KONSERVASI dalam PRAMUKA
![]() |
| Photo Imam Prawira. Indramayu 2016 |
Tiba-tiba kemaren Sa pengen pake baju Pramuka, maksudnya bukan baju PDH, tapi entah PDL atau kaos lain yang ada tulisan atau gambar yang mencirihkan Pramukanya. Sekalian ganti profil WA yang pake baju Pramuka. Di hari yang sama, Sa ketemu dengan salah satu orang hebat, beliau salah satu Pakar Konservasi Indonesia. Beliau juga pensiunan dosen Kehutanan IPB. Siapa kha dia? Dia adalah Prof. Hadi S Alikodra. Jadi atas kejadian dua hal tersebut, Sa mau kaitin sedikit pengetahuan Pramuka dan Konservasi.
Gampangnya, kegiatan Pramuka selalu indetik di alam terbuka, hal tesebut membentuk mental Kaka-Kaka Pramua menjadi dua bagian karakter (menurut saya). Yang pertama kita dituntutu untuk belajar dari kenyataan dengan atau secara sigap, tepat, kalau bisa sebanyak mungkin tapi beragam; Yang kedua kita lebih banyak bekerja, dari pada berbicara.
Tapi sebenarnya kalau kita tinjau lagi, dari berbagai macam bentuk kepramukaan dari berbagai golongan. Kepramukaan itu sebenarnya sangat fleksible dan kreatif, tidak sekaku aturan uu 45 "misalkan" gini simpelnya, tata cara upcara, bentuk upcara khan banyak itu, dan tidak selalu di alam terbuka dan harus kemah, harus ada api ungun dan harus tiga hari atau jusami (Jumat, Sabtu dan Minggu) dan lain-lain. Tidak sekaku itu, upacara bisa dalam ruangan, api ungun bisa digantikan lilin, posisi petugas dan kegiatan (protokoler dan protokol) atau jumlah petugas bisa sesuaikan dengan bentuk kegiatan dan juga tempat. Itu artinya sangat-sangat fleksible dan juga karena perkembangan baik teknologi, zaman dan termasuk Covid-19 yang baru-baru ini.
Dari sebagian kegiatan kepramukaan di atas, saya rasa nanti kita bisa menemukan kegiatan yang bersangkutan dengan Konservasi. Kaka-Kaka Pramu pasti omongin soal alam/lingkungan, yang mereka ingat ada Dasa Darma kedua, dari sini aksinya bisa kelihatan mulai dari cara berpakaian, tidak semua tapi, hanya sebagian. Karena atribut Pramuka ada yang salah gunakan, ada juga yang tidak, hal paling sederhana nya adalah soal sampah, sampah habis kegiatan, pasti dibersihkan, bekas galian ditutpin dll. kebiasaan tersebut istilahnya dengan Alam bawa sadar, kata (Alam bawa sadar) mengartikan; "setiap insan yang hidupnya selaras dengan lingkungan". Yang sudah melekat pada insan Pramuka, yang kemudian sangkutannya dengan kata tadi itu pada abad kedua sebenarnya sudah disinggung oleh para sufi Yunani.
Saya pernah merasa, kalo kegiatan Pramuka di alam bebas, tentu meninggalkan jejak yang jadinya berubah kondisi sebelum dan sesudah, itu pasti, Namun omongin Konservasi....
Semua yang tersedia di sekitar kita bukan untuk bahan simpanan atau pujaan, yang paling penting sumberdaya yang tersedia di sekitar boleh kita pakai seperlunya, tapi tidak merusak dan kalau bisa memikirkan kondisi atau hidup dari ekologi sekitarnya, keberlangsungan hidupnya beberapa tahun yang akan datang, kalau bisa yah terus-menerus (sustinamble) dan secara tidak langsung hal-hal kecil seperti ini dilakukan Kaka-Kaka Pramuka yang sudah menjadi kebiasaan.
Salah satu bentuk, kalau kegiatan kepramukaan di dalam kegiatan Konservasi juga berlangsung bersamaan, katakan saja satuan karya pramuka yang berdasarkan atau dasar terbentuknya sebagai satuan karya pramuka Saka Wanabakti yang pernah ditetapkan dengan keputusan Kwartir Nasiona (Kwarnas) Gerakan Pramuka, No. 134 Tahun 1983, tanggal 10 Desember 1983. Begitu juga satuan karya lain yang masih bersangkutan dengan lingkungan.
Yang buat saya bangga menjadi anak Pramuka, sebenarnya sederhana, maksudnya yang dilakukan keseharian saya bisa dilakukan semua orang, hanya membedahkan dengan bukan orang yang tidak berkesempatan seprti saya belajar pramuka adalah intinya ilmu pramuka itu untuk bertahan hidup (survival), memang semua orang bisa, tapi bedah caranya, cara yang saya punya itu pengetahuan yang dari Pramuka. dan kesempatan yang baik bisa ketemu, berfoto, dan tukaran kontk dgn salah satu pakar atau seorang konservasionis. Ini cerita, kegiatan konservasi yang sa cerita lewat Pramuka yang sangat sederhana.
Jadi apa yang dilakukan Kaka-Kaka Pramuka di salah satuan satuan karya tersebut, yang bergerak di bidang Kehutanan. Kalau saka meruapakan satuan terkecilnya dari Pramuka, satuan terkecilnya lagi dari saka adalah Krida, di Saka Wanabakti ada 4 Krida, yakni Bina Wana, Tata Wana, Gunana Wana dan Reksa Wana. dan seterusnya banyak TKK dari 3 krida yang banyaknya 26. Mungkin untuk koleksi tulisan atau arsip, tkk-tkk tersebut dari buka panduan saka wanabakti yang saya salinkan...
Krida Tata Wana (3 SKK) teridiri dari; SKK Perisalah Hutan, SKK Pengukuran dan Pemetaan Hutan dan SKK Penginderaan Jauh.
Krida Reksa Wana (13 SKK) , teridiri dari; SKK Keragaman Hayati, SKK Konservasi Kawasan, SKK Perlindungan Hutan, SKK Konservasi Jenis Satwa, SKK Konservasi Jenis Tumbuhan, SKK Pemanduan, SKK Penelusuran Gua, SKK Pendakian, SKK Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, SKK Pengamatan Satwa\SKK Penangkaran Satwa, SKK Pengendalian Perburuan dan SKK Pembudidayan Tumbuhan.
Kemudian dari Krida Bina Wana terdiri (7 SKK) terdiri dari; SKK Konservasi Tanah dan Air, SKK Perbenihan, SKK Pembibitan, SKK Penanaman dan Pemeliharaan, SKK Perlebahan, SKK Budidaya Jamur dan SKK Persuteraan Alam.
Serta dari Krida Guna Wana (6 SKK) teridiri dari; SKK Pengenalan Jenis Pohon, SKK Pencacahan Pohon, SKK Pengukuran Kayu, SKK Kerajinan Hutan Kayu, SKK Pengolahan Hasil Hutan dan SKK Penyulingan Minyak Astiri.
Jadi begitu lah, kalau omongin Pramuka, dikenalnya jarang mandi katanya, tapi memang di Pramuka, Saya tidak ketemu omongin konsep acara, ngomongin cuman sedikit. Khususnya kalau di saka wanabakti, juga saka-saka lain, tapi itu semua baik Krida dan SKK, isinya kegiatan konservasi....
Selamat hari jadi pramuka
22 Februari 2023
#ayomenulis

Sukses Bro
ReplyDeleteSiap. Sahabat 🙏✊
ReplyDelete