Bakar Batu


Photo Pribadi. 2020

   
 Apa yang terlintas di benak anda yang diluar Pulau Papua (bukan oap), jika terdengar kata “bakar batu” atau barapen. Memang Papua bebrapa daerah punya kebiasaan berbedah seperti “pesisir, daratan, sampai pegunungan” kalau untuk bakar batu sendiri terdiri atas dua bagian yahkni dala rumah atau dapur (in door) dan ruang terbuka (out door). Bakar batu merupakan media untuk memasak, masak hasil bumi seperti ubi (hipere/sweet potatoes, keladi (hom/taro), sayurar (emeka/vegetable) dan lain-lain dengan sistem kukus tanpa air dari uap batu yang telah dipanaskan sebelumnya.

     Izin menjelaskan cara bakar batu yang terdiri dari bahan, alat, serta caranya. Khususnya barapen di ruang terbuka (out door), dan khusunya dari Suku Dani di Lemba Baliem, Papua.

 Bahan

1.    Bahan utama (dalam kolam): ubi, singkong, pisang, sayur-mayur, dan daging-dagingan (kalau ada/harus ada), karena tanpa daging barapen di ruang terbuka tidak mungkin, kecuali pembukaan panen hasil kebun. Atau acara – acara terkait adat tertentu yang memang tanpa daging.
2.    Bahan pendukung (dalam kolam): “alang-alang, daun kasar (daun pisang matang, daun jati dan seterusnya) sebagai pelapis batu panas. Dan  daun halus/mudah sebagai pelapis bahan makanan (daun pisang mudah, daun pakis muda, daun bungkus “yang tidak gatal-gatal/pahit”), serta tali rotan untuk melilit susunan masakan (dari luar),
3.     Bahan utama (bakar batu): Batu-batu pilihan
4.    Bahan pendukung (bakar batu): Kayu kering (ranting sampai batang sedang dan batang utama yang di belah-belah), patok/pondasi (kayu mentah atau batang utama yang ukurannya lebih besar),  dan dedaunan penutup batu saat sedang terbakar (paling atas).
 
 Alat

      Parang untuk membersihkan daerah masak atau pangkas-pangkas daun buat masak, (kalau tempat terbuka atau dalam hutan, sedangkan depan honai atau dekat rumah tidak perlu), sekop untuk menggali kolam, kampak untuk membelah kayu bakar, serta Penyepit yang berfungsi untuk memindahkan batu panas dari barah api ke dalam kolam, dan masih banyak lagi termasuk alat berburu, namun untuk sementara alat-alat 

 Langka 1. Bakar Batu

Bersihkan tempat yang akan buat miniatur (susunan kayu) dengan menggunakan parang, untuk membakar batu yang sudah dikumpulkan sebelumnya.

2.       Ukuran sesuaikan dengan kebutuhan (lebih dari satu kolam) susunan miniatur memanjang, jika satu atau dua kolam hanya dengan 1-3 m².

3.       Susun batu besara dan kecil di tanah, kenapa besar dan kecil? Agar memberi selah untuk O² (oksigen), agar nanti membantu api menyala, dan juga sebagai pondasi

4.       Menaruh batang di atas batu dengan searah sampai ke ujung (batas patok kayu mentah yang tertanjap di empat sudut, atau pinggir pastikan menaruh kayu yang besar, agar setelah terbakar dan kayu termakan api, batu jatu atau rubuh pada tempat yang sama, tanpa berhamburan keluar ruang pembakaran), atau pun susunannya tidak menyamping, melainkan ke atas) dan susun bagian atas lagi dengan memotong arah sebelumnya sperti tanda plus (+), susunan kayu harus selingi kecil dan besar, mengapa?

Agar penyalaan api mulai dari daun kering (serabut halus), ke ranting kecil, ranting sedang sampai seterusnya, agar penyalaan api terustruktur dan bertahan sehinnga nyalah api yang bertahan memanaskan batu maksimal.

5.       Susunan kayu jika sudah yakin, meletakan batu yang sudah disiapkan sebelumnya. Pemilihan calon batu yang akan di bakar harus cerdik karena jika kurang tepat akan membahayakan, contohnya batu tipis (batu bangunan) jika sudah maksimal panas akan picah dan melukai saat sedang proses memasak, jangan batu yang terlalu bulat juga karena licin dan saat proses pemindahan dari dalam api ke dalam kolam biasanya jatu dan bisa melukai yang lain, bahkan jangan batu yang bertanah, karena kalau tanah masih lengket dan hendak membersihkan biasanya spontan saja “meniup”, namun juga karena panas mulut tidak bisa dekat dengan batu dan usaha untuk hembuskan kotoran tersebus tidak masimal dan berefek ke bahan makanan. Dan batu yang bagus adalah batu yang beragam bentuknya kecuali bulat, ukuran juga harus beragam.

6.       Batu ditumpuk paling atas dan akan berbentuk kerucut seperti gunung, kemudian ditutup dengan dedaunan, mengapa?

Agar nyalah api tidak kemana-mana, karena percikan api jika di ruang terbuka akan membakar di sekitarnya, bedah dengan menutup dedaunan dari atas, karena nyalah api dan panasnya akan menghambat dari dedaunan tersebut ke bawah/dalam dan batu akan terapit dan menjadi panas yang maksimal dari dua sisi yang berbedah.

