WRITING TO WRITING
![]() |
| Writing to writing. 2019-23 |
Begitu juga dengan Indonesia, negeri ini dengan berbagai kebijakan tanpa pengawasan. Salah satu diskusi tersebut 30% pada 2030
Salah satu perdebatan yang mendominasi diskusi nya. Karena usaha-usaha lain yang mengakibatkan mempersempit area konservasi atau hutan lindung, mungkin berbagai alasan yang menjadi senjata. Hal tersebut karena terkait dengan berapa banyak area darat dan laut yang akan dikhususkan bagi konservasi. Berdasarkan dokumen yang ada dan, jumlahnya sekitar 30% dari total luas masing-masing darat dan laut pada 2030 mendatang (dikenal dengan istilah 30x30).
2019. Pertengahan tepat pada bulan Juni, persamaan dengan tulisan tersebut kemudian akhir tahun pandemi menghantam. Aktivitas kampus menjadi pasif, kalau jalan-jalan ke kampus Saya berfikir dalam hati. Puji Tuhan... Pandemi membantu bumi, karena kurangnya aktivitas manusia di alam, ekosistem pulih kembali selama pandemi, khususnya Kampus IPB dengan kampus istilah Go Green Kampus 2020. Ada hal-hal yang menurut Saya bertentangan adalah, isu monyet atau kera yang familiar di kampus dan menjadi pembicaraan publik pada Rabu, 19 Mei 2021 "monyet menyerang mahasiswa". Pada 2020 ada mahasiswa juga mati tergigut Cobra. Kalau bisa dianalis mengapa ada monyet yang bisa berani menyerang manusia? Apakah ia terganggu, atau kekurangan pakan, atau habitatnya sedang diserbu manusia dan lain-lain penyebabnya. Waktu-waktu yang sama atau setelahnya begitu banyak pembangunan megah baik di kampus Drama dan di Kampus Cilibende sampai 2023 masih terus bangun.
Hal-hal lain taman-taman mulai banyak, menurutku taman terlalu banyak, sehingga menjadi (over kapasiti pada area taman oleh pengunjung luar) terhadap ruang gerak mahasiswa, dan lebih banyak kunjungan selain mahasiswa justru. Memang sebagai kampus dengan kekayaan biodiversity, tapi dampak banyak pembangunan beberapa habitat atau jenis endemik yang hilang baik flora dan fauna yang saya baca dari invennya teman-teman Himpunan Mahasiswa Konservasi Fakultas Kehutanan (HIMAKOVA-FAHUTAN), mulai dari kupu-kupu sampai beberapa satwa lainnya. Begitu juga dengan di Cilibende, menebang dua pohon Angsana yang udah ribuan tahun, tanpa ada upaya penghijauan atau menanam kembali.
Menurut Saya ada yang ganjil ini, lihat kutipan berikut dari konferensi PBB selanjutnya.... "Para perunding berdebat apakah pemenuhan target 30% harus berlaku bagi setiap negara, atau secara global. Jika berlaku bagi setiap negara, maka pemerintah memiliki kewajiban menyediakan 30% wilayahnya untuk kawasan konservasi. Sementara, jika target itu berlaku secara global, maka perlindungannya akan berfokus pada kawasan yang penting (seperti hutan hujan tropis), tapi tetap mewajibkan negara-negara pemilik kawasan alami yang luas (mayoritas di negara berkembang) untuk menanggung aksi konservasi lebih besar".
Lalu kita yang negara-negara yang lagi berkembang, apa hasilnya? Barangkali kita yang jadi korban. Maksudnya negara-negara maju untuk mencegah terjadinya penasan global, mereka membayar pada negara-negara tropis dan dana-dana mereka tersangkut di atas, bahkan pada lembaga swadaya masyarakat tertentu, kemudian mereka Sook Palawan ngomongin isu lingkungan dan mulut buaya dengan banyak asupan yang tidak seberapa, dorongan itu didorong ke masyarakat adat untuk menjaga hutan mereka... Baik kawasan darat dan laut seperti Greenpeace Indonesia dan organisasi lain.
Ini ibarat nya, anak kampung yang pergi rantau belajar di luar kampungnya, setelah ia pintar sedikit, pulang kampung dengan gagasan yang ia dapat, tapi pakai untuk menipu orang tua di kampung. Sio sayang, anak durhaka kata batin mama.
25 Februari, 2023
https://mulaiajadulumenulis.blogspot.com/2020/06/musim-salju-di-kampus-bs-ipb.html?m=1

Post a Comment for "WRITING TO WRITING"