka taru sebagai maidel dan satu lagu sebagai swibber dibelakang dan jelasin funsinya, dan saya berjalan sambil tetap pungut sampa di belakang swibber.

Sampai pertigaan goa walet tiga orang mengambil air, yah lumayan tiga botol yang sedang sementara tape ware saya kosong, tapi sellow masih punya wortel dan Cigowong sedang menunggu, akhirnya sampai pertigaan Apuy berpisa dengan mereka, bukannya pelit aslinya tetap saya pakai indra belas kasihan atas keterbatasan penerangan sama mereka sayangnya kedua senter adalah barang pinjaman, yah solusinya saya jujur sama mereka, tidak bisa saya pinjamin karena alasan pinjaman, saya pinjam di pinjemkan bae-bae masa barang tidak kembali lagi, lucu broo kepercayaan itu seperti mata uang yang berlaku dimana-mana. Jadi indra belas kasihan mengalah atas kepropesionalisme, sementara mereka menawarkan bang turun lewat apuy lah persediaan logistik masih banyak kok, cuman sayangnya belum bisa karena motor pinjaman tidak bisa ditinggal pula, akhirnya mereka memintah no hp, katanya mau ajak naik gede pangrango, akhirnya berpisah dan terus pungut sampah sampai di 7 (sanghayang ropoh, ke tiga pos tersebut terkumpul sampah tissue yang mendominasi hampir setengah dari tras back, itupun yang terlihat sama mata saya dan yang di sepanjang kiri-kanan, belum saya tengok lima langka ke dalam, pasti bekas wanita dari tissue basa sampai kering banyak bauangat tha, dan ide cemerlang mulai muncul dan berharap masih pa Idin yang masih kepala balai, eeh ternyata sudah ganti dan tidak ada lagi di loketnya.

Mengapa berniat bertemu kepala balai? Karena mau memberikan saran berdasarkan kesimpulan dari sampah tissue dan kaitakan dengan hutan dan masalah konservasi. Karena isu global skarang itu kalau baca ngeri bangat tha, tidak perlu jau-jau contoh saja gimana sih kalau hutan di tngc digundulin buat produksi tissue? Dengan mengurangi sampah tissue di kawasan perlu penegasan berupa (aturan, perlindungan dan kebijakan) yang trasparan agar lancar pemasaran potensi wisata alam yang dengan ciri khas seperti bunga adeuweis dls, sayangnya tidak ketemu kepala balai, penjaga loket tidak punya kontak kepala balai pula, alasannya konyol benaran, pada hal awalnya beliau yang bertugas malam mengira saya orang baru di Kuningan, eh tanya pa Idin, pa Marioto, pa Lukman, dia bilang maaf saya orang baru disini wkwk, lebih gillelele lagi alasan berikutnya. Yah percaya tidak percaya tapi inilah kenyataan pemasaran potensi wisata tanpa berkemas baik, apa lagi wisata alam seperti tngc, yang ada hanya kita yang mengambil manfaat tapi tidak melindungi, entah kekurangan personel? Humm lebih tolol lagi alasaanya, namanya Taman Nasional itu termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masa tidak punya duit? Devisa negara dari tahun ke tahun sejak 2004 dari sektor pariwisata selalu meningkat statistiknya. Pemudah masih banyak yang pengangguran. Tidak perlulah berurusan dengan barang yang dianggap reme karena sudah tradisi atau dalam zona nyaman, yoouweiss banyak cara membelah suarah rakyat kecil itu tidak harus dengan selalu beradu argumen, apa lagi demo sama pemerintah. Bersyukurnya saya masih mudah masih punya waktu entah kapan bisa ketemu pa Idin dkk, masalah pengelolaan kawannya terapin ilmu kampus mimpi hidup rupanya karena khayalan di sepanjang perjalanan dengan penuh kesalan memikul sampa tissue!