7.       Patokan batu telah maksimal panas akan terlihat dari “kayu telah habis terbakar oleh api, warna batu berubah menjadi putih bahkan merah, kualitas batu mudah picah akan terseleksih sendiri artinya; dengan panas yang maksimal kualitas batu yang kurang baik, yang sudah di jelaskan di atas akan terseleksi sendiri seperti picah atau hancur”.

 Langka 2, cara masak 

1.       Batu akan dipindahkan ke dalam kolam dengan menggunakan penyepit (terbuat dari kayu mentah) dengan ½ diameter kolamnya dan dengan ke dalaman juga kira-kira sesuaikan, biasanya sesuaikan dengan bahan yang akan masak dengan bentuk kerucut di dalam tanah, jika diameter ½ meter maka ke dalamannya di bagi dua dari diameter kolamnya, (diameter dari permukaan bukan dalam tanah).

2.       Susun alang-alang berkeliling dengan merata dan setiap ujung atau bagian akarnya akan betertemu di pusat dalam kolam dan ujung tali juga diselipkan bersama alang-alang tersebut, agar saat melilit susunan masaknya nanti ujunga sudah berada paling bawah susunan masak dan tidak mudah tercabut.

3.       Hamburhan dedauan kasar seperti daun jati, daun pisang. Karena batu yang akan di masukan sangat panas jadi dedaunan sebagai pembatas agar tidak hangus dan saat menutup masakan alang-alang akan tercabut atau terlepas dari pusat kolam.

4.       Memilih batu yang ukurannya besar paling bawah, dan susunannya mulai dari pusat kolam dan menyesuakaikan sampai ke tepian permukaan kolam, akan terlihat tetap kerucut karena batu tidak di tumpuk namun disusun rapi dan rata cerara diagonal “dari pusat kolam ke tepian/mulut kolam”.

5.       Hamburkan daun-daun lagi seperti sebelumnya dan di atas daun menaruh bahan makanan yang keras seperti keladi, ubi, singkong. Lalu hamburkan deaunan lagi kemudian disusul dengan batu lagi.

6.       Setelah batu di atas ubi, hamburkan lagi daun, ukuran daun tidak banyak (tipis) karena prinsipnya memsak manfaatkan uap saja (kukus tanpa air, walau pun dedaunan perlu di basahi dulu, agar tidak hangus oleh batu dan saat masak bisa menimbulkan api bahkan hangus masakannya), maka fungsi dau-daun tersebut sebagai pembatas dan penghambat terjadinya kehangusan dari batu panas ke bahan makanan. Bisa jadi konduktor alami, hanya saja bukan konduktor atau penyaluran aliran pada listrik atau gelombang bunyi seperti suara tertentu namun, dalam tradisi bakar batu “daun merupakan penyaluran panas dari batu ke bahan makanan”.

7.       Bagian sayur-mayur dan daging, paling atas dan bagian tengah atau sebelum tutup lagi dengan batu, sebagian batu akan di bungkus dengan daun secara acak atau jiqjak, fungsinya agar kulit dan tulang dari daging masak matang, tidak mentah maupun tidak hangus, (fungsi batu jiqjak agar penyaluran panas maksimal dan merata, sementara batu di bungkus agar tidak hangus bahan makanannya), kemudian ditutupi dengan daun lagi batu juga kalau masih ada, namun seperluhnya saja, jika banyak semakin masak akan merosot ke bawah dan bahan makanan akan hancur karena berat batu dari atas.

8.       Paling atas pastikan tidak ada lagi bahan makanan dan di atas batu tutup lagi dengan daun dan daun dari samping-samping juga pastikan tutup dengan rapat. Pastikan jangan ada udara yang masuk dari luar mau pun asap yang keluar dari samping ‘pasti keluar juga biasanya). Sedangkan kalau ada udara yang masuk dari luar, mendinginkan batu dan panas batu menjadi tidak masimal, kemudian berefek bahan makanan berwarna biru-hitam (mentah/kurang maksimal).

9.       Alang-alang yang wal masuk dalam kolam akan menjadi penutup masakan paling akhir, namun saat menutupnya pisahkan rotan atau tali panjang dari alang-alang, jika sudah tertutup rapat (dari pinggir luar bawah sampai atas) dan merata paling atas menaruh dengan pemberat seperti batu mentah, atau kayu.   

10.   Kemudian rotan atau tali panjang tersebut, melilit dari bawah sampai ke atas, agar masakan kalau sudah masak dan tidak merembes keluar namun tetap berada dalam posisinya, maka tali merupakan penabahan pengerat atau mempertahankan posisi masakan yang ada.

11.   Ukuran atau patokan matangnya masakan bisa dari, bahan makanan yang dimasak, jika yang masak adalah babi rusah satu ekor “missal”, maka bisa hampir satu jam dan sesuaikan yang lainnya. Untuk membongkar atau buka masakan carahnya sebaliknya dari saat masak.

 

Begitu saja dulu, Kalau ada pertanyaan sihlahkan bertanya

 

 

Bogor, 19 Mei 2020

Barapen (perpisahan kecil, warga Aspa dan Imapera)

Ikatan Mahasiswa Papua

Kota Bogor

4 comments for "Bakar Batu"