ketemu pendaki yang lagi anjak ada yang ngekem sampai pertengaha pos 2 kuta ke pos 1 cigowong, pas pertigaan jalan jalan lama yang jadi jalur evakuasi, terlihat pohon pisang, yang segar skali banyak pulah airnya, cuman pas naik bekas jalur lama tak ada pisang kok aneh bisa ada pohon pisang tadi tidak terlihat yah, (batin) lanjut lagi kebawah dan  kehausan parah akhirnya terbaring di tengah jalan, lampus senter matikan mengheningkan diri, sekitar dua menit, buka kaos tangan biar tangan kenah angin danrasakan kesegaran anginnya cukup menyembuhkan rasa haus, syukur tha akhirnya lanjut lagi perjalanan.

Akhirnya sampai di cigowong setengah tape ware terminum, karena kondisi malam dari puncak sampai pos satu banyak bersentuhan badan, tangan dan lainnya sama alam, dan energi ketarik sama alam dan kelelahan yang melelahkan, belum baca entah teori siapa, tapi itu pengalaman saya, bisa sajalah karna memang bedah pengalaman, kecuali kek tongkat jadi penuntun jalan dia akan menyatuh dengan kita jadi tidak terlalu banyak menarik energi, bedah dengan bersentuhan dengan barang/bendah yang tersentuh dan beragam pulah, masalahnya bukan karena beragam, tapi semakin banyak bersentuhan ibarat kita cabut rumput pasti capek karena namanya kerja kita keluarkan energi dan itu sudah pasti/mutlak tidak bisa diganggugugat lagi, dan di alam atau prinsip seorang survaivel benar-benar menghargai semua sumberdaya dan tidak perna punya niat boros energi apapun jenisnya.

Banyak pendaki temui dijalan dari pos dua kebawa adalah yang hendak mendaki, sementa dari pos enam adalah yang hendak pulang atau ngekem lagi, sesampainya di kawasan zona pemanfaatan vegetasi pinus dan kaliadra terbuka, sekalipun bulan yang tadi terlihat terang bangat di puncak sudah terbungkus awan, namun mata saya masih bisa melihat jalur pendakiaanya dan banyak pula pendaki yang naik,dan bukan iseng atau apa, tapi niat hemat senter sekalipun sudah hampir tibah di palutungan. Cuman tetap prinsip survivor itu berlaku dimana saja dan kapan saja. Astaga jadinya bikin pendaki yang jadi ketakutan sekalipun mereka melihat dan yang lain diam, yang lain senterin, dan yang lain lagi bilang apa senter anda mati? Selain itu juga memancing ada tidak sih jiwa pendaki yang bisa membantu yang lain seperti saya di puncak, tanpa memikirkan resiko, jika ada yang pekah bararti bagus mu ngkin saya chek lish akan dia pendaki provesional dan dari sekian banyaknya ternyata yang saya jumpa dalah pada bocha semua pendaki pemula, kick zaman now, kegunung hanya mau fotoh doang cari spot fotoh yang bagus posting fotohnya di medsos itu doang tanpa memperhatikan kebersihan lingkungan, buktinya lintasan 3 pos lebih banyak sampah tissue, secara mental, fisik belum terbentuk hanya saya akui mereka adalah yang tidak punya nyali seperti saya yang bikin kawan korban atau sebaliknya.

Sampai gerbang pendakian ketemu pak Sutrisno salah satu satf pengelolah jasa traveler bagi wisatawan singkat cerita beliau kesanah kekebun bawan snaiper cari kelelawar di kebun yang habisin pisang, dikasih 3 buah seger bener dan lanjut menympan bawa barang bawaan menuju loket lapor kembali, dikasih dua kertas dikira semua tiket makan saya masih kenyang dengan buah, kertas tadi lipat-lipat taru dalam jok motor kecil didepan hehe, sampai sekolah mau buang di tempat masalah, eee ternyata kertas tadi adalah sebuah sertifikat pendakian.         

Tamat.,.,.,.,.

Post a Comment for "Cerita Perjalanan ke Gunung Ciremai 3.078 Mdpl"